<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Dunia Kecil Tito</title>
	<atom:link href="http://duniakeciltito.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://duniakeciltito.wordpress.com</link>
	<description>Dunia baru tempat kita mempelajari banyak hal. Unique, Different, Extraordinary.</description>
	<lastBuildDate>Tue, 21 Feb 2012 09:39:31 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='duniakeciltito.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Dunia Kecil Tito</title>
		<link>http://duniakeciltito.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://duniakeciltito.wordpress.com/osd.xml" title="Dunia Kecil Tito" />
	<atom:link rel='hub' href='http://duniakeciltito.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>AfterMath</title>
		<link>http://duniakeciltito.wordpress.com/2012/02/21/aftermath/</link>
		<comments>http://duniakeciltito.wordpress.com/2012/02/21/aftermath/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 21 Feb 2012 09:39:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bagustito20</dc:creator>
				<category><![CDATA[GAY LITERATURE]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://duniakeciltito.wordpress.com/?p=93</guid>
		<description><![CDATA[Jika 1 + 1 =  2&#8230;.. Maka Aku + Kamu =  apa? &#8220;Lihat Ini!&#8221;. Wanita berambut keriting pendek itu kembali menyodorkan selembar kertas lusuh itu padaku. Kertas hasil ujian matematika yang -untuk kesekian kalinya- bernilai nol. Aku hanya menghela napas. Aku tahu. Aku sudah menduganya. Aku pasti akan kembali mendapat nilai nol dalam ujian matematika. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=duniakeciltito.wordpress.com&amp;blog=31697152&amp;post=93&amp;subd=duniakeciltito&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Jika 1 + 1 =  2&#8230;..</em></p>
<p><em>Maka Aku + Kamu =  apa?</em></p>
<p>&#8220;Lihat Ini!&#8221;.</p>
<p>Wanita berambut keriting pendek itu kembali menyodorkan selembar kertas lusuh itu padaku. Kertas hasil ujian matematika yang -untuk kesekian kalinya- bernilai nol. Aku hanya menghela napas. Aku tahu. Aku sudah menduganya. Aku pasti akan kembali mendapat nilai nol dalam ujian matematika. Aku memang tak pernah berjodoh dengan mata pelajaran itu. Menurutku, lebih baik menghapal seluruh nama astronot yang pernah menginjakkan kakinya ke bulan daripada harus menghapal rumus &#8211; rumus statistika yang menyebalkan itu.</p>
<p>&#8220;Ini sudah ke empat belas kalinya nilaimu jeblok. &#8221; Wanita itu kembali melayangkan tatapan maut padaku. &#8220;Mau sampai kapan lagi kau akan seperti ini. Sebentar lagi Ujian Nasional. Kalau nilai matematika mu tetap jeblok, Ibu tidak berani jamin kau akan bisa lulus dari sekolah ini.&#8221;</p>
<p>&#8220;Lantas apa yang harus saya lakukan Bu?&#8221; kuberanikan mengangkat muka, menatap mata Bu Wirda yang nyaris mata elang kelaparan. Guru matematika itu memang terkenal <em>killer</em> dan galak di sekolahku. Tapi sekuat mungkun aku harus bisa menghadapinya.</p>
<p>&#8220;Kurasa Ibu akan meminta seseorang untuk membantu mu, Ibu sudah cukup lelah menghadapimu.&#8221; Bu Wirda membuang nafas. Mencoba menawarkan solusi padaku yang memang siswa bodoh dalam matematika ini.</p>
<p>&#8220;Seseorang?, &#8220;aku mengernyit.</p>
<p>&#8220;Iya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Siapa?&#8221;</p>
<p>Belum sempat aku menanyakan perkataan yang lebih jauh lagi, tiba- tiba pintu ruang kantor diketuk seseorang. Seketika aku dan Bu Wirda menoleh ke arah pintu. Dan &#8230;.. Dia disana. Demi Tuhan dia disana.</p>
<p>&#8220;Bu Wirda memanggil saya?,&#8221;tanya seseorang yang tadi mengetuk pintu.</p>
<p>&#8220;Ya. Kemarilah Tian. Ibu ingin berbicara denganmu.&#8221;</p>
<p>Dia Tian. Ya. Namanya Tian. Sebenarnya tak ada yang istimewa darinya. Dia cuma cowok berkacamata yang dikenal sebagai kutu buku sekolah. Tubuhnya kurus, tinggi. Tampangnya standar. Tidak terlalu cakep. Tapi juga tidak jelek. Pada setiap hasil ujian <em>try out</em> atau semester, namanya selalu nangkring di posisi teratas. Ia memang jenius, tapi aku masih belum mengerti apa maksud Bu Wirda memanggilnya kesini.</p>
<p>&#8220;Nah Joe, dengarkan Ibu.&#8221; Bu Wirda memulai percakapan begitu Tian telah duduk disampingku. Sekarang di ruangan ini hanya ada aku, Bu Wirda, dan Tian. Guru- guru lain sedang mengajar di kelas masing- masing mungkin.</p>
<p>&#8220;Kau tentu tahu kan siapa Tian?&#8221;.</p>
<p>Aku hanya mengangguk pelan. &#8220;Ya, Bu.&#8221; Sementara kulihat Tian menunduk.</p>
<p>&#8220;Setelah ibu pikir- pikir, rasanya kau perlu belajar sesuatu darinya. Kau harus belajar bagaimana ia bisa mempertahankan prestasinya dalam mata pelajaran matematika. Dan kau juga harus belajar bagaimana memanfaatkan waktu dengan baik dengannya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Maksud Ibu?&#8221;. Tanyaku tak mengerti.</p>
<p>&#8220;Mulai sekarang, Tian akan memberimu pelajaran tambahan.&#8221;</p>
<p>&#8220;Apa?&#8221;</p>
<p>&#8220;Dia akan mengajarimu matematika setelah jam pelajaran sekolah usai. Kalian bebas belajar dimana saja.&#8221;</p>
<p>&#8220;Tapi Bu&#8230; Kenapa harus Tian?,&#8221;selaku.</p>
<p>&#8220;Karena memang hanya dia yang bisa.&#8221;</p>
<p>Aku membeku. Tak bisa berkata lebih jauh lagi. Bu Wirda telah melayangkan tatapan &#8216;<em>dilarang prote</em>s&#8217; nya.</p>
<p>&#8220;Nah Tian, kau bersedia kan memberi pelajaran tambahan pada Joe?&#8221;. Bu Wirda menoleh ke arah Tian yang masih saja menunduk. Entah apa yang ia sembunyikan dari wajahnya sehingga ia senang sekali menunduk.<br />
&#8220;Iya, Bu. Saya bersedia.&#8221; Tukasnya perlahan sembari mengangguk.</p>
<p>&#8220;Ya sudah. Kurasa, itu saja yang ingin Ibu katakan pada kalian berdua. Sekarang, kalian boleh kembali ke kels kalian masing- masing.&#8221;</p>
<p style="text-align:center;">***</p>
<p style="text-align:left;">Kurasa ini benar- benar mimpi buruk. Bagaimana tidak. Aku akan diberi pelajaran tambahan oleh Tian. Si cowok cupu yang pendiam dan nggak populer itu. Aku sudah membayangkan alangkah <em>boring</em> nya belajar pelajaran menyebalkan itu bersamanya. Pelajarannya saja sudah menyebalkan, apalagi kalau yang ngajarin si Tian?. Masih mending kalau aku diajari oleh orang lain. Aku bersedia. Asal jangan Tian. Dia yang pendiam itu pasti akan membuat pelajaran semakin menyiksa.</p>
<p style="text-align:left;">&#8220;Jadi&#8230; kapan kita mulai pelajaran tambahannya?&#8221;.</p>
<p style="text-align:left;">Suara lembut dan parau yang khas milik Tian itu membuyarkan lamunanku. Aku baru sadar kalau aku masih berada di samping Tian. Menyusuri lorong kelas yang lengang karena ini masih jam pelajaran. Ia masih saja menunduk kuyu dibalik kacamata minus dua nya. Aku mendengus. Mengacuhkannya.</p>
<p style="text-align:left;">&#8220;Terserah kau saja.&#8221; Jawabku santai sambil melenggang.</p>
<p style="text-align:left;">&#8220;Kalau kau keberatan, kau boleh minta diajari sama yang lain.&#8221;.</p>
<p style="text-align:left;">Ucapannya barusan berhasil menghentikan langkahku. Mau tak mau aku berbalik menatapnya. Melangkahkan kakiku mendekatinya.</p>
<p style="text-align:left;">&#8220;Kenapa kamu bilang gitu?&#8221;. Tanyaku tegas. Ia ketakutan.</p>
<p style="text-align:left;">&#8220;Ya&#8230;. sepertinya kau keberatan  dengan ide Bu Wirda.&#8221;</p>
<p style="text-align:left;">&#8220;Aku malas kalau harus meminta orang lain lagi mengajariku. Belum tentu juga mereka mau mengajariku.&#8221; Kataku ketus sambil kembli berjalan melangkahkan kakiku. Berharap segera sampai ke kelasku dan terlepas dari siksaan ini. Ya. Berlama- lama dengan cowok macam Tian adalah siksaan terberat yang pernah aku alami.</p>
<p style="text-align:left;">&#8220;Tapi&#8230;&#8221;</p>
<p style="text-align:left;">&#8220;Sudahlah&#8230;&#8221; Potongku. &#8220;Kalau kau terus saja bicara, aku akan memukulmu.&#8221;</p>
<p style="text-align:left;">Dan Tian pun seketik diam mendengar ancamanku. Padahal aku tak serius ingin benar-benar memukulnya. Tapi sepertinya gertakanku berhasil.</p>
<p style="text-align:left;">&#8220;Ya.. Ya udah&#8230; kalau kamu sudah siap buat belajar tambahan, kamu bisa hubungi aku.&#8221; Setengah bergetar Tian menyerahkan selembar kertas berisi nomor ponselnya padaku dan bergegas pergi menuju kelasnya. Ia ketakutan.</p>
<p style="text-align:left;">&#8220;Dasar cowok aneh.&#8221; Gerutuku dalam hati sambil melenggang ke arah kelasku.</p>
<p style="text-align:center;">***</p>
<p style="text-align:left;">&#8220;Jadi yang bakal ngajarin lo pelajaran tambahan si Tian? Hahahahaha!&#8221;.</p>
<p style="text-align:left;">Teriakan kencang itu terdengar dari mulut Dennys -sahabatku. Membuat perhatian seluruh anak- anak yang lagi pada gendon di kantin sekolah tertuju kepada kami.</p>
<p style="text-align:left;">&#8220;Lo bisa ngomong pelan- pelan gak sih.&#8221; Kusenggol lengan Dennys agar dia berhenti menertawakanku. Dia hanya mengaduh. Aku tak perduli. Apa yang barusan dilakukannya bisa aja membuat aku mendadak tenar. Seorang Joe. Idola sekolah yang banyak digandrungi cewek- cewek itu harus diajarin matematika sama Tian, si cupu yang sama sekali gak diperhatiin di sekolah ini. Bahkan kalau ditanyakan, hampir delapan puluh persen anak- anak pasti tak tahu siapa itu Tian. Bisa &#8211; bisa berita itu akan muncul jadi <em>headline</em> koran sekolah besok.</p>
<p style="text-align:left;">&#8220;Hahahah.. sori sori&#8230;.&#8221; Dennys meneguk segelas es jeruk di depannya. Ia nyaris tersedaka gara- gara ketawa sambil makan ketoprak.</p>
<p style="text-align:left;">&#8220;Lo pikir cukup pake sori doang?&#8221;. Aku mendengus sinis.</p>
<p style="text-align:left;">&#8220;Hahahah&#8230; abisnya lo lucu sih. Apes banget idup lo. Masa lo musti belajar  tambahan sama cowok cupu, aneh, kuno dan gak populer kayak si Tian sih? Emangnya gak ada siswa lain yang lebih jenius ya? hahahah.&#8221;</p>
<p style="text-align:left;">Aku hanya melirik sinis pada Dennys.</p>
<p style="text-align:left;">&#8220;Kalaupun bisa, gue juga udah minta yang lain buat ngajarin gue.&#8221;</p>
<p style="text-align:left;">&#8220;Trus kenapa gak bisa?&#8221;</p>
<p style="text-align:left;">&#8220;Ini keputusan Bu Wirda, dan gue bakal mampus kalau berani menentang keputusannya.&#8221;</p>
<p style="text-align:left;"><em>&#8220;WELL</em>&#8230;. mungkin emang nasib lo hahaha&#8230;. joe&#8230; Joe&#8230;&#8221; Dennys kian kencang menertawakanku. Aku hanya bisa diam tersipu.</p>
<p style="text-align:left;">Mungkin benar kata Dennys. Aku memang apes. Aku nggak punya pilihan lain, aku harus mau menjalani pelajaran tambahan matematika dengan Tian. Ya. Aku tidak punya pilihan lain. Aku tak mau kalau harus tidak lulus Ujian Nasional. Aku sudah capai dengan semuanya. Aku tak akan pernah rela kalau aku harus mengulang lagi hari- hari menyebalkan di sekolah ini. Aku tak mau.</p>
<p style="text-align:left;">Maka dengan sangat terpaksa, kukeluarkan ponselku. Mengetik sebuah sms dan kukirimkan pada nomor Tian yang kemarin diberikannya.</p>
<p style="text-align:left;"><em>To        ;Tian</em></p>
<p style="text-align:left;"><em>Time  ; 11.23</em></p>
<p style="text-align:left;"><em>Sepertinya sepulang sekolah nanti, elo udah boleh ngajarin gue. Kita ketemuan di perpustakaan saja ya. Joe.</em></p>
<p style="text-align:center;">***</p>
<p style="text-align:left;">Teng! Teng Teng!</p>
<p style="text-align:left;">Bel pulang sekolah berbunyi diikuti sengan suara teriakan bahagia anak- anak kelasku. Ya, inilah saat- saat yang mereka nantikan. Seperti halnya mereka, aku segera memunguti peralatan sekolahku dan bergegas pulang setelah guru terakhir melangkahkan kaki keluar dari kelas. Aku ingin segera pulang. Tapi begitu sampai di depan kelas aku berhenti. Aku baru ingat kalau aku ada jadwal pelajaran tambahan dengan Tian. Maka dengan segera, kulangkahkan kakiku menuju perpustakaan sekolah yang sudah lengang. Hanya terlihat beberapa petugas perpustakaan yang masih berjaga- jaga. Mereka nampak membereskan beberapa buku kedalam rak pajang yang berukuran lumayan besar.</p>
<p style="text-align:left;">Tapi aku tak menemukan Tian. Sialan. Umpatku. Apa dia lupa dengan tugasnya memberiku pelajaran tambahan?. Bisa- bisa aku akan menghajarnya kalau dia tak segera muncul. Aku tak mau pulang terlalu sore hari ini.</p>
<p style="text-align:left;">Namun baru saja aku selesai mengumpat, dia muncul dengan berlari setengah tergesa. Tas ranselnya yang besar bergerak seirama langkah kakinya yang lemah. Nafasnya tersengal. Beberapa keringat nampak menetes di dahinya. Membasahi kacamata tebalnya. Ia mendekat kearahku dengan wajah penuh penyesalan.</p>
<p style="text-align:left;">&#8220;Anu,&#8230;.. ma.. maafkan aku&#8230; sedikit terlambat, lagi- lagi aku dikerjain sama Rey dan kawan- kawannya.&#8221; Jelasnya dengan nafas tersengal.</p>
<p style="text-align:left;">&#8220;Rey?&#8221;</p>
<p style="text-align:left;">&#8220;Anak kelas 3 IPS 1 .&#8221;</p>
<p style="text-align:left;">&#8220;Oh&#8230;&#8221; Aku mengangguk paham.</p>
<p style="text-align:left;">&#8220;Jadi, bisa kita mulai sekarang pelajaran tambahannya?&#8221; tanpa basa- basi kuseret tubuh kurus Tian kedalam perpustakaan sebelum ia sempat berucap lebih jauh lagi. Hanya buang- buang waktu.</p>
<p style="text-align:center;">***</p>
<p style="text-align:left;">Dan kami berdua pun akhirnya duduk disini. Di bangku perpustakaan yang dingin. Ditemani buku- buku usang yang tak kuketahui umurnya. Kami diselimuti kekakuan. Aneh. Aku tak pernah membayangkan akan duduk berdua dengan nya. Seperti ini, Sumpah, aku tak pernah membayangkannya sedikitpun. Duduk berdua dengan cowok teraneh di sekolah sembari memegang buku diktat yang tebal. Benar- benar mimpi uruk di tengah hari.</p>
<p style="text-align:left;">&#8220;Jadi, bisa kita mulai sekarang elajarnya?.&#8221; Sekali lagi suara parau Tian membuyarkan lamunanku. Seketika aku berbalik padanya. Dan nampaklah mata kuyu yang tertutup kacamata minus yang tebal. Menatapku dengan bosan. Aku terkesiap.</p>
<p style="text-align:left;">&#8220;Eh.. bi&#8230; bisa&#8230;&#8221; Aku gelagapan. Entah kenapa aku jadi salah tingkah karena ketahuan memperhatikannya.</p>
<p style="text-align:left;">&#8220;Kamu kenapa sih?&#8221;.</p>
<p style="text-align:left;">&#8220;Eh, nggak.. nggak papa kog&#8230; ayo kita mulai saja.&#8221;</p>
<p style="text-align:left;">Aku segera mengeluarkan buku diktat matematika dari tas ranselku. Mencoba mengalihkan perhatiannya.</p>
<p style="text-align:left;">&#8220;Ya sudah&#8230;&#8221; Balasnya sebari mengeluarkan bukunya juga.</p>
<p style="text-align:left;">Aku menghempaskan napas lega.</p>
<p style="text-align:left;">&#8220;Jadi materi mana yang kamu belum paham?&#8221;. Tian mulai membolak- balikkan halaman bukunya. Sementara aku terus saja memperhatikan nya. Entah kenapa aku penasaran dengan matanya. Mata kuyu yang tersembunyi dibalik kacamata tebal itu. Aneh. Mendadak saja aku jadi merasa nyaman menatapnya. Mata itu. Ya. Mata itu memang nampak kuyu. Lemah. Tetapi dibalik itu. Ada sebuah cahaya berpendar. <em>Amazing.</em> Indah.</p>
<p style="text-align:left;">&#8220;Kamu denger gak sih?&#8221;.</p>
<p style="text-align:left;">Aku terlonjak. Seketika menatap Tian yang nampak jengkel dengan kelakuanku. Ia mendengus sebal. Aku pun menciut. Segera mengalihkan pandangan ku ke buku diktat lusuh di depanku.</p>
<p style="text-align:left;">&#8220;I..iya denger kog&#8230;&#8230;&#8221; jawabku kaku. Salah tingkah.</p>
<p style="text-align:left;">&#8220;Materi mana yang kamu belum paham.&#8221; Tian mengulang pertanyaannya.</p>
<p style="text-align:left;">&#8220;I.. ini&#8230; tentang peluang sama Phytagoras.&#8221; ujarku sembari menunjuk beberapa halaman pada diktat.</p>
<p style="text-align:left;">&#8220;Ini?&#8221;. Jawab Tian  balas menunjuk halaman.</p>
<p style="text-align:left;">Aku hanya mengangguk. &#8220;Iya. Tolong kamu jelasin sekal lagi ya? Aku pusin sama penjelasan Bu Wirda kemarin&#8221;.</p>
<p style="text-align:left;">&#8220;Baiklah.&#8221; Ia menghela napas panjang. &#8220;Aku akan jelaskan, tolong kau dengarkan baik-baik, jangan melamun.&#8221;</p>
<p style="text-align:left;">&#8220;Iya.&#8221;</p>
<p style="text-align:center;">***</p>
<p style="text-align:left;">Dan iapun mulai menjelaskan tentang rumus- rumus menyebalkan yang selama ini tak pernah kumengerti. Aku tak tahu apa yang ia jelaskan. Mendadak saja mataku terpaku menatap kelopak yang tersembunyi dibalik kacamata minus itu. Entah kenapa mata kuyu itu menumbuhkan semacam rasa simpati di otakku. Mata itu tampak lemah. Aku bisa membaca galau yang berpendar didalamnya. Mendadak saja otakku hilang kesadaran. Aku hilang konsentrasi. Aku ingin tahu ada apa dibalik mata itu. Aku tahu begitu banyak rahasia yang tersimpan dibalik mata itu. Rahasia tentang Tian. Dan kehidupannya.</p>
<p style="text-align:left;">&#8220;Tian&#8230;&#8230;&#8221;</p>
<p style="text-align:left;">Kataku tiba- tiba. Seketika Tian yang sedari tadi sibuk menjelaskan rumus- rumus Phytagoras itu berbalik kearahku. Alis kanannya terangkat.</p>
<p style="text-align:left;">&#8220;Ada apa?&#8221;, tanyanya datar.</p>
<p style="text-align:left;">&#8220;Bisakah kita istirahat sebentar? Kurasa aku agak pusing dengan penjelasanmu.&#8221;</p>
<p style="text-align:left;">&#8220;Kau tak mendengarkan aku sedari tadi.&#8221;</p>
<p style="text-align:left;">&#8220;Bu.. bukan begitu&#8230;. Aku mendengarkan.. tapi&#8230;&#8230;&#8221;</p>
<p style="text-align:left;">&#8220;Tapi apa?&#8221; Tian menutup buku diktatnya dengan sebal.</p>
<p style="text-align:left;">&#8220;Aku hanya ingin sedikit bertanya padamu.&#8221;</p>
<p style="text-align:left;">Aku menelan ludah. Apa yang aku pikirkan. Bagaimana mungkin aku menanyakan tentag kehidupan Tian? Ini gila. Tian akan berpikir bahwa aku gila jika aku menanyakan tentang rahasia dibalik mata minusnya.</p>
<p style="text-align:left;">&#8220;Kau mau tanya apa?&#8221;. Tian kian beringas menatapku. Tatapannya dipenuhi rasa penasaran yang amat sangat. Aku sudah terjerat. Aku tak mungkin berkelit lagi.</p>
<p style="text-align:left;">&#8220;Bu&#8230; bukan apa-apa?&#8221;</p>
<p style="text-align:left;">&#8220;Apa?&#8221;</p>
<p style="text-align:left;">&#8220;Aku ingin tahu tentang dirimu.&#8221;</p>
<p style="text-align:left;">UPs. Bodoh. Aku keceplosan. Aku benar- benar bodoh. Bagaimana bisa aku mengucapkan kata yangs edemikian aneh padanya. Padahal tak seorangpun di sekolah ini kenal dan ingin mengenalnya. Tapi aku. Joe. Cowok populer dis ekolah ini tiba- tiba saja mengucapakan kata- kata kalau ingin mengenalnya . Ini benar- benar tak bisa dinalar. Kurasa aku sudah gila. <em>Schysophrenia</em>. Atau apalah.</p>
<p style="text-align:left;">&#8220;Apa maksudmu dengan &#8216;<em>ingin tahu tentang diriku&#8217;</em>, jangan macam- macam kau.&#8221;</p>
<p style="text-align:left;">Tukas Tian dengan tatapan tajam menusuk jantung. Aku tercekat. Aku tak bisa bernafas. Entah apa yang akan dilakukan Tian. Aku sudah pasrah. Kalau ia akan menamparku. Aku siap. Ini memang salahku.</p>
<p style="text-align:left;">&#8220;Bu.. bukan, aku tak punya maksud apa- apa adamu, aku hanya&#8230; hanya&#8230;. aku hanya ingin tahu rahasiamu saja.?&#8221; Aku gelagapan.</p>
<p style="text-align:left;">&#8220;Rahasia?&#8221;</p>
<p style="text-align:left;">&#8220;Tentang matamu yang kuyu dan tentang kau yang selalu diam. Padahal kau pintar, tapi kenapa kau tak suka terlihat seperti yang lainnya?&#8221;.</p>
<p style="text-align:left;">Tanpa kusadari kata- kata itu meluncur begitu saja dari mulutku. Tapi setidaknya aku lega. Meskipun nantinya aku akan dibilang lancang atau apa oleh Tian, tapi aku siap dengan segala konsekuensinya.</p>
<p style="text-align:left;">Dan seperti yang kukira, Tian mulai menampakkan muka nya yang mulai memerah. Aku tahu ia tersinggung. Tapi aku tak bisa berbuat apa- apa. Aku sudah terlanjur mengucapkan kata- kata bodoh itu.</p>
<p style="text-align:left;">&#8220;Memangnya kenapa kalau aku tak ingin nampak seperti yang lainnya? Apa kau keberatan? Apa itu masalah buatmu?&#8221;.</p>
<p style="text-align:left;">&#8220;Bu&#8230; bukan begitu&#8230;&#8221; Aku celingukan. Tak tahu harus bicara apa.</p>
<p style="text-align:left;">&#8220;Lantas kenapa?&#8221;</p>
<p style="text-align:left;">&#8220;A&#8230; Aku hanya ingin tahu alasannya saja. Lihatlah dirimu. Kau jenius. Kau juga selalu masuk tiga besar dalam setiap ujian Sekolah&#8230;. Tapi kenapa kau selalu menutupi dirimu hingga tak ada seorangpun di sekolah ini yang mngenalmu?&#8221;. Cerocosku berusaha menghalau Tian yang mulai mendekatiku dengan amarah.</p>
<p style="text-align:left;">&#8220;Kau tak tahu Joe&#8230;&#8230;&#8221; mendadak saja Tian berhenti tepat dihadapanku. Matanya berkaca- kaca. Pipinya sembab. Mukanya memerah. &#8220;Kau tak tahu Joe&#8230;&#8230;.&#8221;</p>
<p style="text-align:left;">Aku yang masih duduk di bangku perpustakaan itu hanya diam menatapnya yang kian kencang menangis. Untung saja semua petugas perpus sudah pulang, jadi tak ada yang mendengar tangisan Tian.</p>
<p style="text-align:left;">&#8220;Maka dari itu aku ingin mengetahuinya Tian&#8230;&#8221; Aku mendekatinya, memeluk tubuhnya yang kurus dan lemah. Berharap bis asedikit menghapuskan kegalauan di hatinya. &#8220;Ceritakan lah saja padaku. Percayalah. Kita teman bukan. Aku pasti akan membantumu sebisaku.&#8221;</p>
<p style="text-align:left;">Dan Tian pun kian terisak dalam pelukanku. Aku kian erat merengkuhnya. Dan Tian pun mulai bercerita.</p>
<p style="text-align:center;">***</p>
<p>&#8220;Jadi apa yang  kau coba sembunyikan dari kami semua?&#8221; kuberanikan diri menatap matanya yang sembab dan beriurai air mata. Kurengkuh bahunya. Mencoba meyakinkan bahwa aku pasti akan membantunya. Ya. Aku sudah berjanji.</p>
<p>Sejenak kulihat Tian melepaskan pelukanku. Disekanya air mata yang masih mengaliri lekukan wajahnya yang halus. Ia tertegun. Seperti diliputi berjuta keraguan untuk mengungkap rahasia besar dalam hidupnya.</p>
<p>&#8220;Aku takkan membocorkan pada anak- anak. Percayalah.&#8221; Kugenggam erat tangan kirinya. Mencoba meyakinkannya sekali lagi. Entah kenapa aku jadi merasa nyaman memegang tangannya. Belum pernah aku merasakan tangan cowok sehalus ini. Aku seperti enggan menjauhkan tanganku dari tangannya. Mungkin aku gila. Mungkin aku <em>Schysofrenia</em>. Tapi aku menikmati  setiap inci persentuhan dengannya.</p>
<p>&#8220;Kuharap kau tak membenciku setelah kai tahu siapa diriku,&#8221; ujar Tian seraya memakai kembali kacamatanya.</p>
<p>&#8220;Memangnya kenapa aku harus membencimu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Karena kau&#8230;&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Karena apa?&#8221;</p>
<p>&#8220;Karena aku Gay, Homoseksual.&#8221;</p>
<p>Seketika aku melepaskan genggaman tanganku di tangannya. Aku shock bukan kepalang mendengar pengakuannya. Tidak. Ini tidak mungkin. Aku mungkin salah dengar.</p>
<p>&#8220;Kau bercanda kan?&#8221; ujarku setengah tertawa. Tapi Tian malah semakin mempertajam tatapannya padaku. Aku rikuh. Salah tingkah, dan seakan ditelanjangi olehnya.</p>
<p>&#8220;Sudah kuduga reaksimu akan begitu.&#8221;</p>
<p><em>&#8220;What?&#8221;</em></p>
<p>&#8220;Aku sudah menduga kalau kau akan seperti itu setelah mendengar pengakuanku. Aku tahu kalau orang- orang sepertiku tak pernah mendapatkan tempat dimata kalian yang menyebut diri kalian &#8216;normal&#8217; .&#8221;</p>
<p>Kulihat raut mukanya kembali meredup. Ada kegalauan yang kembali merangsek  kedalam hatinya. Menggedor- gedor nalurinya dan mencabik- cabik keteguhannya.</p>
<p>&#8220;Tapi aku tak pernah punya pilihan, Joe. Orang- orang sepertiku tak pernah diberi kebebasan untuk memilih!&#8221;</p>
<p>Tian kian terisak. Aku jadi malu sendiri. Apa yang harus kulakukan. Apakah aku hanya akan menatapnya yang sedang down itu. Apakah aku hanya akan diam. Aku benar- benar tak punya pilihan. Jika aku diam, aku hanya akan jadi lelaki picik yang tak bisa berbuat apa- apa. Tapi jika aku berjalan satu langkah saja, maka aku tak tahu apa yang akan terjadi padaku. Sebab aku yakin, jika aku luruh dalam pelukannya, aku takkan pernah bisa lagi berkelit darinya sedetikpun.</p>
<p>&#8220;Tenanglah, Tian&#8230;. jangan kau kira dunia ini terlalau sempit untuk menerima orang- orang sepertimu&#8230; kau salah Tian&#8230; kau salah&#8230;&#8230;&#8230;.&#8221;</p>
<p>Dan tanpa kusadari aku telah jatuh dan ambruk dalam peluknya.</p>
<p style="text-align:center;">***</p>
<p>Dan semenjak hari itu, aku tak pernah lagi melihat Tian. Seperti ditelan bumi, ia tiba- tiba saja menghilang. Aku tak pernah berhasil menemuinya sepulang sekolah. Dan ia tak pernah datang setiap kali aku menunggunya di perpustakaan untuk belajar tambahan. Ia seperti menghindariku. Entah kenapa. Tapi kusadari aku merindukannya. Benar- benar merindukannya. Aku rindu pada pancaran mata sayu dibalik kacamata minus yang tebal itu.  Dan aku juga rindu pada kulitnya yang halus bak sutera itu.</p>
<p>Mungkin aku sudah gila. Entahlah. Bayangan wajahnya seakan teleh menyelusup pada setiap membran sel otakku. Membuatku tak bisa berkelit. Kucoba untuk bertanya pada teman- temannya, tapi tak seorangpun tahu dimana Tian berada.</p>
<p style="text-align:center;">***</p>
<p>&#8220;Horeeeeeeeeee!!!!!&#8221;</p>
<p>Terdengar teriakan bahagia anak- anak yang berkumpul di depan papan hasil Ujian Nasional yang terpajang di halaman sekolah. Ya. Tanpa terasa aku telah melewati Ujian Nasional yang selama ini sangat kutakuti itu.  Dan aku masih saja  belum menemukannya. Menemukan Tian.  Ia masih saja belum mau menampakkan dirinya di hadapanku.</p>
<p>&#8220;Joe! Joe! Lihat hasil UN yuk!&#8221; Dennys menarik- narik tanganku dengan menggebu. Maka akupun melangkahkan kakiku mengikutinya mendekati papan pengumuman.</p>
<p>&#8220;Liat Joe! Liat Joe! Gua lulus! Gua Lulus!!!!!!!! Eh&#8230; Liat juga nih&#8230; Loe juga lulus&#8230; hebat!!!&#8221;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sudah pasti. Aku tak kaget. Aku memang tak heran kalau aku lulus. Semenjak Tian tak menampakkan dirinya, aku sudah bertekat. Aku pasti lulus. Aku akan membuktikan nya pada Tian bahwa aku juga bisa lulus Ujian yang katanya nightmare itu. Dan sekarang aku telah membuktikannya. Aku bahkan masuk lima belas besar. Bayangkan, aku yang dulu selalu jadi pecundang kini masuk lima belas besar.</p>
<p>Dan tiba- tiba saja mataku tertuju pada papan hasil ujian itu. Mataku terpaku pada nama  yang terpampang pada urutan teratas hasil Uian itu. Ya. Seperti biasa, nama itu terpampang disana. Septian Augustaf. Ah, mendadak saja aku merindukannya.</p>
<p style="text-align:center;">***</p>
<p>&#8220;Eh, Eh, tau nggak si Tian yang nangkring di posisi teratas Ujian Nasional itu meninggal setelah hasil Ujian keluar lho.&#8221;</p>
<p>Terdengar suara bisik- bisik dari cewek- cewek gosip yang bergerombol di belakangku.</p>
<p>&#8220;Iya! katanya dia ngerjain soal Ujian di ranjang rumah sakit lho. Dia ngotot pengen ikut ujian nasional meskipun penyakit jantungnya sudah amat sangat parah.&#8221;</p>
<p>&#8220;Benar! Dan kabarnya dia menghembuskan nafas terakhirnya sesaat setelah menerima amplop dari sekolah yang isinya hasil ujian.&#8221;</p>
<p>DEG. Mendadak saja badanku lemas. Mataku berkunang. Jantungku  berdegup amat kencang. Benarkah apa yang barusan kudengar. Benarkah bahwa selain ia gay, ia juga menyembunyikan penyakit jantung dariku. Kenapa. Kenapa ia tetap saja berahasia padaku. Padahal aku sudah berjanji u ntuk membantunya.</p>
<p>&#8220;Jadi lo yang namanya Joe?&#8221;</p>
<p>Seorang cowok berkacamata dengan seragam sekolah rapi berdiri tepat dihadapanku.</p>
<p>&#8220;Iya, gue Joe, lo0 siapa?&#8221;</p>
<p>&#8220;Gue Rey, 3 IPS 1.&#8221; Gue hanya pengen ngasih ini ke lo.&#8221;</p>
<p>Cowok itu menyerahkan selembar kertas warna krem yang dilipat kecil padaku. Setengah mengernyit kuraih kertas itu darinya.</p>
<p>&#8220;Apa ini?&#8221; tanyaku.</p>
<p>&#8220;Aku tak tahu, tapi bacalah, kau akan mengerti tentang Tian.&#8221;</p>
<p>Cowok itu segera beranjak pergi begitu selesai menyerahkan kertas berlipat itu padaku. Sesaat kupandangi kertas krem itu. Kemudian kubuka dan kudapati tulisan rapi Tian di kertas itu.</p>
<p style="text-align:center;"><em>Joe,</em></p>
<p style="text-align:center;"><em>Selama ini aku terus bertanya. </em></p>
<p style="text-align:center;"><em>Dan aku hanya bisa bertanya pada diriku sendiri.</em></p>
<p style="text-align:center;"><em>Selama ini aku tak pernah mendapatkan jawaban.</em></p>
<p style="text-align:center;"><em>Aku memang Jenius, itu katamu.</em></p>
<p style="text-align:center;"><em>Dan aku memang tahu jika 1+1= 2.</em></p>
<p style="text-align:center;"><em>Tapi aku tak pernah tahu&#8230;.</em></p>
<p style="text-align:center;"><em>Bahwa,  Aku+ kamu = apa</em>?</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/duniakeciltito.wordpress.com/93/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/duniakeciltito.wordpress.com/93/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/duniakeciltito.wordpress.com/93/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/duniakeciltito.wordpress.com/93/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/duniakeciltito.wordpress.com/93/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/duniakeciltito.wordpress.com/93/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/duniakeciltito.wordpress.com/93/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/duniakeciltito.wordpress.com/93/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/duniakeciltito.wordpress.com/93/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/duniakeciltito.wordpress.com/93/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/duniakeciltito.wordpress.com/93/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/duniakeciltito.wordpress.com/93/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/duniakeciltito.wordpress.com/93/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/duniakeciltito.wordpress.com/93/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=duniakeciltito.wordpress.com&amp;blog=31697152&amp;post=93&amp;subd=duniakeciltito&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://duniakeciltito.wordpress.com/2012/02/21/aftermath/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e2aafea6a70a86db7cbe62af6500729b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">bagustito20</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>ME, HIM, &amp; LADY GAGA [14]</title>
		<link>http://duniakeciltito.wordpress.com/2012/02/15/me-him-lady-gaga-14/</link>
		<comments>http://duniakeciltito.wordpress.com/2012/02/15/me-him-lady-gaga-14/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 15 Feb 2012 05:21:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bagustito20</dc:creator>
				<category><![CDATA[GAY LITERATURE]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://duniakeciltito.wordpress.com/?p=116</guid>
		<description><![CDATA[DUA PULUH EMPAT YOU ARE DIE, DINO! &#8220;&#8220;Heii Tito&#8230; Hei Juna&#8230; I&#8217;m so sorry yaaa&#8230;&#8230;. kami berdua telat, tau gak tadi di seputaran Sudirman macet amirrrrr&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.&#8221; Aku mengangkat wajahku keatas. Kearah sumber suara. Dan nampaklah Dino yang, oh, my god susah banget ngejelasin dandanannya. Sementara Bimo-seperti biasa- cuma nyengir berdiri di samping Dino. I think [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=duniakeciltito.wordpress.com&amp;blog=31697152&amp;post=116&amp;subd=duniakeciltito&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:right;"><strong>DUA PULUH EMPAT</strong><br />
<strong> YOU ARE DIE, DINO!</strong></p>
<p style="text-align:right;">
<p style="text-align:left;">
&#8220;<em>&#8220;Heii</em> Tito&#8230; <em>Hei</em> Juna&#8230; <em>I&#8217;m so sorry</em> yaaa&#8230;&#8230;. kami berdua telat, tau gak tadi di seputaran Sudirman macet amirrrrr&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.&#8221;</p>
<p>Aku mengangkat wajahku keatas. Kearah sumber suara. Dan nampaklah Dino yang, <em>oh, my god</em> susah banget ngejelasin dandanannya. Sementara Bimo-seperti biasa- cuma nyengir berdiri di samping Dino.</p>
<p><em>I think the nightmare would not end soon</em></p>
<p>Maka dengan muka seratus persen bete aku terpaksa menjawab sapaan Dino.</p>
<p>&#8220;Hei juga Din, Bim, lama amat sih&#8230;..&#8221;</p>
<p>&#8220;Yaelah Titoo&#8230; kan tadi gue bilang kalau Sudirman macet amirr&#8230; ah nggak cucok deh&#8230;..&#8221; cerocos Dino sambil menggeliat- geliat mirip ulat bulu. Aku bergidik.</p>
<p>&#8220;Gak perduli, yang pasti elo udah telat dan musti dapet hukuman,&#8221; selaku. Bodo. Skali- kali aku pengen ngerjain Dino.</p>
<p>&#8220;Hukuman?&#8221; jawab Dino, Bimo, dan gak ketinggalan Juna, dengan serempak.</p>
<p>&#8220;Iya, elo musti&#8230;&#8230;&#8221; aku setengah memikirkan hal yang cukup untuk mengerjai Dino. &#8220;Elo musti mesenin dan ngebayarin <em>ice blended mocca</em> kita- kita, liat nih punyaku abissss&#8230;..&#8221;</p>
<p>Dino mengernyit sambil berkacak pinggang. Tampangnya meremehkan.</p>
<p>&#8220;Cuma gitu?&#8221;. Celosnya dengan nada menghina.</p>
<p>&#8220;IYepp.&#8221;</p>
<p>&#8220;Itu mah gampang.&#8221; Dino menjentikkan jarinya dan berbalik pada seorang pelayan yang kebetulan lewat.</p>
<p>&#8220;Mas&#8230; mas&#8230; mas&#8230; sini deh&#8230;&#8221; Dino mengibas- ngibaskan tangannya,. Persis kayak lagi ngusir nyamuk.</p>
<p>&#8220;Iya Mas.. ada yang bisa saya bantu?&#8221;, tanya mas- mas pelayan dengan sopan dan senyum menawan.</p>
<p>&#8220;Aku pesan <em>Ice blended mocca</em> nya tiga yah&#8230; cepet, gak pakai lama&#8230;.&#8221;</p>
<p>&#8221;Cuma tiga?&#8221;, tanya mas mas lagi.</p>
<p>&#8220;Iya&#8230; cuma tiga..&#8221;</p>
<p>&#8220;Masnya gak minum?&#8221;</p>
<p>&#8220;Gak&#8230; aku lagi diet.&#8221;</p>
<p>&#8220;Yaudah&#8230; tunggu sebentar ya?&#8221; jawab mas- mas itu dengan ekspressi keki plus jijik. Mas- mas itu segera pergi menuju pantri untuk membuatkan pesanan kami.</p>
<p>&#8220;Enought, gue udah nebus keterlambatan gue.&#8221; Dino menoleeh ke arahku sembari melemparkan senyum iblis.</p>
<p>Aku cuma diem. Gak tau musti ngapain lagi. Sialan.</p>
<p style="text-align:center;">***</p>
<p>Beberapa saat kemudian, hanya ada kebekuan diantara kami berempat. Nggak ada satupun dari kami yang berinisiatif untuk memulai percakapan. Hais males. Daripada ngedengerin si Dino nyerocos dengan bahasa planetnya, mending aku dan Juna diem aja. Hanya sesekali Bimo ngelirik dan menggodaku dengan mengedip- ngedipkan matanya. Namun aku hanya membalasnya dengan tatapan judes. Berharap dia mengakhiri godaannya sebelum aku lempar dengan sepatu.</p>
<p>&#8220;Permisiiii&#8230;. tiga <em>Ice blended mocca</em> dataaaanggg&#8230;.&#8221; si Mas- mas yang tadi datang sambil membawa nampan berisi tiga gelas minuman pesanan kami.</p>
<p>&#8220;Makasih ya Mas&#8230; jadi berapa semuanya?&#8221; Dino berlagak juragan bertanya kepada si Mas- mas.</p>
<p>&#8220;Sama yang tadi?&#8221;</p>
<p>&#8220;Iya sama yang tadi&#8230; kalau perlu sekalian minimarket ini&#8230;.&#8221; tambah Dino sotoy.</p>
<p>&#8220;Yah gitu aja marah masnya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Iya udah jadi berapa?&#8221;</p>
<p>&#8220;Semuanya&#8230;.&#8221; si mas nampak mengeluarkan bon minuman dari sakunya. &#8220;Semuanya dua seratus lima puluh delapan ribu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Nih&#8230; ambil aja kembaliannya.&#8221; Dino menyodorkan beberapa lembar uang pada si pelayan.</p>
<p>&#8220;Terima kasih.&#8221; Si Mas mas langsung pergi begitu menerima uang. Mungkin dia nggak betah berlama- lama di tempat yang ada aliennya seperti Dino, ahahahahy.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p style="text-align:center;">***</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&#8220;<em>Exuces me, can i join with you four?&#8221;.</em></p>
<p>Tiba- tiba saja sebuah suara khas yang sepertinya akrab di telingaku menyapa kami berempat. Tanpa banyak ba-bi-bu lagi aku langsung mengalihkan pandangan dari segelas Ice blended mocca kearah sumber suara itu. Dan aku terkaget bukan kepalang. Serius. Ini bener- bener terkaget tingkat naudzubillah. Aku bukannya ngeliat alien atau mahluk lain yang aneh. Tapi&#8230;&#8230;. AKU NGELIHAT JONAH berdiri dihadapan kami berempat dengan dandanan <em>super cool</em> yang nampak modis, <em>fashionable</em> dan&#8230; apa lagi ya kata- kata yang pas. Pokoknya super duper keren deh.</p>
<p style="text-align:center;">
***</p>
<p><em>YOU ARE DIE!</em><br />
<em> YOU ARE DIE!</em></p>
<p>Nggak tau bawaannya aku pengen neriakin kata- kata itu ke Dino begitu ngelihat Jonah berdiri di hadapan kami. Rupanya Jonah datang di saat yang tepat untuk membongkar semua kebejatan dan akal busuk Dino. Aku dan Juna nampak tersenyum penuh kemenangan. Sementara Dino. Kulihat dia agak mengernyitkan keningnya. Dan Bimo? Ah males aha ngomongin dia.</p>
<p><em>&#8220;Of Course you can join with us.&#8221;</em> Balas Juna dengan senyum mengembang.</p>
<p>Tanpa basa- basi lagi Jonah langsung menarik kursi yang tersisa di meja kami. Kebetulan meja yang kami duduki memiliki lima kursi, jadi ya pas kalau Jonah datang.</p>
<p>&#8220;<em>W&#8230;Wait&#8230; waitt&#8230; Who are you? We dont know you, why you wanna join with us?</em>&#8220;. Tiba- tiba aja Dino menyergah Jonah yang nyaris menjatuhkan pantatnya pada kursi. Nampaknya dia mulai mencium hawa- hawa balas dendam.</p>
<p>&#8220;Biarin aja napa Dino&#8230; itung- itung kita belajar<em> conversation</em> sama bule.&#8221; Jtambah Juna yang makin bersemangat setelah melihat tampang Dino yang mulai pucat pasi.</p>
<p>&#8220;Iya Dino&#8230; jarang- jarang kan kita sekursi sama bule gini&#8230;. heheh&#8221; tambahku memojokkan.</p>
<p>&#8220;Tapi&#8230;. tapi&#8230;&#8221; Dino kian belingsatan.</p>
<p>&#8216;Udahlah sayang.. biarin aja, mereka <em>fine- fine</em> aja kog.&#8221;Bimo yang sedari tadi diam akhirnya angkat bicara juga. Bagus. Rencana akan sangat dengan mudah di jalankan.</p>
<p>&#8220;<em>So&#8230; what is your name</em>?&#8221;. Aku memulai percakapan.</p>
<p>&#8220;<em>Just call me</em> Jonah.&#8221; jawab Jonah berakting.</p>
<p>&#8220;<em>OOhh.. cool name.</em>&#8230;&#8221; imbuhku.</p>
<p>Aku melirik Dino. Ia sudah tamoak pucat dan memonyong- monyongkan bibirnya. Aku tertawa dalam hatI. MAMPUS LU.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p style="text-align:center;">***</p>
<p>&#8220;Emmm&#8230; <em>sorry,</em> kayaknya aku mesti ke toilet sebentar deh&#8230;.&#8221;</p>
<p>Dino bangkit dari kursinya. Ceritanya sih mau kabur.</p>
<p>&#8220;Yaelah Dino, gak asik ah, orang lagi ngobrol ini.&#8221; cegahku.</p>
<p>&#8220;Iya Dino ini&#8230; gak sopan ah.&#8221; Tambah Bimo. Bagus.</p>
<p>&#8220;Emmm&#8230; abis gimana dong&#8230; udah kebelettt nihhh&#8230;..&#8221;</p>
<p>&#8220;Kebelet apa mau KABURRR???&#8221;. Tiba- tiba Jonah yang sedari tadi nampak keren dengan aksen britishnya, ngomong dengan bahasa Indonesia yang gak medok sama sekali.</p>
<p>Otomatis Dino yang sedari tadi pucat langsung terperenjat.</p>
<p>&#8220;JADI SELAMA INI ELO BISA NGOMONG BAHASA INDONESIA??????&#8221; Dino setengah berteriak. Dia keceplosan.</p>
<p>&#8220;Selama ini???&#8221;, ujarku dan Juna bersamaan.</p>
<p>&#8220;Ehhh&#8230;&#8230;????&#8221; Dino mulai kebingungan.</p>
<p>&#8220;Elo kenal sama nih bule?&#8221; aku mulai memojokkan Dino semakin dalam.</p>
<p>&#8220;Eh&#8230; anu&#8230;.. enggak kogg&#8230; anu&#8230;&#8221; Dino kian salah tingkah.</p>
<p>&#8220;UDAHLAH NGAKU AJA&#8230;&#8230;.&#8221;</p>
<p>&#8220;Eh&#8230;&#8230;?&#8221;</p>
<p>&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;<br />
&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.<br />
&#8220;SEBENARNYA APA MAKSUD INI SEMUA DINO?&#8221;</p>
<p>Aku, Dino beserta Juna otomatis terkaget mendengar suara itu. Ya. Bimo yang sedari tadi cuma diem aja sekarang berdiri dan menatap tajam kearah Dino. Ia nampak geram. &#8220;BISA KAMU JELASKAN SEMUANYA?&#8221;</p>
<p>&#8220;Eh&#8230; Bimo&#8230; anu&#8230;. ni kesalahpahaman sayang&#8230; plis dengerin penjelasanku dulu&#8230;&#8230;&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;APA LAGI YANG MAU KAMU JELASKAN?&#8221;</p>
<p>&#8216;Semuanya&#8230;&#8230;..plisss&#8230;..&#8221;</p>
<p>&#8220;KALAU GITU JELASKAN SIAPA BULE INI?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ehhhh&#8230;&#8230;&#8230;.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ayo jelaskan&#8230;..&#8221;</p>
<p>&#8220;Dia&#8230;. dia bukan siapa- siapa kog&#8230;&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;BUKAN SIAPA- SIAPA YA?&#8221;. Jonah perlahan mulai mendekati Dino yang gugup. Tanpa risih ia langsung memeluk tubuh Dino dari belakang. Dengan mesra dia mungendus- endus leher Dino sambil berucap mesra.</p>
<p>&#8220;BUKANKAH DULU KITA PERNAH MENGALAMI MASA- MASA INDAH? WAKTU KAU MENYEWAKU UNTUK JADI PACAR SEWAANMU&#8230;&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Pacar sewaan?&#8221;, teriak Bimo tak mengerti.</p>
<p>&#8220;Iya&#8230; Kau tak tau ya??? kasian sekali.&#8221; Jonah melirik kerah Bimo.</p>
<p>&#8220;Bukan.. bukan begitu sayang&#8230;.&#8221; Dino yang masih tenggelam dalam dekapan Jonah berusaha menjelaskan.</p>
<p>&#8220;APA PERLU AKU PERLIHATKAN SESUATU?&#8221;</p>
<p>Begitu selesai mengucapkan kata itu, Jonah langsung melepaskan pelukannya. Ia langsung kembali duduk dan kursi dan mengeluarkan sesuatu dari tas yang tadi dibawanya. Ia mengeluarkan sebuah Ipad tab. Sebentar diutak- atiknya Ipad itu, dan kemudian diletakkannya pada meja dengan posisi berdiri. Sehingga nmpak seperti televisi berlayar tipis.</p>
<p>&#8220;Apa ini?&#8221; Bimo kian tidak mengerti.</p>
<p>Lantas perlahan layar Ipad itu mulai menayangkan foto-foto dalam mode display. Perlahan demi perlahan muncul foto- foto mesra antara Jonah dan Dino. Aku tak tahu kapan foto itu diambil. Aku juga tak tahu apakah itu foto betulan atau tidak. Yang pasti aku kagum dengan profesionalitas Jonah. Ia sampai sedetil ini menyiapakan rencana.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p style="text-align:center;">***</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&#8220;CUKUP! CUKUP! INI SEMUA SUDAH CUKUP!&#8221;</p>
<p>Tiba- tiba terdengar teriakan Bimo memecah keheningan.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/duniakeciltito.wordpress.com/116/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/duniakeciltito.wordpress.com/116/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/duniakeciltito.wordpress.com/116/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/duniakeciltito.wordpress.com/116/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/duniakeciltito.wordpress.com/116/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/duniakeciltito.wordpress.com/116/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/duniakeciltito.wordpress.com/116/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/duniakeciltito.wordpress.com/116/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/duniakeciltito.wordpress.com/116/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/duniakeciltito.wordpress.com/116/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/duniakeciltito.wordpress.com/116/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/duniakeciltito.wordpress.com/116/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/duniakeciltito.wordpress.com/116/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/duniakeciltito.wordpress.com/116/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=duniakeciltito.wordpress.com&amp;blog=31697152&amp;post=116&amp;subd=duniakeciltito&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://duniakeciltito.wordpress.com/2012/02/15/me-him-lady-gaga-14/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e2aafea6a70a86db7cbe62af6500729b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">bagustito20</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>ME, HIM &amp; LADY GAGA [13]</title>
		<link>http://duniakeciltito.wordpress.com/2012/02/10/me-him-lady-gaga-13/</link>
		<comments>http://duniakeciltito.wordpress.com/2012/02/10/me-him-lady-gaga-13/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 10 Feb 2012 16:29:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bagustito20</dc:creator>
				<category><![CDATA[GAY LITERATURE]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://duniakeciltito.wordpress.com/?p=110</guid>
		<description><![CDATA[DUA PULUH TIGA JONAH&#8217;S SHOW TIME Don&#8217;t be scared I&#8217;ve done this before Show me your teeth Don&#8217;t want no money (want your money) That shit&#8217;s is ugly Just want your sex (want your sex) Take a bit of my bad girl meat (bad girl meat) Take a bite my me Show me your teeth [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=duniakeciltito.wordpress.com&amp;blog=31697152&amp;post=110&amp;subd=duniakeciltito&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:right;"><strong>DUA PULUH TIGA</strong><br />
<strong> JONAH&#8217;S SHOW TIME</strong></p>
<p><em>Don&#8217;t be scared</em><br />
<em> I&#8217;ve done this before</em><br />
<em> Show me your teeth</em><br />
<em> Don&#8217;t want no money (want your money)</em></p>
<p><em>That shit&#8217;s is ugly</em><br />
<em> Just want your sex (want your sex)</em><br />
<em> Take a bit of my bad girl meat (bad girl meat)</em><br />
<em> Take a bite my me</em><br />
<em> Show me your teeth</em><br />
<em> Let me see your mean</em></p>
<p><em>Got no direction (no direction)</em><br />
<em> I need direction</em><br />
<em> Just got my vamp (got my vamp)</em></p>
<p><em>Take a bite of my bad girl meat (bad girl meat)</em><br />
<em> Take a bit of me boy</em><br />
<em> Show me your teeth</em><br />
<em> The truth is sexy</em></p>
<p><em>Handphone</em> ku terus saja berdering sedari tadi. Aku yang lagi menekuri buku tugas matematika langsung bangkit dari kasur dan meraih <em>handpone</em> yang tergeletak di meja belajar. Tanpa basa- basi lagi segera kulihat nama penelepon yang tertera di layar ponsel, dari Bimo. Aku merengut. Tumben. Padahal semenjak dia jalan sama Dino dia seolah sudah lupa kepadaku. Ia bahkan selalu menghindar jika aku ajak ke kantin atau ke perpusbareng. Semenjak jalan sama Dino dia jadi nyebelin. Tapi ada apa gerangan dia tiba- tiba nelepon aku.</p>
<p>&#8220;Halo.&#8221; Sapaku.</p>
<p>&#8220;Hei Tit, lagi ngapain nih?.&#8221; Jawab Bimo dari kejauhan.</p>
<p>&#8220;Lagi ngerjain tugas statistika yang dikasih sama Bu Winda. Kenapa? Tumben lo mau nelepon gue, biasanya juga sms gw gak pernah dibales.&#8221;</p>
<p>Aku sewot sambil berjalan melangkah mengambil sebotol air mineral di meja dekat kasurku dan meminumnya.</p>
<p>&#8220;Hahahah&#8230;. ya justru itu gue sekarang nelpon elo. Gue baru nyadar kalo udah lama banget gak ngobrol sama elo, rasanya aneh juga tau. Gue minta maaf deh kalo akhir- akhir ini gue jadi lebih sering merhatiin Din daripada elo. Padahal gue gak sengaja lo, cuma gara- gara Dino nya aja yang terlalu manja sama gue. Heheheh.&#8221;</p>
<p>Sumpah. Ngedenger kata- kata Bimo barusan rasanya aku pengen muntah. <em>Heloooo</em>. Buat apa sih kamu masih aja suka sama itu ulat bulu. Jelas kelas dia orangnya kayak gitu. Ih nyebelinnnn. Aku menjerit dalam hati.</p>
<p>&#8220;Ya udahlah Bim. <em>Slow</em> aja. Aku ngerasa biasa aja kog.&#8221; Tapi malah kata itu yang aku ucapkan. Sabar Tito&#8230;. Sabar.</p>
<p>&#8220;Heee&#8230; makasih banget ya&#8230;.. kirain elonya marah&#8230;. Bener-bener deh, elo sahabat terbaik yang pernah gue miliki.&#8221;</p>
<p><em>preeettt&#8230;&#8230;..</em></p>
<p>&#8220;Eh, omong-omong, gimana kabar si Juna? &#8221; Sambung Bimo.</p>
<p>&#8220;Dia baik- baik aja. Lagi sibuk ngelarin tugas kuliah sama bantu- bantu usaha kue kering mamanya.&#8221; jawabku sekenanya.</p>
<p>&#8220;Hemm bagus deh. Kalian fine- fine aja kan?&#8221;</p>
<p>&#8220;Yiyalahhh..&#8221;</p>
<p>&#8220;Mulai ngomel nihhh.. ah, kalo lo ngome jadi keliatan kayak emak- emak deh.&#8221;</p>
<p>&#8220;Bodo&#8230;.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ngambek- ngambek&#8230;&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Bimoooo! please deh, kalo udah gak ada yang perlu diomongin, matiin aja teleponnya, gue mau ngelarin nih tugas niihh&#8230;.. bisa digantung Bu Winda gue kal gak kelar ni malemmm.&#8221; ujarku dengan nada sewot.</p>
<p>&#8220;HEHEHEH&#8230; iyeee Tito baweeellll&#8230; heheh&#8230; yaudah, lo lanjutin itu tugas, besok ge nyontek ya, hueheheheh.&#8221;</p>
<p><em>&#8220;What???</em>? sejak kapan lo jadi pemalas????&#8221; cetusku kemudian.</p>
<p>&#8220;AKh&#8230;sekali- kali nyontek kan gak papa Tit, hehehhe.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ah..serah lo deh Bim, pusing gue.&#8221;</p>
<p>&#8220;Hhahaha.. yaudah lo lanjutin tugasnya. Oh iya, malam mingu entar lo<em> free</em> kan? nah lo ajakin deh Si Juna maen bareng aku sama Dino.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kemana?&#8221;</p>
<p>&#8220;Biasa, Sevel Grand Indonesia.&#8221;</p>
<p>Bagus. Ini saatnya Jonah beraksi. <em>That was the show time for Jonah.</em></p>
<p>&#8220;Yaudah deh, ntar biar aku ngomong ke Juna.&#8221;</p>
<p>&#8220;Nah gitu donkkk&#8230;heeee&#8230;..&#8221;</p>
<p>&#8220;Yaudah kalo gitu, samlekummm.&#8221; kataku ingin cepat mengakhiri telepon ini.</p>
<p>&#8220;Eh.. tunggu dulu&#8230; gue mao nitip salam buat Tante&#8230;&#8230;.&#8221;</p>
<p>&#8220;Iye&#8230;. gue salamin ntar&#8230;.&#8221;</p>
<p>&#8220;Bener ya?&#8221;</p>
<p>&#8220;Iye.&#8221;</p>
<p>&#8220;Yaudah kalo gitu. samlekuuummmm.&#8221;</p>
<p>&#8220;Walaikum salammm.&#8221;</p>
<p>TUTTT&#8230;..<br />
Kupencet tombol <em>END</em> pada keypad Nokia E71 miliku. Telepon berakhir. Begitu juga siksaan bathin akibat suara Bimo yang cempreng bin berisik di kupingku.</p>
<p style="text-align:center;">***</p>
<p>Rupanya Dino udah bener- bener ngubah Bimo sekarang. Bimo yang dulu paling rajin di kelas sekarang udah berani nggak ngerjain tugas matematika. Padahal itu adalah pelajaran favoritnya. Tapi dengar barusan apa yang dia katakan. Dia lebih memilih nyontek kerjaan ku sdarpada ngerjain sendiri. Gawat. Jika ini dilanjutkan. Bisa bisa Bimo jadi cowok gak bener kayak Dino.</p>
<p style="text-align:center;">***</p>
<p>Baru aku hendak beranjak kembali ke kasurku, tapi tiba- tiba hapeku berdering lagi. Ada sms masuk. Dari Juna</p>
<p><strong><em>Sayang. Kamu lagi ngapain? Jangan lupa makan ya? Luph u. YOUR BELOVED BOY-JUNA-.</em></strong></p>
<p>Aku meringis begitu selesai membaca sms itu. Bisa juga Juna ngirim sms kayak gini. Padahal dia seumur-umur pacaran sama aku kalo sms pasti smsnya kocol dan ngejeblak. Tapi kali ini beda. Meskipun smsnya simple. Tapi kesanya <em>so sweeeeett</em> banget. Maka mendadak kekesalanku akibat si Bimo tadi ngedadak hilang. Dan aku senyum- senyum gak jelas. Sembari membalas sms itu aku kembali keatas kasur. Melanjutkan tugas matematika yang baru kelar setengah jalan.</p>
<p style="text-align:center;">***</p>
<p><em>I&#8217;ve had a little bit too much</em><br />
<em> All of the people start to rush (Start to rush by)</em><br />
<em> A dizzy twister dance, can&#8217;t find my drink or man</em><br />
<em> Where are my keys? I lost my phone</em></p>
<p><em>What&#8217;s goin&#8217; on, on the floor?</em><br />
<em> I love this record baby but I can&#8217;t see straight anymore</em><br />
<em> Keep it cool, what&#8217;s the name of this club?</em><br />
<em> I can&#8217;t remember, but it&#8217;s alright, a-alright</em></p>
<p><em>Just dance, gonna be okay</em><br />
<em> Da da doo doot-n</em><br />
<em> Just dance, spin that record babe</em><br />
<em> Da da doo doot-n</em><br />
<em> Just dance, gonna be okay</em><br />
<em> D-D-D-Dance, dance, dance, just</em><br />
<em> J-J-Just dance</em></p>
<p>Dentuman lagu <em>Just dance</em> dari Gaga itu terdengar membangkitkan energi. Aku yang tengah duduk pada sebuah kursi santai hanya mengikuti irama sembari menggoyang- gooyangkan tubuhku. <em>This is Saturday Night</em>, malam minggu. Seperti janjiku pada Bimo, aku sekarang sedang duduk bersama Juna di Sevel, Grand Indonesia. Rencananya, kami berempat-aku, Juna, Bimo, Dino,- mau nonton bareng, sekaligus <em>double date.</em> Berkali aku melirik kearah jam tangan yang menunjuk angka tujuh lebih lima belas. Namun Dino dan Bimo tak kunjung menampakkan batang hidung juga.</p>
<p>&#8220;Ughh&#8230;..&#8221; Aku melenguh kesal.</p>
<p>Juna yang duduk disampingku melirikku dan menyenggol punggung tanganku.</p>
<p>&#8220;Kenapa sich&#8230; bete amat?&#8221;.</p>
<p>Aku tak langsung menjawab pertanyaannya. Aku hanya mendengus kesal. &#8220;Itu tuh, si Bimo dan Dino og belum datang sih. Katanya harus tepat jam tujuh , gak boleh telat. Tapi lihat nihh&#8230;. udah lewat lima belas menit tapi dianya gak dateng- dateng&#8230;&#8230;. huh sebel.&#8221;</p>
<p>Setengah manyun aku kembali menurunkan badanku untuk bersandar pada meja yang ada di depanku. Sebentar aku memain- mainkan gelas cappucino di depanku. Biasa, seperti inilah kerjaanku kalau lagi bete tingkat tinggi.</p>
<p>&#8220;Udahlah, tunggu sebentar lagi, mereka juga pasti datang kog.&#8221; Balas Juna sambil menggusak lembut rambutku dangan tangan kanannya. Sementara tangan kirinya masih sibuk memain- mainkan handphone. Entah sedang mengetik sms atau apa.</p>
<p>&#8220;Kalau mereka nggak datang gimana Jun&#8230; kita kan nanti jadi nggak bisa ngebuktiin kejelekkan Dino ke Bimo&#8230;..&#8221;</p>
<p>&#8220;Kamu tenang aja sayang, aku yakin mereka pasti datang kog, kamu sabar ya&#8230;&#8221;</p>
<p>Sekali lagi Juna mencoba menenangkanku yang sudah dirundung kegelisahan. Usapan tangannya yang lembut pada rambutku seakan menghapus semua kegalauan. Aneh, seketika saja, semua rasa gelisah yang ada di kepalaku berkurang sediit demi sedikit.</p>
<p>&#8220;Yaudah deh, aku tunggu lagi.&#8221; Jawabku kemudian. &#8220;Omong- omong, kamu lagi sms siapa sih daritadi kayaknya asyik banget.&#8221;</p>
<p>&#8220;Oh ini, aku lagi sms Jonah, ngebahas rencana malam ini.&#8221;</p>
<p>&#8220;Oh&#8221;, mulutku membulat.</p>
<p>&#8220;Kamu tenang aja ya, serahkan saja semua pada aku dan Jonah.&#8221;</p>
<p>&#8220;<em>Thanks</em> ya beib..&#8221;</p>
<p>&#8220;Sama- sama.&#8221;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p style="text-align:center;">***</p>
<p>Aku lantas menolehkan pandanganku kearah sekeliling. Oya, Sevel ini bukan kepanjangan Seven Eleven seperti yang kalaian pikirkan. Memang tempat ini adalah sebuah minimarket kecil yang terletak di pinggir jalan. Namun bedanya tempat ini menyediakan semacam rest place yang merupakan serangkaian meja-kursi yang ditata apik dengan pemandangan jalan yang indah. Jai banyak muda- mudi yang suka nongkrong di tempat ini kalau malam minggu, karena tempat ini emang asyik.</p>
<p>Sebentar mataku tertuju pada beberapa pasanganb muda- mudi yang tengah asyik bercengkrama. Kelihatannya asyik sekali mereka mengobrol sembari diskusi di depan sebuah laptop di meja. Ah, memang asyik jadi mahasiswa, pikirku. Belum sempat aku memutar mataku ke area yang lebih jauh lagi, sebuah suara cempereng yang khas menyadarkaku.</p>
<p>&#8220;Heii Tito&#8230; Hei Juna..<em>. I&#8217;m so sorry yaaa&#8230;</em>&#8230;. kami berdua telat, tau gak tadi di seputaran Sudirman macet amirrrrr&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.&#8221;</p>
<p>Aku mengangkat wajahku keatas. Kearah sumber suara. Dan nampaklah Dino yang, oh, my god susah banget ngejelasin dandanannya. Sementara Bimo-seperti biasa- cuma nyengir berdiri di samping Dino.</p>
<p><em>I think the nightmare would not end soon.</em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/duniakeciltito.wordpress.com/110/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/duniakeciltito.wordpress.com/110/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/duniakeciltito.wordpress.com/110/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/duniakeciltito.wordpress.com/110/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/duniakeciltito.wordpress.com/110/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/duniakeciltito.wordpress.com/110/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/duniakeciltito.wordpress.com/110/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/duniakeciltito.wordpress.com/110/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/duniakeciltito.wordpress.com/110/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/duniakeciltito.wordpress.com/110/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/duniakeciltito.wordpress.com/110/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/duniakeciltito.wordpress.com/110/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/duniakeciltito.wordpress.com/110/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/duniakeciltito.wordpress.com/110/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=duniakeciltito.wordpress.com&amp;blog=31697152&amp;post=110&amp;subd=duniakeciltito&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://duniakeciltito.wordpress.com/2012/02/10/me-him-lady-gaga-13/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e2aafea6a70a86db7cbe62af6500729b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">bagustito20</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kagema</title>
		<link>http://duniakeciltito.wordpress.com/2012/02/04/kagema/</link>
		<comments>http://duniakeciltito.wordpress.com/2012/02/04/kagema/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 04 Feb 2012 16:46:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bagustito20</dc:creator>
				<category><![CDATA[PUISI]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://duniakeciltito.wordpress.com/?p=90</guid>
		<description><![CDATA[Kau tentu masih ingat, Kala itu, salju telah membekukan hampir seluruh kota Osaka Menggigilkan dahan- dahan sakura Disini, Di bilik kecil berdinding kertas Origami, Aku juga membeku Tapi bukan karena salju- salju itu, Aku membeku karenamu, Yang tak henti melemparkan senyum Sementara kau terus melekat pada pelukan lelaki baya itu, Matamu bersinar, Diantara uap teh [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=duniakeciltito.wordpress.com&amp;blog=31697152&amp;post=90&amp;subd=duniakeciltito&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kau tentu masih ingat,<br />
Kala itu, salju telah membekukan hampir seluruh kota Osaka<br />
Menggigilkan dahan- dahan sakura</p>
<p>Disini,<br />
Di bilik kecil berdinding kertas Origami,<br />
Aku juga membeku<br />
Tapi bukan karena salju- salju itu,<br />
Aku membeku karenamu,<br />
Yang tak henti melemparkan senyum<br />
Sementara kau terus melekat pada pelukan lelaki baya itu,</p>
<p>Matamu bersinar,<br />
Diantara uap teh hijau yang mengepul<br />
Matamu menerawang,<br />
Diantara manusia- manusia yang menyebut dirinya &#8216;lelaki&#8217;</p>
<p>Shoutaro.<br />
Kini aku kembali berdiri disini.<br />
Menyesap aroma teh hijau sembari menatap Fujiyama<br />
Namun bukan lagi dengan mu,<br />
Tapi dengannya,<br />
Dia, yang menyebut dirinya,<br />
<em>Kagema</em></p>
<p>(tangerang 2 februari 2012)</p>
<p><em>kagema</em>= sebutan untuk pelacur lelaki jepang pada jaman edo.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/duniakeciltito.wordpress.com/90/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/duniakeciltito.wordpress.com/90/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/duniakeciltito.wordpress.com/90/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/duniakeciltito.wordpress.com/90/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/duniakeciltito.wordpress.com/90/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/duniakeciltito.wordpress.com/90/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/duniakeciltito.wordpress.com/90/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/duniakeciltito.wordpress.com/90/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/duniakeciltito.wordpress.com/90/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/duniakeciltito.wordpress.com/90/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/duniakeciltito.wordpress.com/90/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/duniakeciltito.wordpress.com/90/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/duniakeciltito.wordpress.com/90/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/duniakeciltito.wordpress.com/90/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=duniakeciltito.wordpress.com&amp;blog=31697152&amp;post=90&amp;subd=duniakeciltito&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://duniakeciltito.wordpress.com/2012/02/04/kagema/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e2aafea6a70a86db7cbe62af6500729b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">bagustito20</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>ME, HIM &amp; LADY GAGA [12]</title>
		<link>http://duniakeciltito.wordpress.com/2012/02/04/me-him-lady-gaga-11-2/</link>
		<comments>http://duniakeciltito.wordpress.com/2012/02/04/me-him-lady-gaga-11-2/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 04 Feb 2012 16:16:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bagustito20</dc:creator>
				<category><![CDATA[GAY LITERATURE]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://duniakeciltito.wordpress.com/?p=85</guid>
		<description><![CDATA[DUA PULUH DUA SERAHKAN SAJA PADAKU &#8220;Masalah gak akan selesai kalau kamu tetap diam seperti itu.&#8221; Sekali lagi Juna berkata tegas sambil menatap tajam ke arahku. tangannyakian erat merengkh tanganku. seakan hendak memberikan dukungan dan semangat padaku. Dan akhirnya aku menyerah. &#8220;Jujur Jun, akumemang lagi ada masalah&#8230;..&#8221; Aku menghela napas seakan baru saja melepaskan beban [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=duniakeciltito.wordpress.com&amp;blog=31697152&amp;post=85&amp;subd=duniakeciltito&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:right;"><strong>DUA PULUH DUA</strong><br />
<strong> SERAHKAN SAJA PADAKU</strong></p>
<p>&#8220;Masalah gak akan selesai kalau kamu tetap diam seperti itu.&#8221; Sekali lagi Juna berkata tegas sambil menatap tajam ke arahku. tangannyakian erat merengkh tanganku. seakan hendak memberikan dukungan dan semangat padaku. Dan akhirnya aku menyerah.</p>
<p>&#8220;Jujur Jun, akumemang lagi ada masalah&#8230;..&#8221; Aku menghela napas seakan baru saja melepaskan beban yang amat berat.</p>
<p>&#8220;Masalah apa?&#8221;.</p>
<p>Sekali lagi aku menarik napas panjang. &#8220;Tentang Bimo.&#8221;</p>
<p>&#8220;Bimo?&#8221; Juna mengernyit kepadaku. &#8220;Memangnya Bimo kenapa? Bukankah dia baik- baik saja? Apa yang kau khawatirkan dari dia?&#8221;.</p>
<p>&#8220;Kamu nggak tahu Jun&#8230;.&#8221;</p>
<p>&#8220;Makanya kamu harus cerita sama aku sayang&#8230;&#8230;.&#8221;</p>
<p>&#8220;Tapi Jun&#8230;.&#8221;</p>
<p>&#8220;Percayalah padaku sayang&#8230;.. aku pasti akan membantumu sebisaku.&#8221;</p>
<p>&#8220;Baiklah&#8230;..&#8221;. Kuhempaskan napas yang sedari tadi kuhirup. menguatkan hatiku untuk mengalahkan ego. Aku ingin semuanya cepat selesai.</p>
<p>&#8220;Kamu gak tahu kan Jun, kalau Bimo&#8230;.. Jadian sama Dino&#8230;. mantanmu itu?????&#8221;</p>
<p>&#8220;Apa? Di&#8230; Dino jadian sama Bimo???????&#8221; Setengah kaget Juna memalingkan pandangannya padaku.matanya mendelik tajam seakan tak percaya dengan apayang baru saja didengarkannya.</p>
<p>&#8220;Iya&#8230;. itulah yang aku pikirin selama ini&#8230;. aku benar- benar pusing bagaimana bisa mereka berdua jadian&#8230;&#8230;&#8230;. aku benar- benar gak rela kalau mereka berdua jadian dan pacaran&#8230;.. aku bener- bener gak rela kalau Bimo pacaran sama orang kayak gitu&#8230;&#8230;&#8230;..&#8221;. Aku mulai sedikit terisak begitu menceritakan tentang Bimo. Entah kenapa dadaku rasanya jadi sesak begitu menyebut nama Dino si setan menyebalkan itu.</p>
<p>&#8220;Sudah&#8230; sudah tenanglah sayang&#8230;&#8230;. mungkin ini masalah kesalahpahaman saja. Kamu tenang saja. Mungkin saja Dino akan berubah begitu jadian sama Bimo.&#8221; Juna mengelus- elus bahuku sambil mencoba menenangkan aku yang sudah diujung tanduk.</p>
<p>&#8220;Aku sama sekali gak akan percaya kalau Dio bakal berubah.&#8221;</p>
<p>&#8220;Yasudahlah&#8230; Toh Bimo nya juga gak masalah kan kalau jadian sama dia?&#8221;.</p>
<p>&#8220;Justru itu Jun masalahnya&#8230;.&#8221;</p>
<p>&#8220;Masalahnya? Apa maksudmu sayang?&#8221;</p>
<p>&#8220;Dino itu jadian sama Bimo cuma buat ngancem aku buat ninggalin kamu. Dia ngancem bakal nyakitin Bimo kalau aku nggaksegera putus dan ninggalin kamu. Dino masih menginginkanmu Jun&#8230; Dia cuma manfaatin Bimo yang nggak tahu apa- apa&#8230;..&#8221;. Aku terisak nyaris tanpa nafas. Entah kebencianku pada Dino telah membuatku menjadi mahluk <em>Anaerob.</em></p>
<p>&#8220;Apa?&#8221; Juna terkesiap. &#8220;Kamu yakin sama apa yang kamu ucapin?&#8221;.</p>
<p>&#8220;Tentu saja Jun&#8230;. Kalau kamu gak percaya aku&#8230;&#8230;&#8230;&#8221;</p>
<p>Hampir saja aku merogoh saku celanaku untuk menunjukkan sms yang dikirim Dino kemarin soal ikan dan umpan itu. Tapi. Deg. Tiba-tiba saja dua orang lelaki mendekati kami. Aku dan Juna sontak mendongak kearah dua lelaki tersebut. Dan kami berdua terkejut begitu melihat siapa mereka. Dino dan Bimo nampak setengah bergandengan tangan sambil tersenyum manis kepada kami. Ya Tuhan! Kenapa mereka harus muncul di saat seperti ini???.</p>
<p>&#8220;Hai Juna&#8230; Hai Titooo&#8230;. wah kebetulan sekali ya kita ketemu disini, mau jalan bareng gak? Aku sama Bimo mau ke Gramed nih, nyari buku-buku motivasi. Ikut yukkk&#8230;&#8230;&#8230;. pasti seruh dehh..&#8221; Dino dengan gayanya yang melambai oh-em-ji menyapa kami yang terpaku menatapnya. Sementara Bimo cuma cengar-cengir gak jelasdisampingnya. Aku langsung bete. Kenapa aku harus melihat pemandangan menyebalkan seperti ini pada acara date ku sama Juna.</p>
<p>&#8220;Emhhh&#8230;.<em> sorry</em> ya.. kayaknya aku gk bisa deh Din&#8230; Bim&#8230;aku sama Juna udah mau pulang nih&#8230; bentar lagi Juna mau ada acara sama mamanya. Jadi maaf banget ya&#8230;.&#8221; Aku mecoba mencari alasan selogis mungkin untuk menghindar dari ajakan mahluk planet ini. &#8220;Iya kan Jun?????&#8221;. Aku setengah mencubit pingang Juna agar dia mengiyakan perkataanku. Untungnya Juna cepat tanggap.</p>
<p>&#8220;Eh&#8230;i.. iya&#8230; bentar lagi aku disuruh mamaku nganter arisan&#8230;&#8230;&#8221; jawab Juna nyengir yang langsun dibalas dengan muka manyun sok memelas khas Dino.</p>
<p>&#8220;Yahh&#8230;. sayang banget ya&#8230;.. padahal aku pengen banget lo bisa jalan berempat sama kaliannnnnn&#8230;.. yaudah deh kalo gitu&#8230; aku sama Bimo duluan ya&#8230;. <em>byeeeeeeeeeeeee&#8230;</em>.. &#8221; Celoteh Dino sambil melirik mesra kearah Bimo. &#8221; Yaudah sayang&#8230; kita duluan yukk&#8230;&#8230;.. ntar kalo pulang aku kasih hadiah dehhh,,,,, yukk&#8230;&#8230;&#8221;</p>
<p>Nyebelinnya Bimo cuma ngangguk manut sama ucapan Dino. Ughhhh nyebelinn&#8230;. apa bener Dino udah mantra- mantra in si Bimo sehingga dia bisa manut dan mau-maunya sama Dino. Ih. Sebel.</p>
<p>&#8220;Yaudah Tit&#8230; Jun&#8230;. gue duluan ya&#8230; daaa&#8230;..&#8221; ucap Bimo agak melengking karena dia langsung ditarik Dino menjauh dariku dan Juna. Sementara sambil berlalau Dino melemparkan senyuman penuh rahasia kepadaku. Seakan meneriakkan <em>&#8216;im the winner and you&#8217;re the looser&#8217;</em> padaku.</p>
<p>&#8220;ARRRRGGHHHH&#8230;&#8230; NYEBELINNNNN&#8230;&#8230;&#8221;Aku lemparkan gelas plastik bekas <em>caramel machiatto</em> kosong keudara. Aku benar- benar sebel.</p>
<p>&#8220;Tuhhh.. kamu lihat gak senyuman iblisnya si Dino.. dia tuh beneran punya maksud jahat sama Bimo Jun&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8221; Aku menggebuk- gebuk meja kafe sehingga agak bergoyang.</p>
<p>&#8220;Senyuman iblis apaan sih sayang. Kmu lihat sendiri kan kalau mereka mesra- mesra aja&#8230; Ah&#8230; kamu terlalu <em>negative thinking</em> sama Dino&#8230;..&#8221;</p>
<p>&#8220;Jun kamu masih gak percaya jugaa&#8230;.????????? Kamu tahu siapa Dino kannn?????&#8221;</p>
<p>&#8220;Iya&#8230; aku tahu siapa Dio&#8230; tapi aku masihgak percya aja kalau Dino sampe nekat gitu uma buat nyingkirin aku dari kamu&#8230;.. BUkannya dia ninggalin aku demi bule, itu artinya dia gak mungkin dong ngarepin aku lagi.&#8221;</p>
<p>&#8220;Tapi kenyataannya Dino emang nekat Jun&#8230;. Kalau kamu gak percaya&#8230;&#8230; Lihat ini&#8230;&#8230;&#8230;&#8221; Aku sodorkan hapeku yang sudah dalam mode menunjukkan sms dari Dino yang kemarin dikirim padaku pada Juna. Sesaat Juna tampak serius membaca sms itu. Lantas tiba- tiba saja raut wajah Juna berubah drastis. Seakan ia menghawatirkan sesuatu.</p>
<p>&#8220;Beneran Dino sms kayak gini ke kamu?&#8221; Juna menoleh kilat padaku.</p>
<p>&#8220;Itulah buktinya.&#8221; Aku cuma mengangkat bahu.</p>
<p>&#8220;Berarti benar Dia punya maksud buruk kalau sudah seperti ini masalahnya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Maka dari itu Jun&#8230;&#8230; Aku sudah bilang ke kamu kan&#8230; Aku khawatir kalau terjadi apa- apa sama Bimo&#8230;..&#8221; Aku merengek- rengek seperti anak kecil minta mainan.</p>
<p>&#8220;Yaudah kamu tenang aja sayang&#8230;. Aku tahu bagaimana menjinakkan Dino&#8230;&#8221; juna menggusak kepalaku sambil menyunggingkan senyum kemenangan. &#8220;Kamu tenang saja,serahkan saja semuanya padaku.&#8221;</p>
<p style="text-align:right;"><strong>DUA PULUH DUA</strong><br />
<strong> THE REVENGE</strong></p>
<p>&#8220;Memangnya kamu punya rencana apa untuk membuat Dino berhenti memanfaatkan Bimo?&#8221;.</p>
<p>Setengah mendelik aku menyandarkan dagu pada kedua tanganku diatas meja kafe yang dingin. Aku penasaran dengan rencana apa yang dipikirkan Juna. Namun ia cuma tersenyum tipis penuh rahasia.</p>
<p>&#8220;Yang pasti hutang nyawa harus dibayar nyawa bukan?&#8221;, bisiknya pelan.</p>
<p>&#8220;Apa maksudmu Jun?&#8221; aku menggeleng tidak faham.</p>
<p>&#8220;Jika dia berani manfaatin Bimo untuk menjebak kita, maka kita juga harus manfaatin sesuatu untuk menjebaknya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Lantas?&#8221;</p>
<p>&#8220;Aku tahu sesuatu untuk menjebaknya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Apa?&#8221;, tanyaku penasaran.</p>
<p>Tapi Juna tak menjawab pertanyaanku, ia hanya tersenyum penuh rahasia dan penuh kemenangan.</p>
<p style="text-align:center;">***</p>
<p>&#8220;Ngapain kita kesini sih Jun? rumah siapa ini?&#8221;</p>
<p>Aku sedikit menolak ketika Juna setengah mendorongku di depan sebuah rumah nan megah bercat hijau. Aku tak tahu rumah siapa ini. Tiba- tiba saja Juna membawaku kesini. Dia bilang inilah satu- satunya cara untuk menjinakkan Dino. Dengan meminta tolong pada seseorang dirumah ini. Tapi aku tak pernah tahu siapa pemilik rumah ini.</p>
<p>&#8220;Ini rumah Jonah.&#8221; jawab Juna singkat.</p>
<p>&#8220;Jonah?&#8221;. aku mengangkat bahu, tak mengerti.</p>
<p>&#8220;Bule yang dulu kau lihat di pesta ulang tahun Dino.&#8221;</p>
<p>&#8220;Apa?&#8221; Aku sedikit terhenyak. &#8220;Apa hubungannya masalah Bimo dengan bule itu?&#8221;.</p>
<p>&#8220;Justru dialah satu- satunya orang yang bisa membantu kita untuk saat ini.&#8221;</p>
<p>Tanpa berkata lagi Juna lantas menarik tanganku untuk bergerak mendekati pagar pintu yang setinggi menara eiffel (upss&#8230;.. too hiperbol). Beberapa saat kemudian Juna memencet bel pintu dan terdengarlah suara nyaring yang pasti terdengar nyaring di dalam. Dan beberapa saat kemudian muncullah seseorang mendekati pagar tempat kami berdua berdiri. Seorang wanita berumur empat puluhan. Dengan dandanan khas pembantu rumah tangga dia menghampiri kami dan menyapa dengan logat jawanya yang kental.</p>
<p>&#8220;<em>Anu ,</em> mas- mas nya ini mau cari siapa ya?&#8221;. Perempuan itu sedikit membuka pagar sambil membungkukkan badannya.</p>
<p>&#8220;Eh, Bi, Jonah nya ada?&#8221;.</p>
<p>Juna segera membalas pertanyaan wanita itu tanpa menyisakan waktu buatku untuk bertanya lagi.</p>
<p>&#8220;Oh, temennya Tuan Jonah ya?&#8221;</p>
<p>&#8220;Iya Bi.&#8221;</p>
<p>&#8220;Tuan Jonahnya lagi ada tamu sih Mas, tapi sebentar deh, saya tanyakan dulu Tuan Jonah nya mau ketemu sama mas apa <em>ndak.</em> Omong- omong dari Mas siapa ya?&#8221;</p>
<p>&#8220;Juna, bi.&#8221;</p>
<p>&#8220;Oh, Mas Juna ya. Tunggu sebentar ya Mas.&#8221;</p>
<p>Lantas wanita itu segera masuk kembali kedalam rumah. Sepertinya ia hendak menemui Jonah.</p>
<p style="text-align:center;">***</p>
<p>&#8220;Kamu bisa tau dari mana sih rumah Jonah? Dan satu lagi, emangnya si Jonah kenal sama kamu.&#8221;</p>
<p>Aku yang sedari tadi penasaran naudzubillah memberanikan diri untuk meluncurkan kata- kata itu. Habisnya aneh, tiba- tiba saja Juna ngajakaku kesini untuk membantu menyelesaikan masalah Bimo- Dino. Terus terang aku kaget dong. Padahal seumur- umur aku gak pernah kenal sama yang namanya Jonah si bule itu.</p>
<p>&#8220;Sudahlah, nanti kamu juga tahu sendiri .&#8221;</p>
<p>Beberapa saat kemudian si pembantu tadi muncul lagi dengan senyuman yang amat sangat ramah. Sedikit tergesa ia berjalan menghampiri kami.</p>
<p>&#8220;Nah Mas Juna, kata Tuan Jonah, Mas- mas ini suruh langsung masuk saja. Tuan Jonah nya ada di teras belakang.&#8221;</p>
<p>&#8220;Yaudah kalau gitu, makasih ya, Bi.&#8221; Tanpa ba-bi-bu lagi Juna spontan menarikku memasuki rumah itu. Nampaknya ia sudah hapal betul semua letak dan isi dari rumah ini. Terbukti. Dia gak mikir mikir lagi buat menuju teras rumah yang dimaksud wanita tadi.</p>
<p>Dan kami berdua berhenti pada sebuah teras sejuk yangdipenuhi pepohonan bonsai. Ada juga kolam renang sedang yang dipenuhi air jernih berwarna biru. Di satu sisi kolam renang, tampak Jonah, si bule berbaring diatas kursi malas yang diteduhi payung. Disampingnya, duduk seorang lelaki muda yang nampak mesra dengannya. Sesekali mereka berciuman. Bercanda- canda.</p>
<p>&#8220;Hei Jun&#8230;..&#8221; Jonah langsung menyadari kehadiran kami dan segera menyapa kami berdua.</p>
<p>&#8220;Hei juga Jonah.&#8221; Balas Juna.</p>
<p>Sebentar Jonah berbisik pada lelaki disebelahnya. Lantas si lelaki bangkit berdiri dan meninggalkan Jonah sendirian. <em>&#8220;Come on, join with me here.&#8221;</em></p>
<p>Aku dan Juna pun langsung melangkah menuju kearah Jonah berbaring. Lantas kami berdua duduk ditepi kolam renang. Sementara Jonah masih saja sibuk mengutak- atik BlackBerry nya.</p>
<p>&#8220;Sudah lama kalian disini?&#8221;. Aku sedikit terkejut mendengar perkataan Jonah barusan. Ni bule bisa bahasa Indonesia toh.</p>
<p>&#8220;Lumayan sih&#8230;&#8221;</p>
<p><em>&#8220;By the way. Who is it?</em> Pacar kamu?&#8221;. Tanya Jonah dengan aksen <em>British</em> yang terdengar seksi.</p>
<p>&#8220;<em>Yepp</em>. Ni Tito, pacar gue. Tepatnya pacar yang paling baik yang pernah gue miliki.&#8221; Juna setengah mengerling nakal ke arahku. Aku tersipu.</p>
<p>&#8220;Hahahah&#8230;&#8230; kukira emang dia lebih baik dari Dino sialan itu, hahah&#8230;&#8230;&#8221;</p>
<p>Juna dan Jonah tertawa- tawa. Membiarkan aku yang duduk terbengong- bengong diantara mereka. Aku menggerutu. Sebenarnya ada apa ini. Bagaimana mereka bisa akrab? Apa mereka sudah saling kenal sebelumnya. Dengan modal nekat aku setengah berteriak.</p>
<p>&#8220;Plis&#8230; tolong kalian jelasin ke aku, ada apa ini sebenarnya?&#8221;<br />
Juna dan Jonah menoleh padaku hampir bersamaan. Lantas mereka stngah tertawa geli sambil menatapku.</p>
<p><em>&#8220;Wel</em>l, sepertinya ada yang harus dijelaskan secara detail nih&#8230;..&#8221;</p>
<p>Juna setengah mengerling kearah Jonah. Aku hanya mengangkat bahu, semakin nggak ngerti.</p>
<p><em>&#8220;Well</em>, sebelumnya,<em> let me introdue myself and explain its all</em>.&#8221; Jonah lagi- lagi brcakapa dalam aksen brtishnya . &#8220;Gu Jonah Packellbell Eugne, gue adalah anggota dari sebuah agen persewaan pacar yang gak pernah kau ketahui di Jakarta ini. Dengan kata lain. Gue bekerja sebagai pacar sewaan, siapa yang mau, dan dia mau ngebayar gue, maka gue bakal jadi pacar sewaa dia.&#8221;</p>
<p>Aku terhenyak, namun masih menyisakan sedikit pertanyaan dibenakku.</p>
<p>&#8220;Jadi lo sama Dino&#8230;&#8230;.???&#8221;.</p>
<p><em>&#8220;Yepp</em>&#8230;. itu cuma salah satu tugas kerjaan gue. Gue sama Dino gak pernah pacaran beneran, dia cuma mantan klien gue aja.&#8221; Terang Jonah dengan senyum memikat yang aku yakin bisa melumerkan bongkahan es di Antartika.</p>
<p><em>&#8220;Whattt????&#8221;</em></p>
<p>&#8220;Iya. Apa perlu kutunjukkan ini???&#8221;</p>
<p>Jonah lantas menyodorkan sebuah kartu nama yang terbuat dari kertas marmer yang tampak mewah dan merebakkan aroma parfum yang nampak <em>high class.</em> Pada kartu nama itu tertulis:</p>
<p style="text-align:center;"><strong> JONAH PACKLLBELL EUGENE</strong><br />
<strong>PACAR SEWAAN TERBAIK</strong><br />
<strong> LOVER RENT AGENCY JAKARTA</strong><br />
<strong> 5566743219</strong></p>
<p>Dan aku -untuk kesekian kalinya- trhenyak. Jadi beneran Jonah ini seorang pacar sewaan? Jadi beneran kalo Dino sebenernya cuma Jonah buat balas dendam sama Juna?????. Aku kian dibbat oleh rasa bingung yang menggebu. Ah&#8230;. pusing.</p>
<p>&#8220;Lalu&#8230; apa hubungannya masalah Bimo dengan Jonah ini?&#8221;. Aku brbalik menoleh pada Juna. Melayangkan tatapan penuh interogasiku padanya. Dia cuma senyum santai.</p>
<p>&#8220;Setidaknya kita bisa meminta tolong pada Jonah untuk membongkar semua rahasia dan keburukan Dino. Bukan begitu Jonah.&#8221; Juna tersenyum sisnis sembari menoleh nakal pada si bule itu. Smentara Jonah cuma nyengir menjawab Juna.</p>
<p>&#8221; Yep. Kurasa aku memang ingin sedikit brmain- main dengan Dino. Hahahah&#8230;.<em> it should be a great Mission,</em> hahah.&#8221;</p>
<p>&#8220;Baiklah Jonah, tugas lo cuma satu: buat bagaimana smua kejelekkan dan kburukan serta sifat asli Dino terbongkar di depan Bimo, sebab dia cuma mau manfaatin Bimo. Kuharap kau profesional dan bisa menjalankan misi ini tanpa membawa nama kami. Kau bisa? &#8220;</p>
<p>Jonah pun mengangguk. &#8220;Serahkan saja padaku. Asal kau beri ssuatu yang cukup untuk itu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Tenang saja.&#8221; Juna lantas merogoh sakunya. Mengeluarkan sebuah amplop yang nampak penuh, lalu mnyerahkannya pada Jonah.</p>
<p>&#8220;Akankah ini berhasil Jun?????&#8221; Aku menyenggol, bahu Juna disampingku.</p>
<p>&#8220;Tenang saja. Aku sudah percaya pada kinerja dan profesionalisme Jonah.&#8221; Juna mncoba menenangkanku.</p>
<p style="text-align:center;">***</p>
<p>&#8220;Yasudah kalau gitu, kurasa kami harus pergi sekarang.&#8221;</p>
<p>Juna bangkit sambil menarik tanganku.</p>
<p>&#8220;Tidakkah terlalu buru- buru, setidaknya, nikmatilah dulu teh buatan pembantu terbaik drumah ini.&#8221; Jonah tampak tak rela kami pulang.</p>
<p>&#8220;Mungkin lain kali.&#8221; Tanpa banyak basa- basi lagi aku dan Juna melangkahkan kaki meninggalkan Jonah yang masih asyik berbaring diatas kursi malasnya.</p>
<p>&#8220;Apa aku nggak mimpi? Emang ada pekerjaan kayak gini? Jadi pacar sewaan?&#8221;. Sambil melangkah, kucoba untuk mengeluarkan ung- uneg yang masih tertinggal dihatiku pada Juna.</p>
<p>&#8220;Ya kau lihat sendiri kan?&#8221;</p>
<p>&#8220;Tapi Jun&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Apa?&#8221;</p>
<p>&#8220;Omong- omong, kau kenal Jonah dimana?&#8221;</p>
<p>&#8220;Asal kau tahu dia punya jaringan yang luas di jejaring sosial.&#8221;</p>
<p>&#8220;Oya?&#8221;</p>
<p>&#8220;Dan aku juga salah satu mantan kliennya.&#8221; Juna mengerling nakal kearahku.</p>
<p>&#8220;Apa????&#8221;</p>
<p>&#8220;Hahahahahah&#8230; Enggaklah, aku bukan tipe orang seperti Din o, hahahah&#8230;.&#8221;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/duniakeciltito.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/duniakeciltito.wordpress.com/85/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/duniakeciltito.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/duniakeciltito.wordpress.com/85/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/duniakeciltito.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/duniakeciltito.wordpress.com/85/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/duniakeciltito.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/duniakeciltito.wordpress.com/85/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/duniakeciltito.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/duniakeciltito.wordpress.com/85/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/duniakeciltito.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/duniakeciltito.wordpress.com/85/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/duniakeciltito.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/duniakeciltito.wordpress.com/85/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=duniakeciltito.wordpress.com&amp;blog=31697152&amp;post=85&amp;subd=duniakeciltito&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://duniakeciltito.wordpress.com/2012/02/04/me-him-lady-gaga-11-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e2aafea6a70a86db7cbe62af6500729b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">bagustito20</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>ME, HIM &amp; LADY GAGA [11]</title>
		<link>http://duniakeciltito.wordpress.com/2012/02/04/me-him-lady-gaga-11/</link>
		<comments>http://duniakeciltito.wordpress.com/2012/02/04/me-him-lady-gaga-11/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 04 Feb 2012 16:06:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bagustito20</dc:creator>
				<category><![CDATA[GAY LITERATURE]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://duniakeciltito.wordpress.com/?p=83</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Iya&#8230; Kenapa sih? Kog lo kaget gitu?&#8221;. Bimo menatapku dengan tatapan aneh. Mungkin dia kaget dengan reaksiku yang tiba- tiba. Nyaris seperti atom Boron yang dikasih cairan oksidasi. &#8220;Di&#8230;. Di&#8230; Dino yang ngambil jurusan kecantikan itu?&#8221;. Aku setengah menebak sambil harap- harap cemas. &#8220;Heh? Kog lo tau?&#8221;. &#8220;Dino yang rumahnya deket rumahnya Juna?&#8221;. &#8220;Yep&#8230; Kog [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=duniakeciltito.wordpress.com&amp;blog=31697152&amp;post=83&amp;subd=duniakeciltito&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&#8220;Iya&#8230; Kenapa sih? Kog lo kaget gitu?&#8221;.<br />
Bimo menatapku dengan tatapan aneh. Mungkin dia kaget dengan reaksiku yang tiba- tiba. Nyaris seperti <em>atom Boron</em> yang dikasih cairan oksidasi.</p>
<p>&#8220;Di&#8230;. Di&#8230; Dino yang ngambil jurusan kecantikan itu?&#8221;. Aku setengah menebak sambil harap- harap cemas.</p>
<p>&#8220;Heh? Kog lo tau?&#8221;.</p>
<p>&#8220;Dino yang rumahnya deket rumahnya Juna?&#8221;.</p>
<p>&#8220;Yep&#8230; Kog lo tahu juga?&#8221;.</p>
<p>&#8220;Dino yang tinggi, keren, tapi (<em>sorry</em>) ngondek&#8230;?&#8221;.</p>
<p>&#8220;Hu-uh.&#8221; Bimo cuma mengangguk.</p>
<p>&#8220;APA GUE GAK SALAH DENGER NII???&#8221;.</p>
<p style="text-align:right;">
<strong>SEMBILAN BELAS</strong><br />
<strong> IT&#8217;S TRULLY COMPLICATED</strong></p>
<p>&#8220;Enggak! Elo gak salah denger, emang kenapa sihh?&#8221;. Bimo masih saja menampakkan muka nggak ngertinya sambil menatap penasaran kearahku.</p>
<p>&#8220;Hah? Eh, tunggu&#8230; Tunggu&#8230;.&#8221;. Tanpa menunggu lama segera kurogoh ponsel di saku celana abu- abuku. Kubuka folder foto yang ada dan segera kutunjukkan foto Dino yang dulu sempat aku<em> copy</em> dari hape Juna, itung- itung buat koleksi, kepada Bimo.</p>
<p>&#8220;Dino yang elo maksud itu yang ini?&#8221;.</p>
<p>Sesaat Bimo nampak mendekatkan mukanya pada layar ponsel yang kusodorkan. Dibetulkannya kacamatanya sedikit lantas tersenyum simpul begitu berhasil melihat foto tersebut dengan jelas.</p>
<p>&#8220;Iye&#8230; Ini Dino&#8230; Kog elo bisa punya fotonya sih??&#8221;.</p>
<p>&#8220;Whatttt????? Jadi lo beneran suka sama Dino yang ini??? Ah Bimo&#8230;&#8230;&#8230; Jangan dehh&#8230; Jangan sama dia&#8230;&#8230;..&#8221;. Aku setengah mengiba dan merengek pada Bimo.</p>
<p>&#8220;Maksud lo apaan sih Tit&#8230; Gue gak ngerti deh&#8230;&#8221; Bimo malah menatapku datar.</p>
<p>&#8220;Lo boleh jadian sama cowok manapun di dunia ini&#8230; Tapi plis jangan sama dia&#8230; Jangan sama Dino&#8230; Gue mohooonnn&#8230;.&#8221;.</p>
<p>&#8220;Emang kenapa sih???&#8221;.</p>
<p>&#8220;Pokoknya jangan&#8230;.&#8221;</p>
<p>&#8220;Iya&#8230; Emang kenapa? Harus ada alasan dongggg&#8230;..&#8221;</p>
<p>&#8220;Dia itu&#8230;&#8230;..&#8221;</p>
<p>&#8220;Apa? Dia itu kenapa?&#8221;.</p>
<p>&#8220;Dia&#8230;&#8230;&#8230;.&#8221;.<br />
Tiba- tiba saja ada keraguan yang merangsek masuk kedalam hatiku. Aku gak boleh ngomong sekarang semua tentang Dino yang player dan super bejat itu. Bisa- bisa Bimo ngira aku gak suka kalau dia jadian. Bisa- bisa aku dicap sebagai teman tak berperasaan sama dia. Aku gak mau Bimo mikir kayak gitu. Demi Gaga! Meskipun sampai Mpok Nori beranak sekalipun ,aku gak bakal rela melihat Bimo jadian sama mahluk aneh dan bejat seperti Dino. Bayangin aja gimana gak bejat. Dia mutusin Juna cuma demi bule kesasar yang punya ukuran (maaf) titit yang lebih gede dan kantong tebal. Sekarang, seenaknya saja dia mendekati dan mengincar sahabat terbaikku. Aku gak rela. Benar- benar gak rela. Tapi aku&#8230;. Rasanya gak punya pilihan. Bimo pasti nganggap aku yang enggak- enggak kalo sampai menjelek- jelekkan Dino di depan hidungnya. <em>It&#8217; s trully complicated.</em></p>
<p>&#8220;Emangnya si Dino itu kenapa Tit??&#8221;. Bimo membuyarkan lamunanku.</p>
<p>&#8220;Ehh&#8230; Enggak&#8230; Nggak papa koggg&#8230;. Aku tadi emang ngomong apaan sihh??? Heheh.&#8221; aku gelagapan. Mencoba menghindar dan mengalihkan pembicaraan.</p>
<p>&#8220;Elo kenapa sih??? Aneh banget deh&#8230; Elo sakit ya???&#8221;.</p>
<p>&#8220;Eh&#8230; Enggak koggg&#8230;. Aku sehat wal afiat&#8230;..&#8221;</p>
<p>&#8220;Trus????&#8221;.</p>
<p>Aku menghela nafas. Aku menyerah.</p>
<p>&#8220;Bim&#8230;.&#8221; panggilku pelan.</p>
<p>&#8220;Ya?&#8221;. Jawab Bimo.</p>
<p>&#8220;Gue cuma gak mau aja kalo lo jadian dan pacaran sama orang yang gak tepat&#8230;..&#8221;. Aku menunduk. Menekuri rasa maluku yang sudah sampai ubun- ubun.</p>
<p>&#8220;Hehe..&#8221; sebentar Bimo tertawa datar dan kemudian memeluk bahuku dengan lembut. &#8220;Elo tenang aja Tit&#8230;.. Gue tau kog siapa Dino&#8230;. Jadi elo gak usah khawatir kalo gue bakal kenapa- kenapa kalo jadian sama dia. Dia itu orangnya baik.&#8221;</p>
<p>Baik apanya. Itu cuman kedoknya aja buat merayu cowok, bisikku dalam hati.</p>
<p>&#8220;Dia orangnya perhatian&#8230;. Kemarin aja waktu jalan sama dia aku ditanyain udah makan belom&#8230; Aku capek jalan gak&#8230; Aku haus apa enggak&#8230;. <em>He is really care dude.</em>.. Dia tuh bisa bikin gue ngerasa nyaman kalo deket sama dia&#8230;&#8221;.</p>
<p>&#8220;Apa senyaman Iraz disamping elo?&#8221;. Tanyaku tiba- tiba.</p>
<p>Bimo menghempas nafas pelan. &#8220;Kurasa lebih dari kenyamanan yang diberikan Iraz sama gue.&#8221;</p>
<p>Aku terdiam. Cuma mengangguk. Aku gak bisa apa- apa. Mungkin Bimo udah terkadung <em>fall in love</em> beneran sama Dino. Duhhh&#8230; Gimana dongg&#8230;. Kenapa musti sama banci luar angkasa nan nyebelin kayak Dino sih jadiannya&#8230; Duh Bim&#8230; Plisss&#8230; Dengerin suara hati gue.</p>
<p>&#8220;Jadi elo tenang aja. Gue akan baik- baik aja kog.&#8221; sambung Bimo kemudian.</p>
<p>&#8220;Tapi Bim&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Udahlah&#8230; Gue tahu elo perhatian sama gue. Tapi, kalau urusan perasaan, plis.. Biar gue sendiri yang menyelaminya&#8230;.&#8221;</p>
<p>aku kembali terdiam. Mulutku rasanya sudah terkunci rapat. Gak bisa ngomong apa- apa lagi.</p>
<p>&#8220;<em>Ok fine</em> Bim&#8230;. Kalo emang itu pilihan lo, gue gak bisa ngelarang- larang lo jadian sama siapapun. Tapi cuma satu yang gue harepin. Kalo terjadi apa- apa sama lo dan itu disebabin oleh Dino&#8230; Lo musti kasih tau gue.&#8221;</p>
<p>&#8220;Siap komandan!&#8221;. Teriak Bimo tiba- tiba yang nyaris membuat aku jantungan.</p>
<p>&#8220;Gak usah pake teriak- teriak kale ah&#8230;..&#8221; kusenggol siku bimo. Dia cuma tertawa. Aku juga ikut tertawa . Dan beberapa saat kemudian anak- anak lain mulai datang dan memenuhi kelas.<br />
Tepat ketika aku selesai menyalin tugas bahasa jepang dari buku Bimo, tiba- tiba hapeku berbunyi. Kuambil <em>handphone</em>ku dan ada sebuah panggilan masuk. Nomor baru, belum tercatat di phonebook milikku. Kira- kira siapa ya?, segera kuangkat.</p>
<p>&#8220;Halo?&#8221;.</p>
<p>Terdengar suara tawa dikejauhan.</p>
<p>&#8220;Rupanya kait yang aku pasang sudah tersangkut ya. Jadi tinggal kutarik saja dan sebentar lagi aku akan dapat ikan yang besar ya.. Hahahahahahahahaha&#8230;&#8230;&#8230;..&#8221;</p>
<p>dan tuuuuutttt&#8230;&#8230; Telepon berakhir bersamaan dengan suara tawa aneh itu. Ini maksudnya apa? Siapa yang nelepon tadi?.</p>
<p style="text-align:right;">
<strong>DUA PULUH</strong><br />
<strong> A DEVIL NAMED DINO</strong></p>
<p>Maka tanpa banyak basa- basi lagi segera kulacak log telepon masuk di handphoneku. Aku menemukan nomor aneh yang tadi menelpon. Sumpah aku penasaran banget sama apa maksud &#8216;ikan&#8217; yang dimaksud si penelepon misterius tadi.<br />
Dengan geregetan sambil gigitin jari aku menunggu nada tunggu yang membosankan. Berharap siapapun disana segera mengangkat telepon. Aku benar- benar butuh jawaban. Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya telepon diangkat juga. Aku menghela napas lega. Namun segera menyiapkan strategi tempur.</p>
<p>&#8220;Halo..&#8221; jawab suara lembut dikejauhan.</p>
<p>&#8220;EHHH!!? ELO SIAPA SIH? APA MAKSUDNYA &#8216;KAIT&#8217; SAMA &#8216;IKAN&#8217; YANG ELO MAKSUD BARUSAN HAHHHH????????&#8221;. Tanpa basa- basi lagi aku ngomel sekencang- kencangnya. Habis aku geregetan. &#8220;Elo siapa dan dapet nomor gue darimana? Gak usah sok misterius gitu deh&#8230;.&#8221;.</p>
<p>Namun cuma terdengar suara cekikikan kayak kuntilanak keselek ban bemo dikejauhan sana. Aku makin geregetan.</p>
<p>&#8220;Eh&#8230; Diajak ngomong tuh jawab!! Jangan ketawa aja&#8230;&#8221;</p>
<p>tapi sialnya si orang yang gue telepon masih aja cekikikan gak jelas sampai hampir keselek.</p>
<p>&#8220;Hei&#8230;.. Ngomong oiiyyy!!!&#8221; teriakku sekali lagi.</p>
<p>Dan berhasil. Tawa aneh itu perlahan- lahan berhenti. Terdengar suara helaan nafas.</p>
<p>&#8220;Hahaha&#8230; &#8221; cuma itu yang terdengar.</p>
<p>&#8220;Eh.. Elo siapa?&#8221;.</p>
<p>&#8220;Hem&#8230;.. &#8221; seseorang diseberang sana mulai merespon ucapanku. &#8220;Menurut lo, gue siapa?&#8221;.</p>
<p>Sumpah. Aku bener- bener geregetan dibuatnya.</p>
<p>&#8220;Udah deh gak usah banyak ngomong&#8230; Lo tuh siapa?&#8221;.</p>
<p><em>&#8220;Well</em>l&#8230;. Menurut lo?&#8221;.</p>
<p>&#8220;Ih&#8230; Lu denger gue nggak sih&#8230; Gue bantai juga lu lama- lama!!&#8221; aku setengah mengumpat.</p>
<p>&#8220;Weittsss&#8230;. Sabar- sabar&#8230; Hahaha. Lo gak tau yah kalo marah itu bisa bikin kulit wajah lo jadi mengkerut dan lo jadi cepet tua???&#8221;.</p>
<p>&#8220;Gue gak butuh ceramah soal <em>dermatology</em>!!!&#8221;.</p>
<p>&#8220;So???&#8221;.</p>
<p>&#8220;Elo siapa monyett&#8230; Jawabbbb!&#8221;.</p>
<p>&#8220;Wah&#8230; Wah&#8230; Wah&#8230; Ternyata kalo marah lo ngeri juga ya, hahaha&#8230;&#8221;</p>
<p>Aku cuma diam. Mencoba mengatur nafasku yang empot- empotan gara- gara menahan rasa marah dan jengkel yang diluar kontrol. Ingin rasanya aku mutilasi orang ini kalau saja aku tahu siapa dia.</p>
<p>&#8220;Elo Tito kan?&#8221; sambungnya.</p>
<p>&#8220;Iye&#8230; Dan elo siapa? Apa maksud dari ucapan lo tentang kait dan ikan tadi?&#8221;.</p>
<p>&#8220;Hemmm&#8230;&#8230;.&#8221;</p>
<p>&#8220;Apa???&#8221;.</p>
<p>&#8220;Well&#8230; Masa lo gak kenal suara gue sihh?? Hohoho&#8230;. Padahal suara gue kan mirip- mirip Syahrini yang &#8216;sesuatu&#8217; gituhhh&#8230;&#8230;.&#8221;</p>
<p><em>whattt????&#8230;</em>&#8230;.</p>
<p>&#8220;Eh&#8230; Gue gak peduli kalo suara lo mirip syahrini kek, mirip beyonce kek, ato mirip Omas sekalipun. Yang gue peduliin sekarang siapa elo dan apa maksud perkataan lo tadi!&#8221;</p>
<p>&#8220;Hem&#8230;. Gue&#8230;.&#8221;</p>
<p>&#8220;Siapa?&#8221;</p>
<p>&#8220;Gue&#8230;. Siapa ya?????&#8221;.</p>
<p>&#8220;Ah.. Nyebelin banget sih lo!!!&#8221;</p>
<p><em>&#8220;Well, gue</em>&#8230;&#8230; Lo masih inget gue kan??? Gue&#8230;. Gue Dino.&#8221;</p>
<p><em>&#8220;Whattt??</em>?? Dino???&#8221; aku setengah melongo dan kaget.</p>
<p>&#8220;Iya&#8230; Dino yang dulu pernah lo datengin pesta ultahnya bareng cowok nyebelin bernama Juna&#8230; Inget kan???&#8221;.</p>
<p>&#8220;Eloo&#8230; Elo&#8230; Elo dapet nomor gue darimana?&#8221;.</p>
<p>&#8220;Bimo&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Bimo???&#8221;. Aku melirik kearah Bimo yang memasang muka penasaran disampingku.</p>
<p>&#8220;Iya&#8230; Kemaren kan gue jalan sama dia&#8230; Wekk&#8230; Wek&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;<em>Whattt?</em>??? Huhhh&#8230;. Trus apa maksud perkataan lo tadi?&#8221;</p>
<p>&#8220;Haha&#8230; Masa lo gak paham sih maksud gue barusan&#8230; Lo pasti payah dalam peribahasa ya?&#8221;</p>
<p>&#8220;Maksud lo? Udah deh gak usah plin- plan, straight to the point aja. Apa maksud perkataan lo tadi?&#8221;. Aku ngos- ngosan juga, capek.</p>
<p>&#8220;Hem&#8230;. Gue tau kalo lo udah jadian sama Juna. Dan sebentar lagi, lo juga tau kalo gue bakal jadian sama Bimo&#8230;.&#8221;</p>
<p>&#8220;Trus apa hubungannya?&#8221;.</p>
<p>&#8220;Menurut lo?&#8221;</p>
<p>&#8220;AhhhRRRRGGGGHHHHH <em>JUST TALK THE MAIN POINT YOU KNOW???? SHITTTTTTTT!!!!!!&#8221;</em></p>
<p>&#8220;haha&#8230;.. <em>Stay calm dude. Dont too easy to being mad</em>&#8230; Hahah&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Udah deh&#8230; Apa hubungannya?&#8221;.</p>
<p>&#8220;Wel&#8230; Lo mau tau?&#8221;</p>
<p>&#8220;Tentu aja!&#8221;</p>
<p>&#8220;Okey&#8230;.&#8221;</p>
<p>&#8220;Apa?&#8221;</p>
<p>&#8220;Jauhin Juna. Atau gue bakal bikin Bimo, sahabat terbaik lo itu menderita.&#8221;</p>
<p>&#8220;APA????&#8221;.</p>
<p>&#8220;JAUHIN JUNA ATAU GUE BAKAL BIKIN BIMO MENDERITA SEUMUR HIDUP ANJIIIINGGGGG!&#8221; dino tiba- tiba berteriak sekencang- kencangnya.</p>
<p>Dan tuuuuuuuutttt&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230; Telepon kembali berakhir. Sialan. Sialan. Sialannnn&#8230;.. Umpatku. Setengah kubanting handphoneku keatas meja. Jadi ini yang direncanakan Dino sehingga dia mendadak jadi mendekati Bimo. Untuk merebut Juna kembali. Ya. Dino ingin merebut kembali Juna dariku. Benar- benar licik setan yang satu itu. Aku benar- benar gak nyangka.</p>
<p>&#8220;Siapa yang nelpon barusan Tit??&#8221; Bimo masih menatapku dengan penuh rasa ingin tahu. Sebenarnya aku ingin mengatakan siapa yang menelepon dia tadi. Tapi wajah polos Bimo tiba- tiba menyurutkan niatku. Aku gak mau membuatnya tersakiti.</p>
<p>&#8220;Bu&#8230; Bukan siapa- siapa kog.&#8221;</p>
<p style="text-align:right;">
<strong>DUA PULUH SATU</strong><br />
<strong> VERSUS</strong></p>
<p>Bruk!<br />
Kuhempaskan tubuhku yang lelah diatas kasur empuk dikamarku. Aku menarik nafas panjang. Kemudian menghempaskannya, mencoba membuat tubuhku sedikit lebih rileks. Aku masih saja kepikiran soal telepon Dino di sekolah tadi. Kenapa dia sampai punya rencana jahat seperti itu. Kenapa dia tega menyangkut-paut kan Bimo yang tak tahu apa- apa cuma demi mendapatkan Juna kembali. Kenapa tidak langsung menantangku saja sekalian?. Benar- benar licik orang itu. Rasanya dia tahu betul kelemahanku. Sialan.</p>
<p style="text-align:center;">
***</p>
<p>Tiba- tiba handphoneku berbunyi. Memekikkan lagu <em>telephone</em> milik Gaga. Segera kuraih handphone yang ada didalam tas selempangku dan kulihat layar ponsel. Dari Juna.</p>
<p>&#8220;Halo.&#8221; sapaku pelan.</p>
<p>&#8220;Hei, kamu lagi ngapain sayang kog lemes gitu?&#8221;.</p>
<p>&#8220;Gak papa Jun&#8230; Cuma capek aja, baru pulang skul nih&#8221;. Jawabku sambil memijit- mijit pelan tengkukku.</p>
<p>&#8220;Oh&#8230; Gitu. Eh, ntar sore temenin aku yuk say. Aku mau beli kaos sama<em> pin up</em> Lady Gaga nihh. Kamu lupa ya kalo konser Gaga tinggal dua hari lagi. Kamu udah nyiapin apa aja say buat nonton konsernya?&#8221;.</p>
<p>Oh, ya. Aku baru inget. Kalau konser yang ditunggu- tunggu <em>Litle Monster</em> seluruh Indonesia itu akan dihelat dua hari lagi. Tapi entah kenapa aku jadi gak semangat. Meskipun sebelumnya aku begitu menanti- nantikannya. Namun mendadak saja aku jadi gak <em>mood</em> soal konser itu. Ah. Ini semua gara- gara Dino sialan itu.</p>
<p>&#8220;Em&#8230;. Kamu bisa pergi sendirian aja kan sayang&#8230;. Ato sama Windy (adik cewek Juna) gituh&#8230; Aku lagi capek nih..&#8221; ucapku mencari alasan. Hari ini aku gak pengen kemana- mana. Aku pengen mengistirahatkan otak dan tubuhku.</p>
<p>&#8220;Lho&#8230; Kog gitu sihh.. Emangnya kenapa? Kamu sakit?&#8221;. Suara Juna terdengar kecewa.</p>
<p>&#8220;Engg&#8230; Enggak sih.. Cuma&#8230;.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kamu lagi ada masalah ya&#8230;?&#8221; tiba- tiba saja Juna memotong ucapanku. Dan tepat sasaran. Aku skak matt.</p>
<p>&#8220;Udahlah&#8230; Cerita aja sama aku kalau kamu ada masalah sayang&#8230; Siapa tahu saja aku bisa ngebantuin kamu&#8230;&#8230;&#8221;.</p>
<p>&#8220;Jun&#8230;&#8230;&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Iya&#8230;&#8230;&#8230;.&#8221;.</p>
<p>Tapi tiba- tiba keraguan kembali menyeruak kedalam benakku. Aku pengen banget nyeritain semua yang terjadi. Tentang Dino yang manfaatin Bimo buat dapetin Juna lagi. Tapi tiba- tiba aja aku ragu. Aku gak mau ngelibatin lebih banyak orang lagi. Ini masalahku dan Dino. Gak perlu melibatkan Juna. Dan seharusnya gak perlu pula melibatkan Bimo.</p>
<p>&#8220;Ah&#8230; Bukan masalah penting kog Jun&#8230;&#8221; tegasku kemudian sambil menghela napas panjang.</p>
<p>&#8220;Hem&#8230; Yaudah kalau kamu gak mau cerita. Mungkin belum saatnya. Tapi ntar sore kamu harus nemenin aku pergi.&#8221;</p>
<p>&#8220;Tapi Jun&#8230;.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kalau kamu gak mau, aku bakal tetep jemput ke rumah kamu.&#8221;</p>
<p>aku mengkerut. Menyerah.</p>
<p>&#8220;Yaudah deh&#8230; Aku mau..&#8221;</p>
<p style="text-align:center;">
***</p>
<p>&#8220;Sayang???&#8221;<br />
&#8220;Hemm????&#8221;.<br />
&#8220;Sayang kamu kenapa sih?&#8221;.<br />
&#8220;Eh??&#8221;.<br />
&#8220;Haloooo&#8230;&#8230;&#8230;Kamu kenapa sih bengong aja dari tadi???&#8221;.</p>
<p>Juna menggoyang- goyangkan tanganku sambil menatapku dengan nanar. Berharap menyadarkanku dari lamunan panjang. Seketika aku terkesiap. Aku baru sadar kalau sedari tadi aku bengong dan gak ngedengerin omongan Juna sama sekali. Aku menoleh pada Juna yang duduk dihadapanku sambil menyedot segelas <em>Ice Blended Coffee</em> yang tinggal separuh. Di kursi sampingnya, tergeletak beberapa kantong tenteng yang berisi bermacam- macam pernak pernik dan aksesori ala Lady Gaga yang baru saja kami beli.</p>
<p>&#8220;Eh&#8230;. Nggak papa kog&#8230;&#8221;. Aku langsung terperanjat dan membenarkan letak duduk yang gak salah sama sekali.</p>
<p>&#8220;Kamu lagi ada masalah ya?&#8221;. Tatapan tajam Juna menusuk- nusuk arogansi ku.</p>
<p>&#8220;Eh&#8230; Enggak kog&#8230;&#8221;.</p>
<p>&#8220;Jujur deh&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Enggak&#8230; Beneran aku gak kenapa- kenapa.&#8221;</p>
<p>&#8220;Tapi kenapa dari tadi kamu bengong aja sih??? Aneh deh&#8230; Aku tahu kamu. Kalau kamu bengong begini, kamu pasti lagi ada masalah. Udaah cerita aja&#8230;.&#8221;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/duniakeciltito.wordpress.com/83/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/duniakeciltito.wordpress.com/83/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/duniakeciltito.wordpress.com/83/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/duniakeciltito.wordpress.com/83/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/duniakeciltito.wordpress.com/83/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/duniakeciltito.wordpress.com/83/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/duniakeciltito.wordpress.com/83/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/duniakeciltito.wordpress.com/83/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/duniakeciltito.wordpress.com/83/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/duniakeciltito.wordpress.com/83/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/duniakeciltito.wordpress.com/83/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/duniakeciltito.wordpress.com/83/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/duniakeciltito.wordpress.com/83/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/duniakeciltito.wordpress.com/83/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=duniakeciltito.wordpress.com&amp;blog=31697152&amp;post=83&amp;subd=duniakeciltito&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://duniakeciltito.wordpress.com/2012/02/04/me-him-lady-gaga-11/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e2aafea6a70a86db7cbe62af6500729b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">bagustito20</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>ME, HIM &amp; LADY GAGA [10]</title>
		<link>http://duniakeciltito.wordpress.com/2012/02/04/me-him-lady-gaga-10/</link>
		<comments>http://duniakeciltito.wordpress.com/2012/02/04/me-him-lady-gaga-10/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 04 Feb 2012 15:56:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bagustito20</dc:creator>
				<category><![CDATA[GAY LITERATURE]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://duniakeciltito.wordpress.com/?p=81</guid>
		<description><![CDATA[TUJUH BELAS GAGA, IM IN LOVE! Woooo&#8230;.ooooooooo&#8230; I&#8217;m in love with Judas&#8230;. Judaa..aas wooo&#8230;..oooooo&#8230;. I&#8217;m in love with Judaa..as..Judaa..as AKU kembali nyengir begitu melihat pantulan wajahku pada cermin persegi di dinding kamarku. Enggak tahu kenapa hari ini aku bawaannya pengen nyengir mulu. Lagu Judas yang kuputar kencang dari mp4 playerku seakan cocok dengan suasana hatiku [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=duniakeciltito.wordpress.com&amp;blog=31697152&amp;post=81&amp;subd=duniakeciltito&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:right;"><strong>TUJUH BELAS</strong><br />
<strong> GAGA, IM IN LOVE!</strong></p>
<p><em>Woooo&#8230;.ooooooooo&#8230;</em><br />
<em> I&#8217;m in love with Judas&#8230;. Judaa..aas</em><br />
<em> wooo&#8230;..oooooo&#8230;.</em><br />
<em> I&#8217;m in love with Judaa..as..Judaa..as</em></p>
<p>AKU kembali nyengir begitu melihat pantulan wajahku pada cermin persegi di dinding kamarku. Enggak tahu kenapa hari ini aku bawaannya pengen nyengir mulu. Lagu Judas yang kuputar kencang dari <em>mp4 player</em>ku seakan cocok dengan suasana hatiku saat ini. Ya. Aku udah baikan sama Juna. Dan bahkan aku udah resmi jadian dan jadi pacar benerannya. Bukan pacar boongan seperti yang aku jalani sebelumnya. Rasanya aku ingin berteriak sekencang- kencangnya. Ingin kukatakan<em> Gaga! I&#8217;m in love</em> pada semua orang di dunia ini. Rasanya pagi ini matahari bersinar tiga kali lebih cerah buatku.</p>
<p style="text-align:center;">***</p>
<p>tok&#8230;tokk&#8230;tokkk&#8230;<br />
&#8220;Tit&#8230; Kamu lagi ngapain sihh&#8230; Kog lama banget&#8230; Ntar kalo telat gimana?????&#8221;.</p>
<p>Terdengar suara pintu kamarku diketuk bersamaan dengan suara mama yang khas. Membuyarkan lamunan indahku bersama Juna.</p>
<p>&#8220;Iya&#8230;. Ma&#8230;.. Bentar lagi&#8230; Lagi sisiran nihh&#8230;&#8221; sahutku dari dalam sambil sibuk membentuk rambutku yang sudah agak panjang dengan <em>styling wax.</em></p>
<p>&#8220;Yaudah, buruan&#8230; Udah ditungguin tuh.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ditungguin siapa ma?&#8221;. Tanyaku kemudian.<br />
Tapi tak ada jawaban. Yang terdengar hanya suara langkah kaki yang kian menjauh. Huh dasar mama, diajak ngobrol kog malah pergi, gerutuku kesal. Lantas aku bergegas menyelesaikan sentuhan akhir pada rambutku dan segera menyambar tas selempang favoritku yang sudah kusiapakan diatas kasur sedari tadi. Dengan penasaran aku mulai mengayun kakiku keluar kamar. Tapi kusempatkan untuk mengucapkan &#8216;<em>selamat pagi&#8217;</em> pada poster Lady Gaga yang terpajang di pintu kamarku dulu. Mungkin buat kalian ini gila, tapi inilah tanda bukti cintaku pada artis yang paling kukagumi sejagat raya itu. Begitu selesai aku langsung menuruni tangga menuju ruang tamu dibawah dengan penuh rasa penasaran. Memangnya siapa orang yang kerajinan nungguin aku sepagi ini. Apa mungkin Bimo? Tapi gak mungkin lah, ini hari sabtu. Bimo kebagian tugas jadi PKS. Jadi amat sangat gak mungkin kalau dia kerajinan nyamperin aku. Pasti dia langsung berangkat ke sekolah.</p>
<p style="text-align:center;">
***</p>
<p>Dan perlahan kakiku mulai menjejak anak tangga dan menapakkan langkah demi langkah menuju ruang tamu. Dan aku tersentak kaget begitu melihat seorang cowok yang lagi asyik mengobrol dengan mama di sofa ruang tamu yang berwarna <em>burgundy.</em></p>
<p>&#8220;Juna??? &#8220;. Aku setengah melongo begitu melihat Juna.</p>
<p>&#8220;Hei Tit&#8230;. Udah siap berangkat?&#8221;. Sahut Juna dengan senyum tipisnya yang aduhai.</p>
<p>&#8220;Ngap&#8230;&#8230;.&#8221;</p>
<p>&#8220;Eh Titonya udah siap tuh nak Juna&#8230; Yaudah berangkat sekarang aja deh&#8230;. Nanti terlambat lagi&#8221;. Mama memotong pembicaraanku sebelum aku sempat menyelesaikan satu kata.</p>
<p>&#8220;Yaudah Tante&#8230; Kami berangkat dulu ya??&#8221;. Juna lantas berdiri dan mendekat kearahku. Sementara mama cuma mengangguk dan membalas senyuman Juna. Aneh. Sejak kapan mama dan Juna saling kenal? Kog mereka bisa akrab begitu?.</p>
<p>&#8220;Eh.. I&#8230;iya.. Udah.. Kami berangkat dulu ya ma&#8230;..&#8221;.</p>
<p>&#8220;Iyya&#8230; Ati- ati ya sayang&#8230;.&#8221;.</p>
<p>&#8220;Ya, Ma&#8230; Assalamu&#8217;alaikum..&#8221;</p>
<p>&#8220;Wa&#8217;alaikum sallam.&#8221;<br />
jawab mama. Dan kamipun segera bergegas melangkahkan kaki menuju halaman depan. Meninggalkan mama yang masih sok imut membalas lambaian tangan Juna. Huh, dasar mama, gak bisa lihat cowok bening dikit aja.</p>
<p style="text-align:center;">
***</p>
<p><em> &#8220;Stopp.</em>.. Lepasin tangan gue&#8230;!&#8221;. Aku setengah berteriak sambil melepaskan genggaman tangan Juna di tanganku. Kami berdiri di samping mobil Jazz Juna yang udah nangkring&#8230; Eh maksudku terparkir rapi di halaman rumahku.</p>
<p>&#8220;Ngapain sih lo pake acara nyamperin gue ke rumah???&#8221;. Aku bersungut melayangkan tatapan interogasi pada Juna.</p>
<p>&#8220;Lohh&#8230; Emangnya kenapa?&#8221; juna malah menatapku dengan tatapan aneh.</p>
<p>&#8220;Ya aneh aja&#8230;. Selama ini gue gak pernah bawa temen cowok ke rumah. Cuma Bimo yang sering kesini. Gue takut kalo nanti mama curiga &#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Ye&#8230; Ngapain juga mama kamu mesti curiga say&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Yaiyalah&#8230;.. Orang mama kan gak pernah ngeliat lo sebelumnya&#8230; Pasti dia curiga dong kalau tiba- tiba ngeliat lo akrab ria sama gue.&#8221; aku mencak- mencak.</p>
<p>&#8220;Say&#8230;&#8221; Juna menggenggam tanganku.</p>
<p>&#8220;Apa?&#8221;.</p>
<p>&#8220;Bisa gak kamu rubah kebiasaan kamu manggil aku pake &#8216;lo-gue&#8217;?&#8221;.</p>
<p>&#8220;Emangnya kenapa?&#8221;.</p>
<p>&#8220;Ya aneh aja lah&#8230; Orang kita kan udah pacaran sekarang, aku gak suka kalau kamu manggil aku kayak gitu. Gak romantis tau&#8230;&#8221; Juna manyun.</p>
<p>&#8220;Yee&#8230; Gitu aja ngomel&#8230; Iya iya&#8230; Aku janji gak bakal manggil kamu pakai &#8216;lo-gue&#8217; lagi&#8230;. Udah dong jangan ngambek, kan jadi jelek&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Biarin jelek, yang penting kan kamu suka.&#8221; Juna menjulurkan lidahnya, meledekku.</p>
<p>&#8220;Meskipun Juna jelek kan Titio tetep sayang sama Juna&#8230; Wekk&#8230;wekkkk.&#8221;</p>
<p>Juna tambah semangat meledekku. Aku hanya tersenyum tipis. Ya. Aku memang sudah terlanjur mencintai Juna. Meski seperti apapun Juna, aku tetap menyayanginya. Tak perduli dia ganteng atau jelek. Tapi untungnya dia ganteng hehehehey&#8230;.. Kalo gak, bisa pingsan seratus hari aku gara- gara ditembak sama dia.</p>
<p>&#8220;Lagian emang kenapa sih kog tiba- tiba aja kamu ngejemput aku gini&#8230; Gak biasanya deh.&#8221; tanyaku sambil melangkah masuk kedalam mobil Juna.</p>
<p>&#8220;Emangnya kenapa?&#8221;.</p>
<p>&#8220;Ya gak papa siihh&#8230; Cuma&#8230; Ya gak biasanya aja&#8230;.&#8221;</p>
<p>Juna tak segera menjawab. Tapi menelusurkan tangannya pada tanganku. Kemudian ia genggam lembut sambil menatapku. &#8220;Mulai sekarang&#8230; Aku akan ngejemput dan nganterin kamu ke sekolah&#8230;. Aku kan sudah janji kalau bakal jadi orang yang selalu ada kalau kamu butuhin. Ya inilah caranya aku membuktikan kata- kataku.&#8221;<br />
Terus terang aku tersipu banget sama kata- kata Juna barusan. Gak nyangka kalau ternyata dia bisa ngegombal juga. Udah gitu gombalannya romantis pula. Aish, sialan. Aku jadi deg- degan dibuatnya.</p>
<p>&#8220;Memangnya kamu gak suka kalau aku perhatiin kamu?&#8221; tambah Juna.</p>
<p>&#8220;Eh? Su&#8230; Suka kog&#8230;.&#8221;</p>
<p>&#8220;Lalu apa masalahnya?&#8221;.</p>
<p>&#8220;Enggak ada sihh&#8230; Cuma&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Cuma apa?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya&#8230; Aku takut aja kalau mama curiga sama aku dan kamu.&#8221;</p>
<p>Juna kembali tersenyum. Membuat aku nyaris koid.</p>
<p>&#8220;Yaelah&#8230; Ngapain juga mama kamu curiga&#8230; Asal kamu tahu sayang, aku sama mama kamu itu udah akrab dan mengenal satu sama lain, jadi gak mungkin lah dia bakal curiga sama aku.&#8221;</p>
<p>Aku melotot. &#8220;Hah?&#8221;</p>
<p>&#8220;Kamu gak liat tadi waktu aku ngobrol sama mama kamu akrab banget?&#8221;</p>
<p>&#8220;Li&#8230; Lihat sihh..&#8221;</p>
<p>&#8220;Nah itu&#8230;. Aku sama mama kamu itu udah akrab. Mama ku kan temen arisannya mama mu.. Jadi aku sering ketemu dan ngobrol sama mama mu waktu nganterin mama arisan. Bahkan aku sudah dianggap anaknya sendiri. Jadi kamu nggak perlu khawatir.&#8221;</p>
<p>&#8220;Oh&#8230;&#8221; bibirku membulat.</p>
<p>&#8220;Yaudah&#8230; Kalau begitu kita berangkat sekarang ya?&#8221; Juna mengalihkan pandangannya ke depan. Tangannya memutar kunci mobil dan menekan tombol starter.</p>
<p>&#8220;Eh&#8230; Sebentar&#8230; Sebentar dulu&#8230;.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ada apa lagi?&#8221;</p>
<p>&#8220;Anu&#8230;.. Katamu dulu&#8230; Kamu gak biasa bawa mobil ke kampus? Kog sekarang kamu malah bawa mobil?&#8221;. Tanyaku penasaran.</p>
<p>Juna tersenyum sesaat. &#8220;Memangnya siapa yang mau ke kampus?&#8221;.</p>
<p>&#8220;Hah???&#8221;.</p>
<p>&#8220;Kamu gak nyadar ya kalau hari ini tuh tanggal merah?&#8221;.</p>
<p><em>&#8220;Whatttt???</em>???&#8221;. Aku tiba- tiba tersentak kaget. Tanpa pikir panjang, segera mataku beralih menuju kalender mini yang terpajang di <em>dashboard</em> mobil. Sebentar mataku menyusuri deretan angka- angka pada kalender tersebut. Dan aku berhenti pada sebuah angka. Ya. Hari ini memang tanggal merah. Sialannnnnnnn. Kalau gitu mama juga lagi ngerjain aku donggggg.. Huh.</p>
<p>&#8220;Hahaha&#8230;. Gimana? Masih gak percaya kalau hari ini tanggal merah?&#8221;. Juna tertawa sambil melirik kearahku. Sementara aku cuma sewot melirikkan mataku.</p>
<p>&#8220;Kalau hari ini tanggal merah. Trus kita mau kemana?&#8221;, tukasku kemudian.</p>
<p>&#8220;Emmm&#8230;&#8230;.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kemana?&#8221;, tanyaku penasaran.</p>
<p>&#8220;Bagaimana kalau kita nge-<em>date</em> aja say&#8230;??&#8221;</p>
<p>&#8220;Nge-<em>date</em>?&#8221;. Sentakku.</p>
<p>&#8220;Iya. Hari ini kan hari pertama kita sebagai pasangan kekasih, jadi harus romantis- romantisan seharian penuh dong&#8230;.&#8221;</p>
<p>&#8220;Hemmm&#8230;.&#8221; aku cuma bergumam.</p>
<p>&#8220;Enaknya kita kemana yahhh???&#8221;.</p>
<p>&#8220;Terserah kamu aja deh Jun&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Yakin?&#8221;.</p>
<p>&#8220;Iya&#8221;. Aku menggangguk.</p>
<p>&#8220;Kalau gitu&#8230;. Kita kencan dikamarku aja gimana?&#8221;</p>
<p><em>&#8220;Whatttt?</em>???????&#8221;</p>
<p>&#8220;Hahaha&#8230;. Enggak- enggak&#8230; Bercanda kog&#8230; Yaudah kita jalan- jalan aja deh&#8230; Heheh&#8230;..&#8221;</p>
<p>Lantas Juna mulai melajukan mobilnya menerabas jalanan lengang ibu kota.</p>
<p style="text-align:right;">
<strong>DELAPAN BELAS</strong><br />
<strong> A LOVE FOR BIMO</strong></p>
<p>&#8220;TITOOOOOOOOOOO!!!!!!!!!!!!!&#8221;</p>
<p>Aku baru saja menginjakkan kakiku di depan pintu kelas saat Bimo sekonyong- konyong teriak sambil mencak- mencak menghampiriku. Mukanya yang ala- ala Betty La Fea jadi tambah parah dengan ekspresi yang dibuat- buat. Bimo emang gak bakat buat ngomel atau marah- marah, mungkin takdirnya adalah memasang muka <em>cool</em> dan alim. Beneran, gak cocok dia mencak- mencak kayak gini.</p>
<p>&#8220;Ah&#8230; Apaan sih.. Paggi- pagi udah teriak- teriak aja lo&#8230; Abis sarapan <em>pelet</em> (pakan burung) ya?????&#8221;. Aku melangkah menuju bangkuku sambil melirik sekeliling. Baru ada si Siska dan Bimo yang dateng.</p>
<p>&#8220;Elo kemaren kemana aja siihh??? Gue telponin kog gak diangkat- angkattt&#8230;. Jahat dehh&#8230;.&#8221;.</p>
<p>&#8220;Hahaha&#8230; <em>Sorry</em> banget&#8230;. <em>Sorry&#8230; Sorry.</em>. Kemaren gue jalan sama Juna&#8230;<em> First date</em> gitu&#8230;..Jadi gak sadar deh kalau elo nelponin gue, hehe&#8230; <em>Sorry</em> ya.&#8221; aku tersenyum tipis sambil memasukkan tas selempangku kedalam laci meja.</p>
<p>&#8220;Hah? Emangnya elo sama Juna udah jadian?&#8221;. Bimo setengah terkaget.</p>
<p>&#8220;Udah.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kapan?&#8221;.</p>
<p>&#8220;Dua hari yang lalu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Hueehh&#8230;???? Kog gak bilang- bilang ke gue sih kalo lo udah jadian sama dia?&#8221;.</p>
<p>&#8220;Ye&#8230;. Salah sendiri elo ngacir waktu gue suruh nemenin gue minta maaf ke Juna&#8230;.&#8221;</p>
<p>&#8220;Hahaha&#8230;. Sorry deh&#8230; Kalo gitu&#8230; Mana traktirannya&#8230; Kalo gak nraktir gue&#8230; Awas aja lo&#8230;&#8221;</p>
<p>Aku bersungut dan menoleh kearah Bimo.</p>
<p>&#8220;Iye&#8230; Iye&#8230; Soal traktiran aja cepet&#8230; Omong- omong, lo udah ngerjain tugas Bahasa Jepang belon? Gue minjem dong, heheh&#8230;. Gue belom ngerjain, gara- gara teleponan sama Juna mulu, hehehe&#8230;.&#8221;.</p>
<p>&#8220;Yaelah&#8230; Dasar lo&#8230; Yaudah, nih.. Untung aja gue udah ngerjain..&#8221;</p>
<p>Lantas Bimo mengangsurkan sebuah buku tulis agak tebal berwarna hijau kepadaku.</p>
<p>&#8220;Padahal kemaren gue mau curhat sama elo..&#8221; Bimo setengah berbisik. Aku masih sibuk menyalin tugas Bahasa Jepang dari bukunya.</p>
<p>&#8220;Mau curhat apa lagi? Soal Iraz?&#8221;.</p>
<p>&#8220;Eh, bukan lah&#8230; Gue kan udah gak ada hubungan apa- apa sama dia&#8230; Jadi udahlah&#8230; Gak usah bahas soal Iraz lagi..&#8221; suara Bimo terdengar bete.</p>
<p>&#8220;Iye.. Iye.. Kalau gitu lo mau curhat apaan?&#8221;</p>
<p>&#8220;Gue&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Apaan?&#8221;. Sebenarnya aku penasaran. Namun tetap tak mengalihkan pandangan dari buku tulis dihadapanku.</p>
<p>&#8220;Gue udah punya gebetan baru dehh&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.&#8221;</p>
<p>Brekk. Tiba- tiba pulpen yang kupegang terjatuh. Aku terdiam. Kemudian kutolehkan wajahku pada Bimo.</p>
<p><em>&#8220;ARE YOU SERIOUUUUSSSSSS???????</em>&#8220;.</p>
<p>Ucapku setegah berteriak sambil menggusak rambut keriting Bimo.</p>
<p>&#8220;<em>Yepp&#8230; I think</em>&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Huaaaa&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.. Keren! Ini bener- bener keren&#8230;..! Gue baru aja dapet pacar, dan sekarang, elo dapet gebetan juga???? Waaahhh&#8230; Kayaknya kita emang sehati deh&#8230;. Huahahahah.&#8221;</p>
<p>&#8220;Oh ya?&#8221;.</p>
<p>&#8220;Iya dong&#8230; Tuhan emang tahu banget apa yang harus Dia lakukan sama kita&#8230; Hahah&#8221;</p>
<p>&#8220;Gheheh.. Kurasa itu agak berlebihan.&#8221;</p>
<p>&#8220;Eh&#8230; Emangnya siapa gebetan lo? Cakep gak?&#8221;. Aku melayangkan tatapan penuh selidik.</p>
<p>&#8220;Emm&#8230; Cakep.&#8221;</p>
<p>&#8220;Keren gak?&#8221;</p>
<p>&#8220;Keren.&#8221;</p>
<p>&#8220;Trus&#8230; Trus&#8230; Dia anak sekolahan apa anak kuliahan?&#8221;</p>
<p>&#8220;Kuliahan&#8230; Dia mahasiswa Universitas Pancasila.&#8221;</p>
<p>&#8220;Serius??&#8221;</p>
<p>&#8220;Iya&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Hua keren! Kog bisa ya kita berdua dapet anak kuliahan semua, hahah.&#8221;</p>
<p>Bimo cuma senyum.</p>
<p>&#8220;Trus&#8230; Trus&#8230; Trus&#8230; Namanya siapa?&#8221;.</p>
<p>&#8220;Emm&#8230; Siapa ya?????&#8221;.</p>
<p>&#8220;Ahhh&#8230; Bimo jangan bikin penasaran deh&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Namanya&#8230;.&#8221;</p>
<p>&#8220;Siapa?&#8221;</p>
<p>&#8220;Namanya&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Ihhh&#8230; Siapa&#8230;&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Dino.&#8221; jawab Bimo singkat namun benar- benar membuatku terkaget bukan kepalang.</p>
<p>&#8220;Hah???? Dinooo????&#8221;.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/duniakeciltito.wordpress.com/81/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/duniakeciltito.wordpress.com/81/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/duniakeciltito.wordpress.com/81/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/duniakeciltito.wordpress.com/81/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/duniakeciltito.wordpress.com/81/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/duniakeciltito.wordpress.com/81/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/duniakeciltito.wordpress.com/81/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/duniakeciltito.wordpress.com/81/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/duniakeciltito.wordpress.com/81/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/duniakeciltito.wordpress.com/81/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/duniakeciltito.wordpress.com/81/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/duniakeciltito.wordpress.com/81/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/duniakeciltito.wordpress.com/81/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/duniakeciltito.wordpress.com/81/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=duniakeciltito.wordpress.com&amp;blog=31697152&amp;post=81&amp;subd=duniakeciltito&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://duniakeciltito.wordpress.com/2012/02/04/me-him-lady-gaga-10/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e2aafea6a70a86db7cbe62af6500729b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">bagustito20</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>ME, HIM &amp; LADY GAGA [9]</title>
		<link>http://duniakeciltito.wordpress.com/2012/02/04/me-him-lady-gaga-9/</link>
		<comments>http://duniakeciltito.wordpress.com/2012/02/04/me-him-lady-gaga-9/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 04 Feb 2012 15:50:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bagustito20</dc:creator>
				<category><![CDATA[GAY LITERATURE]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://duniakeciltito.wordpress.com/?p=79</guid>
		<description><![CDATA[LIMA BELAS THE SECRETS &#8220;Elo beneran yakin kalau ini rumahnya Juna?&#8221;. Aku kembali mendongakkan kepala ke arah Bimo. Kami berdua sedang berdiri sambil melongok- longok didepan sebuah rumah mewah bercat biru. Jam menunjuk pukul dua. Dan matahari menyengat dengan ganasnya dikejauhan langit. &#8220;Udahlah percaya sama gue.&#8221; Bimo setengah melirik kepadaku. Kemudian melengos dan mengangsurkan tangannya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=duniakeciltito.wordpress.com&amp;blog=31697152&amp;post=79&amp;subd=duniakeciltito&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:right;"><strong>LIMA BELAS</strong><br />
<strong> THE SECRETS</strong></p>
<p>&#8220;Elo beneran yakin kalau ini rumahnya Juna?&#8221;.<br />
Aku kembali mendongakkan kepala ke arah Bimo. Kami berdua sedang berdiri sambil melongok- longok didepan sebuah rumah mewah bercat biru. Jam menunjuk pukul dua. Dan matahari menyengat dengan ganasnya dikejauhan langit.</p>
<p>&#8220;Udahlah percaya sama gue.&#8221;<br />
Bimo setengah melirik kepadaku. Kemudian melengos dan mengangsurkan tangannya untuk menekan bel yang ada di sebelah kanan pagar. Ting tong. Bel berbunyi sekali. Namun tidak ada jawaban. Sialan, apa Juna gak dirumah ya? Tapi tadi kan si Bimo udah sms Juna kalo kami mau datang. Jadi mustahil dong kalo dia keluar. Bimo memencet bel itu sekali lagi. Ting tong. Tepat pada bel kedua terdengar sahutan seseorang dari arah dalam rumah.</p>
<p>&#8220;Iya&#8230; Sebentar&#8230;&#8230;!!!&#8221;.<br />
Nampak Juna setengah berlari keluar dari dalam rumah dan menghampiri kami. Dia mengenakan kaos singlet warna hitam dan celana pendek bergaris warna putih. <em>Oh my Gaga!</em> Rasanya aku mau pingsan ngeliat Juna pake baju kayak gitu. Badannya terbentuk bagus dengan tinggi yang umayan ideal. Ditambah lagi rambut spike nya yang menantang langit semakin menambah ketampanan jasmaniahnya.</p>
<p style="text-align:center;">
***</p>
<p>&#8220;Hei <em>sorry</em> ya Bim, Tit&#8230; Udah lama??&#8221;. Kata Juna sambil membuka kunci pagar yang mengelilingi rumah mewah itu. Aku terdiam. Masih shock ngeliatin Juna.</p>
<p>&#8220;Ah&#8230; Belum kog, baru aja.&#8221; sahut Bimo setengah mengeluarkan cengiran kuda khasnya.</p>
<p>&#8220;Oh&#8230; Yaudah, ayo masuk dulu&#8230; Kita ngobrol di dalem&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Eitss&#8230;&#8221; Bimo tiba- tiba menyela. &#8220;Berhubung tugas gue disini cuma nganterin Tito sampe rumah lo, maka gue sampe sini aja yah&#8230; Gue mau pulang. Yang sebenernya ada urusan sama lo itu si Tito.&#8221;</p>
<p>Juna melengos kearahku. Aku gelagapan. &#8220;Eh&#8230; Eh&#8230; A&#8230;anuuu&#8230; Iya&#8230; Eh, maksudku iya&#8230; Aku ada perlu sama kamu.&#8221;</p>
<p>Sekilas Juna cuma tersenyum melihat aku yang udah kayak cicak tenggelem di bak mandi. Lalu dia mengangguk.</p>
<p>&#8220;Yaudah Tit&#8230; Jun&#8230; Gue cabut dulu ya&#8230;. Daaaa&#8230;.&#8221; Bimo lantas memacu kakinya untuk segera pergi meninggalkan kami. Dasar Bimo jahattt&#8230;. Orang disuruh nemenin minta maaf kog malah kabur. Sengaja banget dia mau ngebikin aku gelagapan gara- gara cuma berdua sama Juna.</p>
<p>&#8220;Kog bengong???&#8221;.<br />
Tiba- tiba Juna mengibas- ngibaskan tangannya di depan wajahku. Mencoba membuyarkan lamunanku.</p>
<p>&#8220;Eh&#8230; A&#8230; Anu&#8230; Aku&#8230; Sebenernya aku&#8230;..&#8221; grogiku sudah tingkat akut.</p>
<p>&#8220;Apa?&#8221;</p>
<p>&#8220;Aku&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Iya&#8230; Kamu kenapa?&#8221;</p>
<p>&#8220;Aku&#8230; Mau minta maaf sama kamu soal kemarin&#8230; Aku benar- benar minta maaf.&#8221; aku berusaha sekuat tenaga dan perasaan buat ngomongin kata itu. Rasanya susah naudzubillah. Kenapa aku selalu dag- dig- dug setiap ada Juna. Apa yang salah denganku.</p>
<p>&#8220;Oh&#8230; Soal itu.&#8221; juna mengangguk pelan.</p>
<p>&#8220;I&#8230;iya&#8230;.&#8221;</p>
<p>&#8220;Yaudah kita masuk dulu kedalam. Kita bisa ngobrol lebih dalam tentang kesalahpahaman ini. Aku juga ingin menunjukkan sesuatu sama kamu.&#8221;<br />
Juna meraih tanganku. Matanya menatap tajam ke mataku.</p>
<p>&#8220;I&#8230; Iya&#8230;&#8221;.</p>
<p style="text-align:center;">
***</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Lantas kami berdua mulai melangkahkan kaki memasuki rumah yang nampak sepi itu. Kata Juna, ayah ibunya belum pulang kerja, sementara adiknya yang cewek masih disekolah karena ada les tambahan. Alhasil, cuma ada Juna dan tiga orang pembantu yang berada di rumah yang gedenya nyaris kayak Istana Westminster ini. Sekilas kupandangi halaman depan rumah Juna. Tepat di depan garasi, terparkir motor Ninja milik Juna dan Mobil Jazz yang dulu pernah dipakai Juna buat ngejemput aku. Weittss&#8230; Kog itu garasi lebih mirip <em>showroom</em> kendaraan bermotor yah, hahahay.</p>
<p style="text-align:center;">
***</p>
<p>tep. Aku dan Juna berhenti tepat didepan sebuah pintu kamar yang terbuat dari kayu jati yang dipernis warna cokelat. Di pintu itu, terpampang palang yang bertuliskan &#8216;<em>DO NOT ENTER, JUNA&#8217;S ZONE</em>&#8216;. Aku meringis. Rupanya ni cowok rasis juga. Hahahay.</p>
<p>&#8220;Ini kamarku, sebelum kamu masuk, aku ada satu permintaan sama kamu&#8221;. Juna masih menggenggam tanganku.</p>
<p>&#8220;A.. Apa?&#8221;.</p>
<p>&#8220;Aku mohon, kamu jangan kaget ya ngeliat semua yang ada di dalam kamarku.&#8221;</p>
<p>Juna menatap mataku tajam. Aku terpaku. Aku keringatan. Nafasku sesak. Tiba- tiba saja aku gemetar. Memangnya apa yang ada di dalam kamar Juna sampai ia harus berkata demikian? Adakah rahasia atau sesuatu di dalamnya?<br />
&#8220;Me.. memangnya ada apa di dalam?&#8221;.</p>
<p>&#8220;Lihatlah saja sendiri nanti&#8221;.</p>
<p>Perlahan Juna mulai memutar gagang pintu dan menarik tanganku dengan lembut. Seperti kerbau dicocok hidung, aku hanya menurut daja tanpa melawan. Hatiku masih bertanya- tanya apa maksud Juna. Dan pintu kamar mulai terbuka sedikit demi sedikit. Siluet lampu yang temaram muncul dari pintu yang terbuka sedikit. Jantungku kian berdegup kencang saat aku mulai menapaki tiap jengkal ubin kamarnya.<br />
Daaannn&#8230;&#8230;. tiba- tiba saja aku terpaku diam saat sampai di dalam kamarnya. Aku kaget. Benar- benar kaget. Meskipun Juna telah memintaku tidak kaget, tapi aku masih saja tetap terpaku saat melihat isi kamar Juna. Di setiap senti dinding kamar Juna terpajang poster Lady Gaga dalam berbagai ukuran. ada yang besar, dan ada yang kecil. Semuanya memenuhi hampir tiap jengkal tembok putih itu. Sehingga seakan- akan poster itu adalah walpaper dinding. Dan yang lebih membuatku tak mengira, setelah kuperhatikan dengan seksama kumpulan poster- poster itu, aku baru sadar kalau poster itu membentuk sesuatu: wajahku. Ya Tuhan! apa aku sedang tidak bermimpi? Bagaimana Juna bisa melakukan hal seperti ini?.</p>
<p>&#8220;Kauu&#8230; kau.. bagaimana kau melakukannya Jun??&#8221;. Aku terbata melirik Juna yang tersenyum kearahku.</p>
<p>&#8220;Kenapa??? kamu nggak suka ya???&#8221;</p>
<p>&#8220;Bu&#8230; bukan begitu&#8230; a.. aku gak nyangka aja kamu bisa melakukannya&#8230;.&#8221;.Aku masih saja terbata. Rasanya amat sangat susah untuk berbicara untuk saat ini.</p>
<p>Tapi Juna hanya tersenyum. Lantas perlahan menghampiriku dan menggenggam erat jemariku. Matanya yang indah menatap tajam kearahku.</p>
<p>&#8220;Aku&#8230;. melakukannya&#8230; karena aku yakin aku bisa dan kau akan menyukainya.&#8221; Juna lalu bergegas menuju lemari pakaiannya dan mengambil sebuah kotak berukuran sedang. Lantas kembali menghampiriku yang terduduk diatas kasur.</p>
<p>&#8220;Aku ingin menunjukkan sesuatu kepadamu.&#8221; Kata Juna sambil mengeluarkan isi kotak yang tadi dibawanya. Ia mengeluarkan beberapa lembar foto dari dalam kotak itu. Dan diserahkan kepadaku. &#8220;Lihatah foto ini.&#8221;</p>
<p>Tanganku segera meraih lembar lembar foto usang itu. Seketika mataku terasa pedih . Foto yang kupegang adalah foto- foto Juna dan Josh saat upacara kelulusan mereka. Keduanya tampak tertawa bahagia daam balutan seragam sekolah yang telah tercoret oleh spidol dan cat semprot. Tiba- tiba saja bathinku terasa diiris beribu pisau tajam. Dadaku mendadak sesak. Aku rindu Josh.</p>
<p>&#8220;Josh adalah sahabat terbaik yang pernah kumiliki daam hidupku Tit&#8230;. namun aku tak pernah menyangka kalau sahabat terbaikku akan tewas di tanganku sendiri&#8230;. aku tak pernah menyangkanya sama sekali&#8230;.&#8221;<br />
Juna mendongakkan wajahnya sambil menutup mata. Berusaha menahan guncangan haru yang teramat sangat.</p>
<p>&#8220;Kumohon jangan menangis Tit&#8230;&#8230;&#8230;&#8221; Juna dengan sigap mengangsurkan sapu tangan kepadaku. Air mataku nyaris terjatuh.</p>
<p>&#8220;Aku tahu kau sangat mencintainya&#8230;.. aku tahu&#8230;.&#8221;</p>
<p>&#8220;Jun&#8230;. &#8220;</p>
<p>&#8220;Sama halnya sepertimu, aku juga merasa kehilangan sahabat terbaik yang pernah kumiliki. Aku juga amat menderita akan kepergian Josh Tit&#8230;&#8230;.&#8221; kata Juna sembari lembut memeluk bahuku. Aku hanya terisak dalam diam.</p>
<p>&#8220;Meskipun dia telah pergi, tapi aku yakin cintanya akan selalu ada di hatimu Tit. Aku tahu kalau dia juga sangat mencintaimu. Aku tahu perasaannya.&#8221;</p>
<p>&#8220;Jun&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8221; Hanya kata itu yang terucap dari bibir ku yang kelu.</p>
<p>&#8220;Tak usahlah lagi kamu menangisi kepergian Josh Tit&#8230;. Dia akan sedih kalau melihatmu bersedih&#8230;. &#8220;</p>
<p>&#8220;Tapi aku menyayangi Josh lebih dari apapun di dunia ini Jun&#8230; kau tak mengerti&#8230;.. aku mencintainya&#8230;. tapi kenapa ia tega meninggalkanku dalam kesendirian seperti ini&#8230;. kenapa&#8230;.&#8221;</p>
<p>Aku ambruk dalam pelukan Juna. Badanku bergetar. Rasanya aku sudah tak kuasa lagi menahan air mata yang memenuhi bola mataku. Dan air kesedihan pun tumpah di pipiku.</p>
<p>&#8220;Siapa bilang kau sendirian Tit&#8230; kau tak sendirian&#8230; ada aku dan Bimo yang siap menolong dan membuatmu bahagia setiap saat&#8230; &#8220;</p>
<p>Aku tak menjawab. Hanya terisak dalam tangis yang membahana.</p>
<p>&#8220;Aku akan selalu siap untu berada di sisimu kapanpun kau butuhkan Tit&#8230; Aku sudah berjanji pada Josh dan diriku sendiri&#8230;.. Aku akan menjadi pengganti Josh. Aku yang akan menjagamu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Apa maksudmu Jun?&#8221;</p>
<p>Juna tak menjawab. Ia merogoh saku celana pendeknya sebentar, dan kemudian memperlihatkan sebuah kotak kecil berwarna merah padaku. Aku hanya menatapnya aneh. Aku tak tahu kotak apa itu. Lantas Juna mulai membuka kotak itu. Dan ia keluarkan sebuah kalung. Kalung berbandul huruf &#8216;T&#8217; dan &#8216;J&#8217;. Kalung yang dulu pernah aku berikan pada Josh sebagai hadiah ulang tahunnya. Kalung yang menjadi kenanganku dengan lelaki pertama dalam hidupku.</p>
<p>&#8220;Lihat kalung ini Tit.&#8221; Juna mengangkat daguku agar wajahku berhadapan dengan wajahnya. Matanya masih menatapku. &#8220;Ijinkan aku menggantikan nama Josh dalam kalung ini. Biarkan huruf &#8216;J&#8217; dalam kalung ini berubah menjadi namaku, berubah menjadi &#8216;Juna&#8217; bukan &#8216;Josh&#8217; lagi&#8230;. Ijinkan aku untuk menggantikan dia yang telah pergi Tit&#8230;&#8230;.&#8221;</p>
<p>Aku tersentak mendengar ucapan Juna.</p>
<p>&#8220;A&#8230; APA MAKSUDMU JUN?????&#8221;</p>
<p>Juna lantas meraih kedua tanganku dan mengarahkannya pada kalung yang dibawanya. Ia letakkan kalung itu dalam genggamanku. Dan kemudian diarahkannya tanganku menuju lehernya.</p>
<p>&#8220;Pakaikan kalung ini padaku Tit&#8230;.. Ijinkan aku yang menggantikan Josh untuk mencintaimu&#8230;. Ijinkan aku untuk menjadi penggantinya.&#8221; Ucap Juna dengan suara yang nyaris tak dapat kudengar.</p>
<p>&#8220;A&#8230;. Aku&#8230;&#8230;&#8221; Mendadaktubuhku gemetar. Aku kehilangan suaraku. Lidahku seperti tercekat oleh berjuta keraguan yang tiba- tiba menyumpal seluruh kisi- kisi dalam hatiku. &#8220;Aku&#8230;. nggak&#8230; bisa&#8230; JUN&#8230;. aku nggak bisa melakukan ini&#8230;&#8230;.&#8221;</p>
<p>Juna bersungut. Ia arahkan tatapan interupsi padaku. &#8220;Kenapa Tit..?&#8221;</p>
<p>Aku menarik napas. Kemudian kuhempaskan kuat- kuat.<br />
&#8220;Sampai kapanpun&#8230;&#8230;.. Takkan pernah ada yang bisa menggantikan keberadaan Josh di daam hatiku&#8230; takkan pernah ada Jun&#8230; TAKKAN PERNAH ADAAA!!!!!!&#8221;.</p>
<p>&#8220;Kenapa Tit&#8230;&#8230;.. ???&#8221;</p>
<p>&#8220;Sampai kapanpun aku tetap mencintai Josh Jun&#8230;. aku tetap mencintainya&#8230;&#8230;&#8221;</p>
<p>Aku ambruk diterpa kerinduan terhadap Josh yang menggerogoti seluruh jajaran naluri dan kelelakianku.</p>
<p style="text-align:center;">
***</p>
<p>&nbsp;</p>
<p style="text-align:right;"><strong>ENAM BELAS</strong><br />
<strong>I LOVE YOU</strong></p>
<p>&nbsp;<br />
&#8220;Sampai kapanpun&#8230; Cuma dialah satu- satunya lelaki yang ada dalam hidupku&#8230;. Cuma dia&#8230;. Cuma dia Jun&#8230;&#8230;.&#8221;.</p>
<p>Tangisku kian kencang, tubuhku kian bergetar. Entah kenapa nafasku begitu sesak. Seakan otakku dipenuhi memori- memori buram tentang masa lalu itu.</p>
<p>&#8220;Tapi dia telah pergi Tit&#8230;. Dia telah pergi untuk selamanya&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;LANTAS KENAPA KALAU DIA PERGI!!!!!? APA KAU BISA SEENAKNYA MENGGANTIKAN DIA?? KAU MEMPERMAINKANKU JUN&#8230; KAU MEMPERMAINKAN PERASAANKU!!&#8221;. Teriakku gusar.</p>
<p>&#8220;Aku tahu kau amat mencintainya Tit&#8230; Tapi bagaimanapun, kau takkan pernah bisa terus berharap padanya&#8230; Ia telah pergi&#8230; Ia telah berada di dunia yang jauh dari dunia kita.&#8221; Juna setengah berbisik. Tangannya masih kuat menggenggam jemari- jemariku.</p>
<p>&#8220;Aku mencintai Josh&#8230; Jun&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Aku tahu&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Aku mencintainya&#8230; AKU MENCINTAI JOSHHH JUUUNNNNNNN&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.!!!!!&#8221;.<br />
&#8230;..PLAKKKKK!!!!!</p>
<p>&nbsp;<br />
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi kiriku. Aku langsung ambruk diterpa duka yang menggoncangkan seluruh jajaran nurani dan naluri kelelakianku. Juna hanya menatap ku hampa sambil mengangkat tangan kanannya. Juna telah menamparku. Ya. Dia telah menamparku.</p>
<p>&#8220;Sampai kapan kau terus berharap pada Josh, Tit&#8230;. SAMPAI KAPAN KAU AKAN TERUS BERHARAP SESUATU YANG TAK PASTI DARINYA??????&#8221; Juna berteriak dengan gusar.</p>
<p>Aku kian mengkerut. Menahan wajah dan pipiku yang panas dan memerah.</p>
<p>&#8220;Sampai kapan kau akan terus mengharapkan Josh&#8230;&#8230; Dia telah berada di dunia yang jauh dari duniamu&#8230;..&#8221;<br />
&#8220;Junn&#8230; Aku&#8230;&#8230;.&#8221;</p>
<p>&#8220;Sadarlah Tit&#8230;. Sadarlahh&#8230; Dia telah pergi jauh darimu&#8230;.. Akulah yang ia kirimkan untuk menggantikannya mencintaimu&#8230;&#8230;.&#8221;.</p>
<p>Juna mendadak ambruk. Tubuhnya jatuh dan menimpa tubuhku yang lunglai. Aku masih terisak. Juna lantas menggeserkan tubuhnya pada tubuhku. Dan dipeluknya.</p>
<p>&#8220;Asal kau tahu saja Tit&#8230; Aku tak penah sedikitpun berniat untuk mempermainkanmu&#8230;. Asal kau tahu saja&#8230; AKU MENCINTAIMU LEBIH DARI BAGAIMANA JOSH MENCINTAIMU!!!!!&#8221;. Pekik Juna sambil memelukku lebih erat.</p>
<p>Aku hanya meringkuk. Hanya bisa terdiam. Ketakutan. Aku tak tahu apa yang harus aku katakan dan lakukuan&#8230; Duniaku telah menjadi gelap tanpa cahaya. Aku telah hancur&#8230;. Sehancur- hancurnya.</p>
<p>&#8220;<em>I love you Tit&#8230;.. I love you&#8230;..</em>&#8230;&#8221; Pelan- pelan Juna merangkak dan menaikkan tubuhnya. Lantas ia mengecup keningku dengan lembut. Aku terpaku. Tangisku kian pecah.</p>
<p>&#8220;Jun&#8230;. A&#8230; A&#8230;aku&#8230;&#8230;.&#8221;</p>
<p>&#8220;Katakan Tit&#8230;. Katakan kalau kau juga mencintaiku&#8230;. Katakan padaku&#8230;. Biar Josh tahu bagaimana kita saat ini&#8230;.&#8221; Juna kian lekat mendekapku.</p>
<p>&#8220;Jun&#8230; A&#8230;akkkuu&#8230;..&#8221;</p>
<p>&#8220;Katakan Tit&#8230;..&#8221;</p>
<p>&#8220;Aku&#8230;.a&#8230;..akuu&#8230; Juga&#8230;.. Mencintaimu Junnn&#8230;&#8230;..&#8221;.<br />
Akhirnya kata- kata itu meluncur dengan cepat dari bibirku. Bukan karena terpaksa atau karena ancaman Juna aku mengatakannya. Tapi karena sesungguhnya aku juga telah mencintainya. Jauh sejak aku dan Juna pertama kali berjumpa. Di sana. Di loket tiket itu.</p>
<p>&#8220;Kau&#8230;. Kau kau serius Tit&#8230;.&#8221; juna menempelkan bibirnya pada pipiku sembari berbisik pelan. Nafasnya yang hangat menerpa leherku.</p>
<p>Aku hanya menggangguk pelan. &#8220;I&#8230; Iya&#8230; Jun&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Te&#8230; Terima kasih Tit&#8230; Terima kasih sayang&#8230;&#8230;&#8230; Aku janji&#8230; Aku berjanji pada diriku dan pada Josh&#8230; Aku pasti akan membahagiakanmu&#8230; Pasti&#8230;.&#8221;</p>
<p>&#8220;A&#8230;. Aku mempercayainya Jun&#8230; Aku percaya&#8230;..&#8221;.</p>
<p>&#8220;Jadi mulai saat ini&#8230;. Huruf &#8216;J&#8217; di kalung ini berubah menjadi namaku? Bukan &#8216; Josh&#8217; tapi &#8216;Juna&#8217;&#8230; Iya kan Tit&#8230;.???&#8221;</p>
<p>sekali lagi aku hanya mengannguk lembut. &#8220;I&#8230; Iya sayang&#8230;..&#8221;</p>
<p>&#8220;<em>I love you&#8230; More than everything in this world&#8230; I love you&#8230; I love you&#8230;&#8230;&#8230;i love you..&#8221;</em></p>
<p>pelukan Juna kian terasa erat di tubuhku. Aku nyaris kehilangan nafas. Aku bahagia.</p>
<p><em>&#8220;i love you too, Juna&#8230;.</em>&#8220;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/duniakeciltito.wordpress.com/79/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/duniakeciltito.wordpress.com/79/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/duniakeciltito.wordpress.com/79/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/duniakeciltito.wordpress.com/79/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/duniakeciltito.wordpress.com/79/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/duniakeciltito.wordpress.com/79/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/duniakeciltito.wordpress.com/79/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/duniakeciltito.wordpress.com/79/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/duniakeciltito.wordpress.com/79/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/duniakeciltito.wordpress.com/79/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/duniakeciltito.wordpress.com/79/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/duniakeciltito.wordpress.com/79/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/duniakeciltito.wordpress.com/79/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/duniakeciltito.wordpress.com/79/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=duniakeciltito.wordpress.com&amp;blog=31697152&amp;post=79&amp;subd=duniakeciltito&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://duniakeciltito.wordpress.com/2012/02/04/me-him-lady-gaga-9/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e2aafea6a70a86db7cbe62af6500729b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">bagustito20</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>ME,HIM &amp; LADY GAGA [8]</title>
		<link>http://duniakeciltito.wordpress.com/2012/02/01/75/</link>
		<comments>http://duniakeciltito.wordpress.com/2012/02/01/75/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 01 Feb 2012 16:35:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bagustito20</dc:creator>
				<category><![CDATA[GAY LITERATURE]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://duniakeciltito.wordpress.com/?p=75</guid>
		<description><![CDATA[DUA BELAS O.M.G (OH MY GAGA) Tiba- tiba saja aku jadi terdiam di depan Juna. Lidahku seperti dibekukan oleh sekulkas es batu. Aku benar- benar trpaku oleh ucapannya barusan. Gak nyangka kalau Juna orangnya lumayan nyastra juga. Dan entah kenapa aku jadi merasa nyaman dengannya yang lekat menatapku. Sumpah demi Tuhan ini aneh banget. Bayangin [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=duniakeciltito.wordpress.com&amp;blog=31697152&amp;post=75&amp;subd=duniakeciltito&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:right;"><strong>DUA BELAS</strong><br />
<strong> O.M.G (OH MY GAGA)</strong></p>
<p>Tiba- tiba saja aku jadi terdiam di depan Juna. Lidahku seperti dibekukan oleh sekulkas es batu. Aku benar- benar trpaku oleh ucapannya barusan. Gak nyangka kalau Juna orangnya lumayan nyastra juga. Dan entah kenapa aku jadi merasa nyaman dengannya yang lekat menatapku. Sumpah demi Tuhan ini aneh banget. Bayangin bebarapa menit lalu aku masih ngomel- ngomel gak jelas sama Juna, tapi sekarang aku malah nyengir- nyengir geje gara- gara mandangin si Juna. <em>Oh My Gaga!</em>! kurasa aku benar- benar gila.</p>
<p>&#8220;Tit?&#8221; ucap Juna tiba- tiba.</p>
<p>&#8220;Ya Jun&#8230;&#8230;.&#8221; jawabku sambil membalikkan badanku menghadap Juna. Tapi tiba- tiba, Ckrekk&#8230;. terdengar suara kamera digital menangkap gambarku.</p>
<p>&#8220;Huaaa&#8230;. aku kan jelekkk&#8230; kenapa dipotrettt Jun?????&#8221;. aku setengah berteriak berusaha merebut kamera Juna berharap bisa menghapus foto yang baru saja dipotretnya.</p>
<p>Tapi ternyata tubuh Juna yang lebih tinggi membuat usaha pengejaranku sia- sia. Namun aku tak patah arang, aku tetap aja mengejar Juna yang terus ketawa sambil menjauhkan kameranya dari jangkauanku.</p>
<p>Dan tiba- tiba&#8230;.. Brukkkkk!!!! aku terpeleset dan tubuhku ambruk hingga menindih tubuh Juna. Wajahnya kini begitu dekat denganku. Aku bisa merasakan desah nafasnya diwajahku. Tubuh kami menempel dengan rapat. Matanya yang cokelat menatap tajam ke mataku. Dan tiba- tiba saja Juna menutup matanya. Sialll!!! aku baru tersadar dengan apa yang barusan terjadi dan segera bangkit untuk menjauhkan tubuhku dari tubuh Juna.</p>
<p>&#8220;Huaaaaaaa!!!!!&#8221; teriakku sambil dengan cepat berdiri. Tapi juna masih saja berbaring dengan mata tertutup. Sesaat kemudian ia tertawa.</p>
<p>&#8220;Haahahahahahha&#8230;&#8230;.. Kamu kenapa Tit?? kog kayak ngelihat hantu gitu????&#8221; Juna setengah menyeringai menatapku. Ia tertawa nakal.</p>
<p>&#8220;Eghhh&#8230;. engg&#8230; enggak apa- apa kogggg&#8230;&#8230;.&#8221; Aku salah tingkah.</p>
<p>&#8220;Hahaha&#8230;&#8230; udah ah.. akamu laper gak? kita cari makan yukk???&#8221;</p>
<p>&#8220;Nggak mau&#8230;. hapus dulu foto yang barusan.&#8221;</p>
<p>&#8220;Lho&#8230; emangnya kenapa???? kan biar aku simpan trus bisa aku lihatin tiap hari??????&#8221;</p>
<p>&#8220;Pokonya hapussss!!!!&#8221;. Aku tetap ngotot. &#8220;Kalau enggak aku gak bakal mau nemenin kamu jalan- jalan lagi, aku bakal pulang sendirian dari sini.&#8221;</p>
<p>Tapi sialnya Juna malah semakin ngakak.<br />
&#8220;Silahkan aja. Emangnya amu tahu jalan di daerah sini????&#8221;.</p>
<p>&#8220;Emmmhh&#8230; ehhh&#8230;..&#8221;<br />
Dasar Tito begoooooo! Emangnya lo bisa pulang dari sini sendirian????</p>
<p>&#8220;Udah ah&#8230; ayo kita makan&#8230;.. aku udah laperr nihh&#8230;&#8221; Juna bangkit dan segera berjalan menghadapku.</p>
<p>Aku yang masih sebel cuma diam.</p>
<p>&#8220;Yaudah kalau kamu mau pulang sendirian.&#8221; Juna melirik ketus kearahku. Dan dia segera bergegas meninggalakanku sendirian.</p>
<p>&#8220;Ehh&#8230; tunggu&#8230;&#8230;. tungguu&#8230;&#8230;. iya&#8230; aku ikut kamu&#8230;&#8221;.</p>
<p>Aku menyerah dan akhirnya berjalan mengikuti Juna menuju motornya. Gila&#8230;&#8230; kenapa aku gak pernah bisa terbebas dari semua ancaman yang diberikan Juna??? Kenapa Juna selalu punya cara untuk membuatku terpojokk???? Goshhhh&#8230;&#8230;. rasanya aku semakin dipermainkan olehnya.</p>
<p style="text-align:center;">***</p>
<p>Motor yang kami nsiki terus berjalan menerabas jalana yang lengang. Suasana sore hari yang indah dengan udara segar menyapa kami. Jam menunjuk angka setengah lima. Dan akhirnya motor berhenti tepat di depan sebuah cafe dengan bangunan antik. Sekilas kulirik papan nama dengan tulisan yang terpajang di depannya. GAGA&#8217;S LOUNGE&#8211; demikian bunyi tulisan yang ditulis dengan kapur warna biru itu.</p>
<p>&#8220;Ini tempat apa lagi Jun???&#8221; . Aku berbisik sambil menurunkan badanku dari jok motor Juna yang empuk.</p>
<p>&#8220;Sudahlah kita masuk aja, kamu pasti suka tempat ini&#8230;..&#8221;.</p>
<p>Lantas kami segera melangkahkan kaki memasuki cafe tersebut. Suasananya lumayan ramai. Tampak beberapa muda- mudi yang asyik nongkrong dan bercengkerama satu sama lain. Ada juga beberapa pemuda eksekutif muda yang sibuk berkutat dengan ipad dan laptopnya. Aku merinding. Semua yang ada disini keren- keren. Dan ada satu hal yang sedari tadi membuatku tercengang. Sesuai namanya, disetiap sudut cafe ini terpajang banyak sekali atribut dan <em>interior appliance</em> yang serba Lady Gaga. Ada puluhan foto Mother Monster terpajang dengan rapi. <em>Wallpaper</em> dinding yang bergamabar Gaga, dan bahkan semua piranti saji yang kesemuanya beraksen Lady Gaga. Aku terhenyak. Kog ada ya tempat seperti ini.</p>
<p>&#8220;Duduklah, kau pasti suka dengan tempat ini.&#8221; Juna langsung merebahkan pantatnya pada sofa empuk begitu dapat tempat duduk di pojokan.</p>
<p>&#8220;Ini tempat apa? kog ada banyak foto dan aksesori serba Lady Gaga disini? Apa ini kafe milik Lady Gaga?&#8221; Tanyaku penasaran sambil ikut duduk pada kursi yang berhadapan dengan Juna.</p>
<p>&#8220;Hahaha&#8230; sudah kukira kamu bakal nanyain itu&#8230; Ini kafe yang didesain khusus untuk para fans berat <em>Mother of Monster</em>. Jai kukira kau akan menyukai tempat ini.&#8221;</p>
<p>&#8220;Oh&#8230;.&#8221; aku mengangguk takjim.</p>
<p>&#8220;Aku sering kesini kalau lagi suntuk. Karena disini, aku bisa merasa dekat dengan idolaku, dengan Lady Gaga.&#8221;</p>
<p>&#8220;Oh&#8230;.&#8221; Lagi- lagi aku hanya mengangguk.</p>
<p>Tiba- tiba seorang pelayan menghampiri kami.<br />
&#8220;Selamat sore&#8230; selamat datang di Gaga&#8217;s lounge, bisa saya catat sekarang pesanannya?&#8221;. si pelayan membagikan buku menu mewah pada kami.</p>
<p>Aku hanya menggeleng gaka jelas karena gak tahu harus mesan apa. Tapi segera Juna menyambar buku menu yang tergeletak di depan kami.</p>
<p>&#8220;Anu mas, aku pesan dua <em>Gaga&#8217;s medium spaghetti</em> dan dua <em>Gaga&#8217;s strawberry rootbeer</em>.&#8221; tukas Juna.</p>
<p>Si pelayan namapak sibuk mencatat pesanan yang Juna ucapkan. Kemudian begitu selesi mencatanya, segera ia ulang esanannya sambil tersenyum manis pada kami berdua. Omong- omong si mas pelayan ini manis juga, ahahahahhay!</p>
<p style="text-align:left;">&#8220;Oke mas, iulang lagi, jadi pesanannya adalah dua porsi<em> Gaga&#8217;s medium spaghetti</em> dan dua <em>Gaga&#8217;s strawberry rootbeer</em>. Ada tambahan lagi?&#8221;</p>
<p style="text-align:left;">&#8220;Udah cukup mas.&#8221; Juna menggeleng lembut. Dan si Mas pelayan itu segera memunguti buku menu di depan kami dan bergegas pergi sambil mengucapakan &#8220;Ditunggu lima menit ya?&#8221;.</p>
<p style="text-align:center;">***</p>
<p>&#8220;Jadi gimana? kamu suka tempat ini?&#8221;<br />
Juna membenarkan posisi duduknya sambil menatap tajam kearahku.<br />
Aku hanya mengangguk pelan. Aku tak perlu menjawab. Juna pasti tahu jawabanku. Aku bukan hanya suka tempat ini. Tapi aku super duper suka sama tempat ini. <em>Of course</em>!!!! disini, apapun serba Gaga ada dan tersedia.</p>
<p>&#8220;Omong- omong&#8230; memangnya apa sih yang bikin kamu suka banget sama Lady Gaga?&#8221; . Juna memulai percakapan.</p>
<p>&#8220;Emmm&#8230;. kalo menurutku&#8230; Lady Gaga itu bukan cuma seorang penyanyi. Dia seorang seniman yang kreatif dan hebatttt!!!! &#8221; aku tampak menggebu- gebu menceritakan Lady Gaga. &#8220;Dia memang lesbian, tapi dia mampu membuktikan kalau orang- orang yang biasa dianggap sampah bisa berkarya juga&#8230;&#8230;&#8230; itu yang menurutku sesuatu yang hebat dari seorang Mother of Monster.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kalo Juna? apa alasanmu suka sama Lady Gaga..?&#8221;.</p>
<p>Juna tak langsung menjawab begitu aku melemparkan pertanyaan itu. Sesaat ia terdiam dan menerawang jauh. Seakan sedang memikirkan rangkaian kata- kata ntuk diucapkan padaku.</p>
<p>&#8220;Aku suka Lady Gaga&#8230;&#8230;.&#8221; Juna menghela nafas. Seakan menyiapkan bathinnya untuk berucap. &#8220;Aku suka Lady Gaga karena&#8230;&#8230;. &#8220;</p>
<p>&#8220;Apa?????&#8221; tanyaku penasaran.</p>
<p>Tiba- tiba Juna tampak gelisah dalam duduknya. Sementara aku kian penasaran dengan alasan kenapa Juna bisa suka sama Lady Gaga.</p>
<p>&#8220;Karena&#8230;&#8230;&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Hufftt&#8230; plisss deh gak usah sok dramatis gitu, kamu suka Gaga karena apa?????&#8221; Aku makin geregetan sama Juna.</p>
<p>Tiba- tiba Juna menghempas nafas dan berucap. &#8220;Aku suka Lady Gaga&#8230;&#8230;karena&#8230;&#8230;&#8230;..Karena&#8230;&#8230; kamu Tito&#8230;&#8230;&#8221;</p>
<p>Aku terperanjak hebat mendengar jawaban Juna.</p>
<p>&#8220;Karena aku??????&#8221;</p>
<p style="text-align:right;"><strong>TIGA BELAS</strong><br />
<strong> SOMEONE FROM THE PAST</strong></p>
<p>&#8220;Apa maksudnya karena aku?&#8221;.<br />
Aku terperanjat dan setengah berteriak mendengar jawaban dari Juna. Apa maksud perkataannya. Tiba- tiba saja kegelisahan menghampiriku. Perasaanku mendadak berubah menjadi tidak enak.</p>
<p>&#8220;Tit&#8230;.. &#8221; Juna setengah berbisik sambil tangannya dengan lembut meraih tanganku dan menggenggamnya. &#8220;Sebelumnya&#8230; Kumohon maafkan aku&#8230; Tapi aku harus mengatakannya padamu.&#8221;</p>
<p>Tatapan Juna berubah serius seketika. Ia tampak semakin gelisah. Genggaman tangannya padaku terasa bergetar. Ia gemetar.</p>
<p>&#8220;Apa maksudmu Jun? Kenapa kamu musti minta maaf segala?&#8221;. Aku yang sebenarnya penasaran dari tadi setengah memaksa Juna.</p>
<p>&#8220;Aku harus mengatakan sebuah kebenaran kepadamu&#8230; maafkan aku&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Kebenaran apa?&#8221;.</p>
<p>&#8220;Tit&#8230;.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Plis jangan marah ya&#8230;. Aku harus mengatakan ini&#8230;.. Aku harus mengatakan sesuatu&#8230;. tentang&#8230;. Tentang&#8230;&#8230;&#8221; juna terbata.</p>
<p>&#8220;Tentang apa Jun?&#8221;.</p>
<p>&#8220;Tentang Josh&#8230;&#8230;.&#8221;</p>
<p>Deg! Seketika aku terdiam dan terpaku mendengar perkataan terakhir Juna. Aku mendadak gemetar. Jantungku berpacu tanpa bisa terkontrol. Tiba- tiba saja emosiku membuncah. Aku lemas. Juna hendak mengatakan sesuatu tentang Josh?. Lelaki yang pertama kali membuatku jatuh cinta. Lelaki yang sangat aku sayangi namun ia kini telah tiada. Ia meninggal karena kecelakaan. Dua tahun lalu. Ya. Lelaki yang telah meninggalkan rasa sakit tak terhingga di hatiku. Apa yang akan Juna katakan tentangnya?.</p>
<p>&#8220;Kau pasti masih ingat Josh kan Tit? Kau pasti takkan pernah bisa melupakannya kan? Dia cinta pertamamu&#8230;. Itu kan alasan kenapa kamu tak pernah menjalin cinta dengan lelaki lain??&#8221;. Juna mengucapkan kata itu dengan suara bergetar. Ia seakan tertekan.</p>
<p>&#8220;Juna&#8230;kau&#8230;..&#8221;tenggorokanku tercekat. Batinku bergemuruh tanpa bisa kukuasai. Tiba- tiba saja otakku seperti dipaksa untuk memutar ulang layar memori dua tahun lalu.</p>
<p style="text-align:center;">***</p>
<p>&#8220;BANGUUUUNNNN JOSHHH&#8230;. KUMOHONNN BANGUNLAHH&#8230;. JANGAN KAU TINGGALKAN AKU SENDIRIANNN&#8230;. BANGUNNNN!!!!!!!!!&#8221;.<br />
Aku berteriak histeris sambil memeluk jasad Josh yang sudah tak bergerak sedikitpun. Aku benar- benar tak bisa memepercayai kalau sahabat terbaik sekaligus kekasih yang amat kucintai akan begitu cepat pergi meninggalkanku. Ini seperti mimpi buruk di siang hari. Baru beberapa saat lalu ia mengantarkanku pulang dari sekolah. Dan kini ia telah terbaring tanpa nyawa disini. Di ranjang kamar mayat yang beku.</p>
<p>&#8220;Dia mengalami kecelakaan dan menderita gegar otak dan luka berat.&#8221; demikian penjelasan dokter yang mencoba menenangkanku. &#8220;Maaf kalau kami tak bisa menolongnya&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Diduga pelakunya kabur begitu korban terjatuh dan tak sadarkan diri.&#8221; tambah seseorang yang tak kuketahui siapa.</p>
<p>&#8220;JOSHHH&#8230;.. BANGUNLAHHHHH&#8230;. BANGUNLAH KAWANKU&#8230;. KITA MASIH BISA BERMAIN BERSAMA KAAANNNN&#8230;. KITA MASIH BISA BERANGKAT SEKOLAH SAMA- SAMA KANNN????&#8221;. Aku kian histeris, sementara Tante Sabrina- ibu Josh dan mama mencoba untuk meneenangkanku.</p>
<p style="text-align:center;">***</p>
<p>&#8220;Akulah pelaku tabrak lari itu. Akulah yang telah merenggut nyawa Josh Tit&#8230; Akulah pelakunya&#8230;&#8230;&#8230;.&#8221;. Lanjut Juna dengan wajah tertunduk. Ia terisak. Wajahnya dibanjiri air mata. &#8220;Maafkan aku Titt&#8230; Maafkan kebodohanku&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;..&#8221;.</p>
<p>Blarrrrr!!! Seperti ada petir di siang bolong yang menyambar hatiku. Tibak tiba saja tubuhku lemas dan bergetar. Aku tak percaya ini semua. Juna pasti sedang membual. Juna pasti berbohong. Bagaimana bisa ia melakukan semua ini?.</p>
<p>&#8220;Kau&#8230; Kau bercanda kann???&#8221;. Aku tersengal. Nafasku berat.</p>
<p>&#8220;Tidak Tit&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Kau pasti bercanda..&#8221;</p>
<p>&#8220;Tit&#8230; Aku..&#8221;</p>
<p>&#8220;KAU PASTI BERCANDA KANNN!!!!!!&#8221;</p>
<p>Aku terisak dan ambruk pada kursi kayu yang kududuki. Air mataku membanjiri pipi. Aku tak percaya ini semua.</p>
<p>&#8220;Kalau kamu nggak percaya&#8230; Kau bisa lihat ini.&#8221; kata Juna sambil merogoh sakunya dan memperlihatkan sebuah kalung berbandul dua huruf &#8216;T&#8217; dan &#8216;J&#8217;.</p>
<p>&#8220;Bagaimana kalung Josh bisa ada Padamu???????&#8221;. Aku tersentak kaget melihat kalung yang diperlihatkan Juna.</p>
<p>&#8220;Sebenarnya&#8230; Sebelum aku lari setelah menabrak Josh, aku sempat berniat untuk menolongnya. Namun aku ketakutan karena banyak massa yang berlari menghampiri kami. Aku takut kalau mereka menghajarku. Dan ketika aku hendak menyelamatkan diri, Josh memberikan kalung ini dan membisikkan nama &#8216;Tito&#8217; sebelum ia menghembuskan nafas terakhirnya.&#8221;</p>
<p>Jelas Juna dengan suara pelan. &#8220;Dan semenjak kejadian itu, aku jadi bingung Tit, aku seperti diliputi ketakutan yang sangat luar biasa. Aku benar- benar merasa bersalah terhadap Josh. Aku hampir gila karenanya.&#8221;</p>
<p>Sesaat Juna menghentikan ucapannya. Ia menggusak pelan kepalanya. Ia nampak putus asa. Sementara aku masih terisak. Mencoba memperhatikannya.</p>
<p>&#8220;Dan setelah kupikirkan masak- masak, aku mulai mencari cara bagaimana menghilangkan rasa bersalah itu Tit&#8230;.. &#8221; lanjutnya. &#8220;Kuputuskan untuk menebus kesalahanku itu dengan mencari petunjuk tentang kalung yang diberikan Josh, aku mulai mencari petunjuk tentangmu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Apa maksudmu?&#8221;.</p>
<p>&#8220;Kukira aku bisa membalaskan kesalahanku dengan mendekatimu. Dengan membahagiakanmu.&#8221;</p>
<p>Aku menelan ludah. &#8220;Aku tak mengerti pembicaraan mu!&#8221;.</p>
<p>&#8220;Asal kamu tahu Tit. Josh itu sahabatku. Kami berdua adalah sahabat baik. Kau harus tahu itu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Lalu?&#8221;.</p>
<p>&#8220;Saat kejadian itu, aku dan dia sedang kebut- kebutan. Kau tahu kan bagaimana anak kuliahan kalau naik motor?. Aku tak pernah mengira kalau aku akan menabraknya. Saat itu ban motornya pecah dan motornya oleng. Ia terjatuh dan&#8230;..&#8221; Juna menghentikan ucapannya sambil menarik napas.</p>
<p>&#8220;Dan aku melindas kepalanya Tit.&#8221;</p>
<p>&#8220;Apa?&#8221;.</p>
<p>&#8220;Tapi demi Tuhan aku tak sengaja melakukannya!.&#8221;</p>
<p>&#8220;Lalu apa hubungannya denganku sekarang?&#8221;.</p>
<p>&#8220;Seperti kukatakan tadi, kurasa satu- satunya cara menebus kesalahanku terhadap Josh, adalah dengan cara membahagiakan kamu yang ditinggalkan sama dia. Semenjak kejadian itu, aku mulai mencari- cari informasi tentang kamu. Aku mulai mencari tahu tentang kamu dan kesukaan mu terhadap Lady Gaga.&#8221;</p>
<p>&#8220;Hah?&#8221; aku hanya terkejut.</p>
<p>&#8220;Aku berpacaran sama Dino karena dia suka Lady Gaga. Sebenarnya aku manfaatin dia agar aku bisa lebih mengetahui tentang Lady Gaga dan bisa menemukan dirimu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Dan akhirnya kau yang memaksa membeli tiket Lady Gaga dan berjumpa denganku?&#8221;.</p>
<p>&#8220;Ya..&#8221;.</p>
<p>&#8220;Kenapa kau tega melakukannya Jun? Kenapa kamu tega melakukan semua ini?&#8221;.</p>
<p>&#8220;maafkan aku Tit&#8230; Aku tak tahu lagi apa yang harus aku lakukan!!!&#8221;.</p>
<p>&#8220;Jadi kamu deketin aku cuma karena rasa bersalahmu terhadap Josh???&#8221;.</p>
<p style="text-align:center;">***</p>
<p>&#8220;Bu&#8230; bukan begitu Tit&#8230; aku&#8230;&#8221;<br />
Juna tampak gemetar, ia seperti tertekan, tak tahu harus berbicara apa. Sementara aku masih menunggu jawaban darinya.</p>
<p>&#8220;Lantas apa maksudmu melakukan semua ini Jun????&#8221;</p>
<p>Sesaat Juna terdiam. Matanya menerawang jauh entah kemana. Wajahnya dibanjiri keringat. Mukanya kuyu. Seakan diselubungi rasa bersalah yang menggunung.</p>
<p>&#8220;Kau mendekatiku hanya untuk membalaskan rasa bersalahmu. Sejak awal kau sudah merencanakan ini semua kan? Kau sudah mengincarku!!!!!&#8221;.</p>
<p>&#8220;Maafkan aku Tit.. maafkan aku&#8230;.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kenapa kau tega melakukan ini semua padaku Jun??? Kenapa?????&#8221;. Aku kian terisak, Juna kian menggenggam erat rtanganku.</p>
<p>&#8220;Aku tak pernah meminta semua ini terjadi Tit&#8230;. sama sekali aku tak menginginkannya&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Kau jahat Jun!!! Kau jahattt!!!! Aku membencimu!!! Aku tak ingin melihatmu lagi!!!!!&#8221;</p>
<p>Segera kulepaskan tangan Juna yang menggenggam tanganku dan segera pergi meninggalkannya. Saat ini, aku tak ingin sama sekali melihat Juna. Entah kenapa rasa kagumku tiba- tiba saja terkikis habis. Aku membenci Juna. Aku benar- benar benci padanya. Bukan hanya ia telah membuat Josh pergi dariku. Tapi dia sengaja mempermainkanku. Tentang pacar boongan itu. Tentang tiket Lady Gaga itu. Dia telah benar- benar dengan sengaja mempermainkanku. Tak ada gunanya lagi aku mengenal Juna. Semuanya sudah cukup sampai disini.</p>
<p style="text-align:right;"><strong>EMPAT BELAS</strong><br />
<strong> THAT&#8217;S WHAT FRIENDS ARE FOR</strong></p>
<p style="text-align:left;">&#8220;Tit&#8230;.. <em>helloo.</em>&#8230; lo kenapa sih dari tadi bengong aja???? kalo ada masalah bilang ke gue dong.. siapa tahu gue bisa ngebantu elo.&#8221;</p>
<p>Sekali lagi Bimo mengibas- ngibaskan tangannya di depan wajahku. Berusaha membuatku yangs edari tadi tercenung untuk memperhatikannya. Namun aku masih saja tenggelam dalam lamunan. Tiba- tiba saja aku seperti kehilangan semangat hidupku. Aku kehilangan semua moodku.</p>
<p>&#8220;Tit???&#8221;. sekali lagi Bimo mencoba.</p>
<p>&#8220;Lo bisa tinggalin gue sebentar gak Bim&#8230;.&#8221;. Jawabku akhirnya.</p>
<p>&#8220;Elo kenapa sih Tit??? Lo gak kayak Tito yang gue kenal deh&#8230;. Plis cerita ke gue kalo lo ada masalah. Jangan kacangin gue kayak gini. Apa gunanya gue sebagai sahabat lo kalao lo tetep gak mau cerita???&#8221;</p>
<p>&#8220;Tapi lo gak tahu apa yang gue rasain Bim&#8230;&#8217;</p>
<p>&#8220;Ya. Emang gue gak tahu apa yang elo rasain&#8230;. tapi seenggaknya lo bisa cerita dan berbagi perasaan ke gue kan?? Bukankah lo sering berkata,<em> that&#8217;s what friends are for&#8230;..?</em>???&#8221;</p>
<p>Sekali lai Juna memaksaku untuk membuka mulut. Sedari sampai di sekolah tai aku memang sengaja diam. Aku tak mau seorangpun tahu kesedihan yang aku rasakan. Termasuk Bimo. Namun akhirnya aku menyerah. Benar kata Bimo, apa gunanya sahabat kalau kita tak mau berbagi.</p>
<p>&#8220;Apa yang ngebikin elo jadi begini Tit&#8230; cerita ke gue&#8230;&#8221;</p>
<p>Aku menoleh kepada Bimo yang ada disampingku. Sirat matanya penuh harap. Mencoba meyakinkanku bahwa ia pasti dapat membantuku.</p>
<p>&#8220;Ini semua gara- gara Juna Bim&#8230;. gara -gara dia&#8230;&#8230;.&#8221; ucapku perlahan sambil mengusap air mata yang perlahan jatuh. Aku dapat merasakan wajahku yang panas.</p>
<p>&#8220;Memangnya kenapa dengan Juna Tit???&#8221;.</p>
<p>&#8220;Dia&#8230; dia&#8230;&#8230;&#8221; aku terbata.</p>
<p>&#8220;Dia kenapa Tit? Apa yang dia lakukan padamu???&#8221;.</p>
<p>&#8220;Dia&#8230;.&#8221; Tiba- tiba aku ambruk. mendadak badanku lemah. Aku ambruk pada pelukan Bimo disampingku.</p>
<p>&#8220;Dia yang udah membunuh Josh Bim&#8230;. Dia pelakunya&#8230;.. Dia yang telah membuatku terpisah dari Joshhh&#8230;&#8230;..&#8221;. Aku kian terisak. Tubuhku bergetar hebat oleh duka yang memenuhi seluruh jajaran naluriku.</p>
<p>&#8220;Dia yang udah menghancurkan hidupku Bim&#8230;&#8230;&#8230;&#8221;</p>
<p>Bima hanya menghela nafas panjang begitu mendengar ceritaku. Dia semakin mempererat peukannya padaku. Perlahan dielusnya kepalaku.</p>
<p>&#8220;Tenanglah Tit&#8230;&#8230;.. aku tahu kalau ini semua sangat berat buatmu&#8230; Tapi percayalah&#8230;&#8230;&#8230; Juna pun pasti tak ingin semua ini terjadi&#8230; &#8221; Bisik Bimo pelan.</p>
<p>&#8220;Tapi dia sengaja mendekatiku untuk mempermainkanku Bim&#8230;&#8230;.. kalau kau jadi aku&#8230; kau pasti bisa merasakan sakit hati ini Bim&#8230;&#8230;.&#8221;</p>
<p>Bima terdengar tersenyum tipis.</p>
<p>&#8220;Memangnya apa yang dia lakukan??&#8221;</p>
<p>&#8220;Dia mempermainkanku&#8230;&#8230;. dia sengaja mendekatiku hanya untuk membalas rasa bersalahnya terhadap Josh&#8230;.. Dia sejak awal mengincarku dan mempermainkanku tentang tiket konser itu&#8230;.. Dia sudah mengincarku dengan segala hal yang berbau Lady Gaga!!!!!&#8221;</p>
<p>Sekali lagi Bimo tertawa pelan. Lalu ia melepaskan pelukannya padaku. Dan dengan lembut, ia angkat daguku hingga mataku bertumbukan dengan mata indahnya yang tajam menatapku dari balaik kacamata minusnya.</p>
<p>&#8221; Dengarkan aku Tit&#8230;&#8230;..&#8221; Ia lembut mengelus pipiku. &#8220;Baik Juna maupun kamu, pasti tak pernah menginginkan semua ini terjadi. Tapi apa yang bisa dilakukan manusia jika takdir sudah terjadi. Aku yakin kalau kepergian Josh dan kedatangan Juna padamu bukan tanpa alasan. Aku yakin kalau Tuhan sudah merencanakan yang terbaik bagimu&#8230;.&#8221;.</p>
<p>&#8220;Tapi&#8230;..&#8221; Aku balas menatap mata Bimo. Dia mengusap air mataku dengan ibu jarinya yang lembut.</p>
<p>&#8220;Setidaknya kau harus bisa menghargai usaha Juna yang sudah mati- matian mencari dan meburu segala sesuatu tentangmu&#8230;.. Harusnya kau bisa memahami Juna yang ingin membalas rasa bersalahnya melalui kamu.&#8221;</p>
<p>Aku mendongak. Mengangkat sebelah alisku karena aku takj memahami maksud perkataan Bimo. &#8220;Apa maksudmu?&#8221;.</p>
<p>Bimo menarik napas sejenak.<br />
&#8220;Sebenarnya aku dan Juna saling mengenal&#8230;.. Dia adalah sahabat baik kakakku dan Josh&#8230;&#8230; Semenjak kecelakaan itu terjadi, ia mulai mencari- cari cara bagaimana cara terbaik untuk meminta maaf pada Josh tanpa harus dipenjara&#8230;&#8230; Ia mulai menanyakan hal- hal yang paling disayangi oleh Josh&#8230;.. ia mulai menanyakan segala sesuatu padaku&#8230;&#8230;&#8230;. termasuk tentang kamu&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8221;.</p>
<p>&#8220;Jadi&#8230;&#8230;. jadi kamu yang memberitahunya tentang kecintaan ku terhadap Lady Gaga?&#8221;.</p>
<p>Bimo mengangguk pelan dan melanjutkan perkataannya.</p>
<p>&#8220;Ya&#8230;. aku yang menceritakan segala sesuatu tentangmu. Aku yang menceritakan padanya kalau kau sangat suka pada Lady Gaga&#8230;. Bahkan aku yang memberitahukan padanya tentang konser itu.. tentang tiket itu&#8230;&#8230;&#8230;&#8221;.</p>
<p>&#8220;Hingga dia menemukanku dan menolong akau yang kehabisan tiket???&#8221;. ucapku tanpa sadar.</p>
<p>Bimo hanya diam. &#8220;Mungkin seperti itu.&#8221;</p>
<p>Tiba- tiba saja aku merasa bersalah pada Juna. Dia telah melakukan banyak hal demi mebalas rasa bersalahnya pada Josh. Bahkan katanya ia berjanji akan membahagiakanku. Tapi kenapa aku justru membenci dan menghakiminya. Padahal dia pun sama sekali tak menginginkan hal buruk dan naas itu terjadi. Dia adalah sahabat Josh. Dia takkan mungkin tega membuat sahabatnya meninggal. Akulah yang seharusnya minta maaf padanya. Aku yang sudah salah paham padanya. Dia telah berniat baik mencari dan menemuiku. Tapi aku malah marah tanpa alasan padanya. Aku memang picik. Aku harus minta maaf padanya. Harus.</p>
<p>&#8220;Besok antarkan aku bertemu Juna Bim&#8230; aku harus minta maaf padanya&#8230;..&#8221;</p>
<p>Mendengar perkataanku. Bimo hanya tersenyum dan memeluk lembut tubuhku. &#8220;Nah gitu donk&#8230;. itu baru yang namanya Tito&#8230;.. hehehe.&#8221;</p>
<p>Dan bel berbunyi begitu Bimo melepaskan pelukannya padaku karena anak- anak lain sudah datang dan memasuki kelas.</p>
<p><em>it&#8217;s been a long time since I came around</em><br />
<em> It&#8217;s been along time but I&#8217;m back in town</em><br />
<em> But this time I&#8217;m not leaving without you</em></p>
<p><em>You taste like whiskey when you kiss me oooh</em><br />
<em> I&#8217;ll give up anything again to be your baby doll</em><br />
<em> Yeah this time I&#8217;m not leaving without you</em></p>
<p><em>You said sit back down where you belong</em><br />
<em> In the corner of my bar with your high heels on</em><br />
<em> Sit back down on the couch where we</em><br />
<em> Made love for the first time</em><br />
<em> And you said to me</em></p>
<p><em>There&#8217;s something, something about this place</em><br />
<em> Something about lonely nights and my lipstick on your face</em><br />
<em> Something something about my cool Nebraska guy</em><br />
<em> Yeah something about</em><br />
<em> Baby you and I</em></p>
<p><em>Been two years since i let you go,</em><br />
<em> I could&#8217;ve listened to a joke for rock n roll</em><br />
<em> And muscle cars drove a truck right through my heart</em></p>
<p><em>You taste like whiskey when you kiss me oooh</em><br />
<em> I&#8217;ll give up anything again to be your baby doll</em><br />
<em> Yeah this time I&#8217;m not leaving without you</em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/duniakeciltito.wordpress.com/75/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/duniakeciltito.wordpress.com/75/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/duniakeciltito.wordpress.com/75/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/duniakeciltito.wordpress.com/75/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/duniakeciltito.wordpress.com/75/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/duniakeciltito.wordpress.com/75/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/duniakeciltito.wordpress.com/75/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/duniakeciltito.wordpress.com/75/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/duniakeciltito.wordpress.com/75/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/duniakeciltito.wordpress.com/75/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/duniakeciltito.wordpress.com/75/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/duniakeciltito.wordpress.com/75/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/duniakeciltito.wordpress.com/75/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/duniakeciltito.wordpress.com/75/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=duniakeciltito.wordpress.com&amp;blog=31697152&amp;post=75&amp;subd=duniakeciltito&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://duniakeciltito.wordpress.com/2012/02/01/75/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e2aafea6a70a86db7cbe62af6500729b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">bagustito20</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>ME, HIM &amp; LADY GAGA [7]</title>
		<link>http://duniakeciltito.wordpress.com/2012/02/01/me-him-lady-gaga-7/</link>
		<comments>http://duniakeciltito.wordpress.com/2012/02/01/me-him-lady-gaga-7/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 01 Feb 2012 16:29:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>bagustito20</dc:creator>
				<category><![CDATA[GAY LITERATURE]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://duniakeciltito.wordpress.com/?p=73</guid>
		<description><![CDATA[SEPULUH THE EFFECT Apa yang lebih merisaukan dirimu dibanding kehilangan sesuatu yang sangat berharga bagimu?. Yep. Seenggaknya, itulah yang aku rasakan sekarang. Meskipun aku gak kehilangan keperawanan&#8211; eh maksudku keperjakaan ku, tapi entah kenapa ciuman bibir Juna masih saja melekat erat dalam memori otakku. Gak tahu kenapa, aku tiba- tiba aja jadi bengong gara- garanya. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=duniakeciltito.wordpress.com&amp;blog=31697152&amp;post=73&amp;subd=duniakeciltito&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:right;"><strong>SEPULUH</strong><br />
<strong> THE EFFECT</strong></p>
<p>Apa yang lebih merisaukan dirimu dibanding kehilangan sesuatu yang sangat berharga bagimu?. Yep. Seenggaknya, itulah yang aku rasakan sekarang. Meskipun aku gak kehilangan keperawanan&#8211; eh maksudku keperjakaan ku, tapi entah kenapa ciuman bibir Juna masih saja melekat erat dalam memori otakku. Gak tahu kenapa, aku tiba- tiba aja jadi bengong gara- garanya. Emang sih, ciuman itu gak lama, kurang dari lima menit malah, tapi aku benar- benar gak nyangka kalu efeknya bisa sedahsyat ini buatku. Seumur- umur aku gak pernah yang namanya dicium cowok. Beneran. Selama aku jadi gay, aku gak pernah sedikitpun berbuat mesum sama cowok lain. Bahkan satu- satunya temen gay yang aku punyai adalah Bimo. Dia udah aku anggap saudara sendiri, jadi gak bakalan mungkin aku ada niatan mesum sama dia. Tapi tadi malam, nyata banget kalo si Juna sialan itu telah merampas ciuman pertamaku. Demi Tuhan aku gak ridho sama dia. Bukannya ciuman pertama harusnya dilakukan sama orang spesial yang kita cintai?????.</p>
<p style="text-align:center;">
***</p>
<p>&#8220;IIIIKKHHHH&#8230;&#8230;. SEBEELLL!&#8221;.<br />
Tanpa sadar aku mendengking sambil meremas kertas sampul buku didepanku. Gigiku gemeratak. Aku lagi sebal. Sama Juna.</p>
<p>&#8220;Heh&#8230; Lo kenapa sih Tit? Kesambet dedemit ya?&#8221;. Bimo yang duduk disampingku menggoyang- goyangkan badanku sambil ketakutan.</p>
<p>&#8220;Gue lagi sebel tau Bim&#8230; Gue lagi sebelll&#8230;.&#8221;. Aku cuma ngomel tanpa memalingkan muka.</p>
<p>&#8220;Sebel? Sebel sama siapa?&#8221;.</p>
<p>&#8220;Sama genderuwo!&#8221;.</p>
<p>&#8220;Hah??? Emang itu genderuwo ngapain kamu sih??&#8221;. Bimo sedikit panik memancingku untuk bercerita lebih banyak.</p>
<p>&#8220;Genderuwo itu merampas <em>first kiss</em> gue!!!&#8221;. Aku kian gemas. Kuremas kertas tadi sampai sobek.</p>
<p>&#8220;Apa?? Hahahahahahahahahahahah&#8230;.&#8221; Tiba- tiba tawa Bimo meledak. Ia terpingkal mendengar jawaban terakhirku. Ia tak henti- hentinya memegangi perutnya yang sakit gara- gara ketawa ngakak tiada henti. Aku cuma memandangnya sinis. Apanya yang lucu oom???.</p>
<p>&#8220;Hahaha.. Kurang kerjaan amat tuh genderuwo sampe nyuri first kiss lo&#8230;. Hahaha&#8221;. Kata Bimo kemudian.</p>
<p>Aku tetap manyun.<br />
&#8220;Kog lo ketawa sih&#8230; Gue kan lagi bersedihhh&#8230; Lagi bersedih ini&#8230;..&#8221;.</p>
<p>&#8220;Hahaha&#8230;. Habisnya lo aneh sih, masa ada genderuwo yang rakus nyium elo, emangnya ada gitu genderuwo homo&#8230;..????&#8221;. Ucap Bimo dengan kencang. Untungnya di kelas gak ada siapa- siapa. Jam masuk masih lama. Cuma ada aku dan Bimo.</p>
<p>&#8220;Ya enggaklah&#8230; Lu juga oneng percaya sama gue.&#8221; cetusku.</p>
<p>&#8220;Hahah&#8230; La trus siapa yang sebenarnya ngerampas ciuman pertama lo?&#8221;. Bimo masih terkekeh. Ampun deh.</p>
<p>&#8220;Juna.&#8221;</p>
<p>&#8220;Juna??&#8221;. Bimo mengangkat alis kanannya.</p>
<p>&#8220;Cowok yang gue ceritain mau ngasih tiket konsernya Lady Gaga itu lohhhh&#8230;&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Apa?Wakakakakakakakka!&#8221; Bimo malah kencang tertawanya. &#8220;Tito&#8230;. Tito&#8230;. Sengsara banget sih idup lo&#8230; Kemaren dia maksa elo buat jadi pacarnya cuma demiselembar tiket, eh sekarang malah dia berani ngerampas ciuman pertama elo, apes banget sih elo Tit&#8230; Hahaha.&#8221;</p>
<p>Aku langsung menyikut siku Bimo gara- gara sebal. Sebentar ia berhenti tertawa, ia meringis kesakitan sambil mengelus- elus sikunya. &#8220;Aduh Sakit Tit!&#8221;.</p>
<p>&#8220;Bodo&#8230; Bisa gak sih lo brenti ketawa? Geli gue ngedengernya, orang temen lagi kesusahan malah diketawain&#8230; Temen macam apa sih lo..&#8221; aku merengut sambil menangkupkan tanganku diatas meja.</p>
<p>&#8220;Hah.. Sori&#8230; Sori&#8230; Abisnya lu juga ada -ada aja sih, mau aja dikerjain si&#8230; Siapa tadi namanya&#8230; Juna!??&#8221;.</p>
<p>&#8220;Ya habis gimana lagi donk, kan demi gue ngedapetin tiket konser itu! Kalo gue gak ngikutin perintah dia, gue gak bakal bisa nonton idola gue secara langsung.&#8221;</p>
<p>&#8220;Haaha.. Yaudah&#8230; Itu konsekuensi.. Kenapa lo mesti sewott?&#8221;.</p>
<p>&#8220;Pokoknya gue gak rela ciuman pertama gue dirampas cowok macam Juna!&#8221;.</p>
<p>&#8220;La trus mau lo apaan?&#8221;.</p>
<p>&#8220;Juna harus balikin ciuman pertama gue!&#8221;.</p>
<p>&#8220;Yaelah dodol&#8230;&#8230;! Emang lo kata ciuman itu kayak buku? Maen balik- balikin aja?&#8221;. Bimo setengah menoyor kepalaku .</p>
<p>&#8220;Abis gimana donk, gue gak ridho, huhuuuuuu&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Anggep aja itu bonus dari perjanjian lo.&#8221;</p>
<p>&#8220;<em>what</em>? Bonus??&#8221;.</p>
<p>&#8220;Iya.. Lagian lo juga senang kan dicium sama dia?&#8221;.</p>
<p>&#8220;Ih&#8230;. Amit- amit&#8230; &#8220;</p>
<p>&#8220;Amit- amit apa Imut- imutt&#8230;.???&#8221;.</p>
<p>&#8220;Ahhh&#8230; Bimo nyebeliinn&#8230;.&#8221;</p>
<p>Tiba- tiba handphoneku berbunyi. Aku terkesiap dan melirik layar. Ada panggilan dari Juna</p>
<p style="text-align:center;">
***</p>
<p>Piipp.<br />
Segera aku tekan tombol <em>reject</em> sebelum nada deringku berbunyi lebih lama lagi. Biarin. Aku lagi males sama Juna sekarang. Aku dendam sama dia. Mungkin lebih mengerikan dari dendam Nyi Pelet atau dendam Mak Lampir. Dia udah dengan sengaja ngerebut mahkotaku sebagai cowok, (halah lebay!). Rasanya buat ngedenger suaranya aja males banget!. Biarin.</p>
<p>&#8220;Kog gak direject sih Tit?&#8221;. Bimo melirik kearah ku.</p>
<p>&#8220;Biarin. Gue lagi males ngobrol sama Juna.&#8221; Segera kusimpan handphone nokia E71 itu ke saku kemeja seragamku. Namun belum ada dua menit, handphone itu berbunyi lagi. Dengan sebal kurogoh lagi hape itu. Kulirik layar handphone. Panggilan dari Juna lagi. Ahh&#8230; Malesss&#8230; Segera kutekan tombol reject untuk kedua kalinya.</p>
<p>&#8220;Ni anak maunya apa sihh???&#8221;. Aku mendengus sebal.</p>
<p>&#8220;Udahlah Tit, angkat aja, kali aja si Juna mau ada perlu. Ato barangkali dia mau minta maaf.&#8221; Bimo mencoba membujukku.</p>
<p>&#8220;Sekali enggak tetep enggak!&#8221;.</p>
<p>Namun lagi- lagi, handphone itu berbunyi. Sumpah demi Tuhan emosiku udah di ubun- ubun. Ni bocah sebenernya maunya apa sihhh??? Udah di<em>reject</em> dua kali kog gak nyerah- nyerah. Maka dengan kasar kupencet tombol &#8216;receive&#8217; pada handphoneku.</p>
<p>&#8220;Ada apa sihhh???&#8221;. Teriakku seketika .</p>
<p>Sebentar tak terdengar apa- apa. Hanya suara keresek- keresek yang mungkin berasal dari sinyal yang jelek.</p>
<p>.&#8221;Halooo???&#8221; ucapku sekali lagi.</p>
<p>&#8220;Halo juga sayang&#8221;. Terdengar suara Juna yang macho setengah dimanis- maniskan.</p>
<p>&#8220;Sayang&#8230; Sayang&#8230; Ada apa sihh???&#8221;.</p>
<p>&#8220;Ih&#8230; Kok kasar banget sih&#8230; Aku kan pengen ngomong baik- baik&#8221;. Ucapan Juna semakin dimanis- maniskan. Aku nyaris muntah mendengarnya.</p>
<p>&#8220;Ngomong baik- baik katamu? Setelah elo nyium gue elo mau ngomong baik- baik?&#8221;. Aku esmosi tingkat tinggi.</p>
<p>&#8220;Jadi kamu masih marah gara- gara ciuman itu?&#8221;.</p>
<p>&#8220;Iyalah&#8230; Gue merasa terlecehkan tau&#8230;!!&#8221;.</p>
<p>&#8220;hahah.&#8221; Sesaat terdengar Juna cekikikan di kejauhan sana.</p>
<p>&#8220;Kog malah ketawa sih?&#8221;.</p>
<p>&#8220;Ahahaha&#8230; Sori&#8230; Sori&#8230; Abis kamu lucu sih.&#8221;</p>
<p>&#8220;Emang gue badut Ancol?&#8221;.</p>
<p>&#8220;Heheh&#8230; Enggak sih.&#8221;</p>
<p>&#8220;Terusss???&#8221;.</p>
<p>&#8220;Udah ah, jangan sewot begitu. Justru aku nelpon kamu mau minta maaf.&#8221; suara Juna berubah serius.</p>
<p>&#8220;Maaf?&#8221;.</p>
<p>&#8220;Iya, gini, sebagai permintaan maaf, kamu mau gak jalan- jalan sama aku? Aku traktir deh, entar sepulang sekolah aku jemput kamu. Gimana?&#8221;.</p>
<p>&#8220;Ogahhh&#8230;.. Gue gak mau elo apa- apain lagi! Maaf ya&#8230; Aku GGAK TERTARIK!&#8221; Aku menekan kata- kata terakhir dengan nada emosi.</p>
<p>&#8220;Hemm.. Jadi kamu nolak nihhh?? Yaudah deh, kalo gitu kita batalin aja deh perjanjian tentang tiket konser itu, setelah kupikir- pikir sayang juga kalo tiket itu aku kasih ke kamu.&#8221;</p>
<p>Sialan&#8230; Lagi- lagi Juna menyudutkanku. Ia tahu betul dimana letak kelemahanku. Aku takkan pernah rela kehilangan tiket berharga itu. Takkan pernah.</p>
<p>&#8220;Eh&#8230; Jangan jangan&#8230;. Ii&#8230;iya dehhh&#8230;.. Aku mau&#8230; Aku mau&#8230;.&#8221; ucapku kemudian. Aku gak punya pilihan lain selain mengiyakan permintaannya.</p>
<p>&#8220;Nahhhh&#8230; Gitu donkkk&#8230; Itu baru namanya pacarnya Juna&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Eh.. Enak aja, bukannya tugas gue buat nunjukin ke mantan pacar lo udah kelar? Kenapa gue masih harus pura- pura jadi pacar lo?&#8221;.</p>
<p>&#8220;Enggak bisa. Kamu mesti tetep jadi pacar boonganku sampai hari H konser Lady Gaga!&#8221;.</p>
<p>&#8220;Itu artinya aku harus pura- pura jadi pacarmu sampai minggu depan?&#8221;</p>
<p>&#8220;Yup, betul.&#8221;</p>
<p>&#8220;Yaelahh&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Kalau gak mau yaudah..&#8221;</p>
<p>&#8220;Eh.. Iya- iya&#8230; Aku mau&#8230;&#8221; aku gemeratak gemas.</p>
<p>&#8220;Hahaha&#8230; Yaudah, nanti pulang sekolah aku jemput kamu ya?&#8221;.</p>
<p>&#8220;Emang kamu tahu sekolahku?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya taulah&#8230; Kamu lupa kalo dulu kamu nyari tiket Lady Gaga make seragam sekolah? Aku kenal sama seragam sekolahmu, dan aku tahu dimana sekolahmu.&#8221;</p>
<p>Aku cuma terbengong.</p>
<p>&#8220;Yaudah gitu aja, sampai jumpa nanti ya sayang, daaa&#8230;.&#8221;</p>
<p>pip. Panggilan berakhir. Aku masih melongo. Dan tiba- tiba&#8230;..<br />
HUAAAAAAA&#8230;.. DASAR NYEBELLLIIIIIIIIIINNNNNNNNNNNNNNNNNN!!!!!!!!!!!!!!.<br />
Aku memukul- mukul badan Bimo untuk melampiaskan kejengkelanku terhadap Juna.</p>
<p style="text-align:right;">
<strong>SEBELAS</strong><br />
<strong> OOPS</strong>!</p>
<p>Teng&#8230;. teng&#8230;. tengggg&#8230;.<br />
Terdengar suara bel pulang sekolah yang diikuti dengan teriakan keras dari seluruh penjuru kelas. Ya, saat yang dinanti- nantikan oleh semua siswa di sekolah ini telah tiba. Begitu guru terakhir dikelasku keluar dari kelas, segera kupunguti semua peralatan sekolahku dan memasukkannya kedalam tas. Bimo yang duduk di sebelahku juga melakukan hal yang sama. Dan segera kami bergegas pergi untuk pulang. Tak sabar rasanya akami segera pulang ke rumah. Tapi oops! oh iya, aku ada janji hari ini dengan Juna.</p>
<p>&#8220;Tit&#8230; hari ini lo temenin gue ke Gramed yuk, gue mau beli buku panduan Fotografi nihh&#8230;&#8230;..&#8221;. Bimo yang berjalan disebelahku mencoba mensejajarkan langkahnya dengan langkahku yang buru- buru.</p>
<p>&#8220;Kayaknya hari ini gak bisa deh Bim, next time aja yah&#8230;.&#8221;. jawabku sambil terus melangkahkan kaki menuju gerbang sekolah.</p>
<p>&#8220;Emangnya lo ada acara ya?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya&#8230; bukan acara penting sih&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Emang lo mau kemana?&#8221;</p>
<p>&#8220;Gue udah ada janji sama&#8230;&#8230;..&#8221;<br />
Deg. Tiba- tiba langkahku terhenti begitu mataku menatap sosok seorang cowok yang sedang nangkring diatas sepeda motor ninja tepat didekat pintu gerbang sekolah.</p>
<p>&#8220;JUNA???&#8221;. Teriakku begitu ngeliat cowok itu.</p>
<p>&#8220;Juna? mana? mana?&#8221; desis Bimo yang langsung mendekat kearahku.</p>
<p>&#8220;Ngapain lo ada disini?? kan kita bisa ketemu di Paragon. Kenapa musti nyamperin ke sekolah gue?????&#8221;. Ucapku setengah berteriak pada Juna yang nyengir kuda. Seperti biasa, ia pasti senyum senyum aneh begitu bertemu denganku.</p>
<p>&#8220;Kan di telepon tadi aku udah ngomong sama kamu kalau aku mau jemput kamu di sekolah. Lagian kampusku kan deket sini, jadi ya sekalian aja aku mampir sini begitu kelar kuliah&#8221; cerocos Juna sambil membenarkan letrak tas ransel yang dijinjingnya.</p>
<p style="text-align:center;">***</p>
<p>&#8220;Oh jadi ini yang namanya Juna????&#8221; Bimo langsung mendekatiku dan menatap lekat Juna yang masih nongkrong di motor gedenya. &#8220;Lumayan cakep juga, heheheheheheh&#8230;.&#8221;.</p>
<p>&#8220;Hahahahah&#8230; terima kasih.. kamu bisa aja. Kamu temennya Tito ya?&#8221;<br />
Juna langsung belagak sok akarab sama Bimo. Begitupun Bimo yang gak kalah sok akarab sama dia. Yaelah terus gue dikacangin gini.</p>
<p>&#8220;Yepp. Gue sahabat deketnya Tito.&#8221; cetus Bimo mantap.</p>
<p>&#8220;Ohh&#8230;. sudah lama kenal dia? Kog kamu bisa tahan sih temenan sama cowok cerewet dan nyebelin kayak Tito, hahahahh&#8230;..&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya gitulahh&#8230;&#8230; heheheh.&#8221; Bimo dan Juna langsung tertawa serentak begitu sukses mempetmalukanku. Aku langsung nyegir sebel sama mereka berdua.</p>
<p>&#8220;STOPP.. STOOPPP&#8230;.. GAK SOPAN BANGET SIH NGOMONGIN ORANG YANG ADA DI DEPAN KALIAN SENDIRI&#8230;..&#8221; Cetusku sebal.</p>
<p>&#8220;Hahahah&#8230; ya habisnya elo bengong aja dari tadi. &#8221; ucap Bimo begitu sadar kalau aku masih diantara mereka berdua.</p>
<p>&#8220;Huh.. daar nyebelinn&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Hahahah&#8230;.. yaudah deh kalo gitu. Lo jalan aja sama Juna, biar gue sendirian aja ke Gramednya. &#8221; Tukas Bimo kemudian sembari mengerling penuh konspirasi pada Juna. &#8220;Nah Jun, nitip Tito ya, kalo dia nakal dan gak bisa dikontrol, lu karungin aja dia trus lu buang deh ke jurang, ahahahahahah&#8230;..&#8221; sambungnya.</p>
<p>&#8220;Hahahahah&#8230;. siap!&#8221;</p>
<p>&#8220;Yeee&#8230; emangnya gue sayuran maen dikarungin aja&#8230;.&#8221; ucapku sewot.</p>
<p>&#8220;Hahhahah&#8230;. udah ah, gue cabut dulu ya, keburu kesorean nih, gue cabut dulu ya&#8230;. bye Tit, bye Jun&#8230;.&#8221;</p>
<p>&#8220;Bye Bim.&#8221; jawab Juna pada Bimo yang langsung ngacir pergi keluar gerbang. meninggalkan aku yang bersungut- sungut menatap malas pada Juna. Sekali lagi Juna nyengir gak jelas.</p>
<p>&#8220;Temen kamu lucu juga ya? hahah&#8230;&#8221; Juna terus saja nyengir.</p>
<p>&#8220;Udah ah&#8230; sekarang lo mau ajak gue kemana&#8230;. buruannn&#8230; kata bunda gue gak boleh pulang malem- malem.&#8221;. Tanpa basa- basi aku langsung nangkring ke jok belakang motor Juna. Dan Juna cuma memandangku datar.</p>
<p>&#8220;Kamu gak apa- apa kan naik motor begini&#8221;. ucap Juna tiba- tiba.</p>
<p>&#8220;Ya gak papa lah, emangnya kenapa?&#8221;</p>
<p>&#8220;Hehee&#8230; nggak sih, aku kan gak biasa bawa mobil ke kampus. jadi aku bawa motor deh hari ini. Kirain kamu gak suka kalo naik motor.&#8221;</p>
<p>&#8220;Enggaklah&#8230;. yaudah buruan kita berangkat.&#8221;</p>
<p>&#8220;Oke&#8230;. tapi&#8230;.&#8221;</p>
<p>&#8220;Tapi apa?&#8221; Aku melotot.</p>
<p>&#8220;Cium dulu dongg&#8230;..&#8221;</p>
<p>&#8220;OGAAHHHH!!! ah Juna gila! kalau diliatin temenku gimana&#8230; ah nyebelinn&#8230;&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Hahahahh&#8230;. iya.. iya&#8230; aku kan cuma bercanda, hhehe.&#8221;</p>
<p>Lantas Juna mulai menekan tombol starter pad amotor ninjanya. Dan perlahan motor yang kami tumpangi mulai bergerak meninggalkan sekolahku dan melaju diantara jalanan padat ibukota. Hanya kebisuan uyang meliputi kami berdua sepanjang perjalanan. Aku gak tahu harus ngomong apa. Begitupun Juna. Dia sama sekali tak berniat memulai obrolan.</p>
<p>&#8220;Udah pegangan aja Tit, gak apa- apa kog.&#8221; Juna tiba- tiba aja menyadarkanku. Aku dari tadi ragu- ragu mau pegangan ke pinggul Juna. Takut gimana gitu. Tapi setelah Juna ngomong demikian, yaudah, akhirnya kuberanikan diri buat berpegangan ke pinggulnya.</p>
<p>&#8220;I.. IYA&#8221;. jawabku pelan sambil merekatkanbadanku ke badan Juna.</p>
<p style="text-align:center;">
***</p>
<p>ckitt&#8230;.<br />
Motor ninja warna hijau itu berhenti pada sebuah trotoar di dekat jembatan ringroad yang terletak di tepian sawah. Mungkin kalian gak percaya kalau di Jakarta masih ada sawah. Aku juga awalnya gak percaya kalau ada. Tapi sumpah,kami beneran berhenti di dekat sebuah jembatan fly over yang disekelilingnya terdapat sawah nan hjau. Tepat di dekat kami, ada tangga yang naik menuju jembatan.</p>
<p>&#8220;Tempat apa ini?&#8221; tanyaku penasaran sambil menyerahkan helm yang tadi kupakai pada Juna.</p>
<p>&#8220;Sudahlah, ayo kita naik dan kau akan tahu.&#8221; Juna langsung bergegas mengunci motornya yang ia biarkan terparkir di trotoar jalan. Kemudia segera ia melangkahkan kaki menaiki anak tangga yang menghubungkan trotoar dengan jembatan fly over yang berada diatas jalanan.</p>
<p>Aku rada ngos- ngosan menapaki anak tangga yang ada sekitar lima puluhan itu. Ditambah udara panas yang bikin baju seragamku basah oleh keringat. Namun setelah perjuangan panjang aku mengejar Juna, akhirnya aku berhasil juga samapai diatas jembatan<em> fly over</em> itu. dan tiba- tiba, aku terkesiap melihat apa yang terlihat dari atas jembatan sana. Demi Tuhan pemandangan dari atas jembatan ini indah banget!!!!!!!!!!!. Tepat dibawah jembatan itu ada rel kereta api yang seakan membelah bagian bawah<br />
<em>fly over.</em> Dan dari sana, jika kamu datang di sore hari, maka kamu akan bisa melihat sunset yang terjadi tepat diujung rel kereta apai yang habis di bagian barat. Sumpah ini keren bangettttt!!!! aku hanya melongo memandangi keindahan alam yang sebelumnya tak pernah aku lihat. Kekagumanku semakin bertambah tatkala ada kereta api yang lewat tepat dibawah jembatan. Gak tahu kenapa rasanya keren dan indah banget. Mungkin karena aku terlalu udik gara- gara gak pernah ngeli8hat kereta lewat dari bawah jembatan fly over.</p>
<p>&#8220;Kamu suka sama tempat ini ya?&#8221; . Juna setengah terenyum melirik kepadaku.</p>
<p>&#8220;Suka bangetttt&#8230;&#8230;&#8221; Jawabku singkat sambil menempelkan badanku pada besi pembatas jembatan, mencoba melihat kebawah dengan lebih leluasa.<br />
&#8220;Kog kamu bisa tahu tempat sekeren ini sihh&#8230;&#8230;&#8221;</p>
<p>&#8220;Hahahah.&#8221; Juna tertawa tipis. &#8220;Ini tempat favoritku saat masih pacaran sama Dino.&#8221;</p>
<p>Sesaat aku cuma terdiam mendengarkan penjelasan Juna. Sebenarnya rada bete juga sih ngedenger nama tuh cowok alay disebut- sebut. Tapi yasudahlah, Juna berhak bercerita, dan aku juga berkewajiban untuk mendengarkannya.</p>
<p>&#8220;Tempat ini keren ya?&#8221;. Bisik Juna perlahan sambil mengeluarkan sebuah kamera digital dari dalam tasnya. Aku mengangguk. Sesaat ia tampak sibuk memotret dari berbagai sisi fly over, sementara aku hanya memperhatikan tanpa berkomentar sedikitpun. Aku tahu, ini tempat yang begitu berarti bagi Juna.</p>
<p>&#8220;Jun..???&#8221;. Desisku tiba-tiba.</p>
<p>&#8220;Iya&#8230;&#8221;. Jawab Juna singkat tanpa mengalihkan perhatiannya dari kamera.</p>
<p>&#8220;Lo&#8230; Sayang banget ya sama Dino?&#8221;. Oops! Aku keceplosan.</p>
<p>&#8220;Hah?&#8221;. Tiba- tiba aja Juna memalingkan wajahnya dan menatap aneh kepadaku. &#8220;Kenapa kamu tiba- tiba nanya kayak gitu?&#8221;</p>
<p>Aku langsung gelagapan. Duh, mampus gue, musti jawab apa nih.</p>
<p>&#8220;Ehh&#8230; Eng&#8230; Enggak papa siihh&#8230; Cuma kan kayaknya kamu mengheyati banget berada di tempat ini. Kamu pasti keinget Dino terus ya?&#8221; akhirnya meluncur juga kata- kata dari bibirku.</p>
<p>&#8220;Hahaha&#8230;. Buat apa aku terus mengingat- ingat Dino? Udah gak ada gunanya..&#8221;</p>
<p>Aku hanya terdiam, Juna melanjutkan perkataannya.</p>
<p>&#8220;Aku kesini karena memang aku suka sama tempat ini, gak ada hubungannya sama Dino.&#8221;</p>
<p>&#8220;Ohh&#8230; &#8221; mulutku membulat.</p>
<p>&#8220;Lagipula kan aku sekarang disini sama kamu, buat apa aku terus mikirin Dino? Hahaha&#8230; Bukannya kata kamu dia itu mahluk planet? Hahahah&#8221;.</p>
<p>&#8220;Hahahah&#8230;&#8221; aku ikut tertawa dengan Juna. Aku tak tahu kenapa tiba- tiba saja aku jadi ikut terbawa suasana. Padahal tadi aku dongkol banget sama Juna. Tapi mendadak perasaan itu lenyap seperti kertas yang dibakar. Aneh. Perlahan aku mulai nyaman dengan kehadiran Juna di sampingku.</p>
<p>&#8220;Bukankah orang bilang kalau patah satu, maka akan tumbuh seribu? &#8220;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/duniakeciltito.wordpress.com/73/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/duniakeciltito.wordpress.com/73/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/duniakeciltito.wordpress.com/73/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/duniakeciltito.wordpress.com/73/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/duniakeciltito.wordpress.com/73/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/duniakeciltito.wordpress.com/73/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/duniakeciltito.wordpress.com/73/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/duniakeciltito.wordpress.com/73/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/duniakeciltito.wordpress.com/73/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/duniakeciltito.wordpress.com/73/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/duniakeciltito.wordpress.com/73/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/duniakeciltito.wordpress.com/73/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/duniakeciltito.wordpress.com/73/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/duniakeciltito.wordpress.com/73/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=duniakeciltito.wordpress.com&amp;blog=31697152&amp;post=73&amp;subd=duniakeciltito&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://duniakeciltito.wordpress.com/2012/02/01/me-him-lady-gaga-7/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e2aafea6a70a86db7cbe62af6500729b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">bagustito20</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
